๐๐ฎ๐น๐ถ๐ฝ๐๐๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฒ๐๐.๐ฐ๐ผ๐บ, ๐๐ฎ๐ฑ๐๐ป๐ด – Ketua DPRD Kabupaten Badung, Gusti Anom Gumanti, menghadiri rangkaian Peringatan Hari Air Sedunia (World Water Day) 2026 di Pantai Kelan, Kecamatan Kuta, Jumat (27/3/2026). Dalam momentum tersebut, DPRD Badung menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh kebutuhan anggaran penanganan masalah sampah di “Bumi Keris”.
Kehadiran Gusti Anom Gumanti turut didampingi oleh dua anggota DPRD Badung, yakni Made Sada dan Nyoman Graha Wicaksana. Selain menggelar apel, peringatan Hari Air Sedunia ini juga diisi dengan aksi gotong royong (korve) membersihkan area pantai dari tumpukan sampah kiriman.
Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta beserta istri Nyonya Yunita Alit Sucipta, jajaran Forkopimda Badung, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung Made Rai Warastuthi, jajaran kepala OPD, serta perwakilan TNI/Polri, relawan, dan ratusan siswa.
Di sela-sela kegiatan bersih-bersih, Anom Gumanti mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersinergi dengan pemerintah dalam menuntaskan persoalan sampah.
โKita sudah melaksanakan korve secara rutin. Kita ingin menunjukkan kepada masyarakat agar selalu bersama-sama pemerintah menangani masalah sampah kita yang ada di Badung,โ ujar politisi PDI Perjuangan asal Dapil Kuta tersebut.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐น๐ผ๐น๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฆ๐๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐๐ธ๐๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป
Anom menegaskan, persoalan sampah harus menjadi prioritas seluruh pihak. Menurutnya, penanganan sampah tidak boleh hanya sekadar diangkut, tetapi harus memiliki sistem pengelolaan yang terukur dan tuntas.
Untuk merealisasikan sistem tersebut, Anom memastikan jajaran legislatif siap memberikan dukungan penuh kepada eksekutif, khususnya dari sisi pendanaan.
โSaya kira Pak Bupati dengan Pak Wakil (Wabup) sudah mengambil langkah-langkah strategis untuk itu. Tentu kami di Dewan, sesuai dengan tupoksi kami terutama masalah budgeting-nya, akan kami dukung. Berapa pun anggaran yang dibutuhkan untuk sampah ini, kami akan dukung,โ tegasnya.
Sesuai regulasi, Anom menyebut bahwa penanganan sampah paling efektif harus diselesaikan dari sumbernya, yakni di tingkat rumah tangga. Masyarakat diminta disiplin memilah sampah mulai dari kategori organik, anorganik, hingga sampah B3.
Ke depan, pihaknya juga akan mendorong pihak eksekutif untuk memberikan bantuan sarana dan prasarana kepada masyarakat, seperti pengadaan tong sampah berbeda warna, tong komposter, hingga pembuatan teba modern di setiap rumah tangga. Hal ini dinilai mampu menekan volume residu yang harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
๐๐ป๐๐ถ๐๐ถ๐ฝ๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ฟ๐๐ฟ๐ฎ๐ ๐ฆ๐ฎ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ฟ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป
Terkait fenomena sampah kiriman yang kerap mengepung pantai-pantai di Kuta setiap tahunnya, Anom menyebut hal itu sebagai siklus alam musim angin barat yang tak bisa dihindari, namun tetap harus diselesaikan.
Sesuai instruksi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), sampah kiriman di kawasan Kuta telah diizinkan untuk dibuang ke TPA Suwung. Pemkab Badung sendiri telah mengerahkan sejumlah alat berat seperti loader yang kini tinggal dioptimalkan operasionalnya.
Kendati demikian, Anom tak menampik adanya kendala teknis di lapangan. Di Kecamatan Kuta, keterbatasan lahan untuk penampungan sementara kerap menjadi kendala saat volume sampah membludak, sehingga terpaksa ditimbun di pantai dan merusak estetika.
Masalah lainnya adalah panjangnya rantai distribusi pembuangan sampah ke TPA Suwung.
โIni kadang-kadang cara membuang ke TPA perlu waktu. Sekali berangkat truk kita, di sana (bisa) sampai satu hari sehingga tak bisa kembali lagi. Belum lagi ada kemacetan. Ini yang perlu kita pikirkan ke depan bersama-sama,โ papar Anom.
Untuk mencari jalan keluar permanen, DPRD Badung berencana melibatkan peran akademisi, tenaga ahli, dan pakar lingkungan.
โKalau dari kita, tentu ada keterbatasan untuk menangani hal-hal seperti ini. Karena tidak main-main sampahnya, berton-ton dan setiap jam bertambah di musim angin barat itu,โ pungkasnya (aa).





