𝗕𝗮𝗹𝗶𝗽𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻𝗲𝘄𝘀.𝗰𝗼𝗺, 𝗗𝗲𝗻𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿 – Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan capaian ekonomi Bali sepanjang tahun 2025 yang mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 5,82 persen. Angka ini menjadi rekor tertinggi pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata dalam tujuh tahun terakhir.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster di sela-sela mendampingi Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka meninjau harga bahan pokok di Pasar Badung, Denpasar, Jumat (13/2/2026).
Menurut Gubernur Koster, pertumbuhan 5,82 persen tersebut menempatkan Bali di posisi lima besar provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Posisi Bali hanya berada di bawah daerah-daerah penghasil tambang, seperti Maluku Utara yang terdongkrak industri smelter.
“Bagi kita di Bali, angka 5,82 persen ini tertinggi dalam waktu tujuh tahun. Yang membanggakan, inflasinya rendah di 2,91 persen. Artinya ekosistem ekonomi kita bagus dan sehat,” ujar Gubernur Koster kepada awak media di Pasar Badung.
Gubernur Koster merinci, indikator kesejahteraan masyarakat juga membaik secara signifikan. Pendapatan per kapita Bali naik menjadi Rp 72,6 juta, sementara tingkat kemiskinan turun menjadi 3,42 persen. Ketimpangan pendapatan antarwilayah (Gini Ratio) juga menyempit menjadi 0,33.
𝗥𝗲𝗸𝗼𝗿 𝗞𝘂𝗻𝗷𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗪𝗶𝘀𝗮𝘁𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗳𝗿𝗮𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘁𝘂𝗿
Pertumbuhan ekonomi tersebut tidak lepas dari pulihnya sektor pariwisata yang menyumbang 66 persen terhadap perekonomian Bali. Gubernur Koster menyebut, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2025 menembus angka 7,5 juta orang.
“Ini tertinggi, belum pernah mencapai angka setinggi itu. Jadi meskipun di media (disebut) sepi atau ada masalah, ternyata minat wisata ke Bali itu tinggi sekali,” ujar beliau.
Kendati demikian, Gubernur Koster mengakui bahwa lonjakan pariwisata ini belum diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai. Ia menyoroti masalah kemacetan, pengelolaan sampah, ketersediaan air bersih, hingga perilaku wisatawan yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar.
“Tugas kita sekarang adalah menjaga agar ekosistem pariwisata tetap bagus. Kita sangat tertinggal di infrastruktur, transportasi, serta pengelolaan sampah. Kalau tidak dipercepat, kualitas destinasi Bali akan tertinggal dibandingkan negara tetangga,” tegasnya.
𝗠𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝘃𝗲𝗻𝘀𝗶 “𝗔𝗯𝗻𝗼𝗿𝗺𝗮𝗹” 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗣𝘂𝘀𝗮𝘁
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Koster juga menyinggung hasil pertemuan dengan Komisi V DPR RI sebelumnya. Ia menekankan besarnya kontribusi devisa pariwisata Bali bagi nasional yang mencapai Rp 167 triliun pada 2024, atau sekitar 53,6 persen dari total devisa pariwisata Indonesia.
Oleh karena itu, Gubernur Koster meminta agar pembangunan infrastruktur di Bali tidak disamakan dengan daerah lain, mengingat beban Bali sebagai wajah pariwisata Indonesia.
“Pembangunan infrastruktur di Bali harus dilakukan oleh pemerintah dengan cara ‘abnormal’. Kemarin pimpinan dan anggota Komisi V DPR RI sudah sangat mendukung rencana percepatan pembangunan infrastruktur Bali untuk lima tahun ke depan,” pungkas Gubernur Koster (red/aa).





