• Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Profile
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Friday, May 1, 2026
Balipustakanews
  • Home
  • News
  • Bali
  • Teknologi
  • Ekbis
  • Health
  • Hiburan
  • Seni & Budaya
  • Lifestyle
  • Seksologi
  • Zodiak
  • Opini
  • Review
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Bali
  • Teknologi
  • Ekbis
  • Health
  • Hiburan
  • Seni & Budaya
  • Lifestyle
  • Seksologi
  • Zodiak
  • Opini
  • Review
No Result
View All Result
Balipustakanews
Home Pahlawan

HIKAYAT GANYANG YANG SETENGAH HATI

Di rimba Kalimantan, peluru berdesing dan darah tumpah. Namun di Jakarta, para jenderal bermain dua kaki. Sebuah ambisi besar Bung Karno yang kandas oleh intrik politik dalam negeri dan pergeseran kuasa.

red/aa by red/aa
February 17, 2026
in Pahlawan, Pendidikan
HIKAYAT GANYANG YANG SETENGAH HATI
Share Share Share

๐—ž๐—”๐—•๐—จ๐—ง belum benar-benar hilang dari hutan perbatasan Kalimantan Utara, medio 1964. Di sela-sela rimbun pepohonan yang lembap, ratusan sukarelawan Indonesia merayap senyap. Mereka bukan tentara reguler, melainkan milisiโ€”sebagian besar etnis Tionghoa yang tergabung dalam Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Paraku. Misi mereka satu: menyusup, mengacau, dan jika perlu, mati demi seruan yang menggema dari Jakarta: “Ganyang Malaysia!”

Di Istana Merdeka, Presiden Soekarno sedang berada di puncak kemarahannya. Bagi Sang Putra Fajar, pembentukan Federasi Malaysia pada 16 September 1963 bukanlah kemerdekaan murni, melainkan sebuah proyek boneka Inggrisโ€”apa yang ia sebut sebagai Nekolim (Neokolonialisme dan Imperialisme)โ€”yang bertujuan mengepung Indonesia. Luka lama akibat bantuan Inggris dan Malaya kepada pemberontak PRRI di Sumatera tahun 1958 kembali berdenyut. Soekarno merasa dikhianati; janji survei PBB diabaikan, dan Tunku Abdul Rahman dianggapnya telah “melangkahi” kesepakatan Manila.

Maka, pada 3 Mei 1964, pekik “Dwikora” (Dwi Komando Rakyat) membahana. Jutaan rakyat mendaftar sukarela. Semangat nasionalisme dibakar hingga titik didih. Namun, di balik heroisme pidato Bung Karno, ada drama lain yang dimainkan dengan senyap oleh para petinggi Angkatan Darat.

ArtikelTerhubung

Membedah Filosofi “Ngempu Bali”, Jro Eka Sebut Masa Depan Pulau Dewata Bergantung pada Kualitas SDM

Membedah Filosofi “Ngempu Bali”, Jro Eka Sebut Masa Depan Pulau Dewata Bergantung pada Kualitas SDM

April 26, 2026
Undiksha Resmikan Fast Track Mahasiswa Berprestasi Bisa Tempuh S1-S2 Lebih Singkat

Undiksha Resmikan Fast Track: Mahasiswa Berprestasi Bisa Tempuh S1-S2 Lebih Singkat

November 28, 2025

๐—ฆ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—น

Perang terbuka melawan Inggris dan persemakmurannya (Australia dan Selandia Baru) adalah mimpi buruk logistik bagi militer Indonesia. Namun, bukan hanya soal kalah menang di medan tempur. Para jenderal di Markas Besar Angkatan Darat, termasuk Ahmad Yani dan Soeharto, mencium bahaya politik.

Jika konfrontasi ini meledak menjadi perang total, Indonesia akan semakin bergantung pada pasokan senjata dari Blok Timur. Hal ini otomatis akan menguntungkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sedang mesra-mesranya dengan Soekarno, sekaligus menggerus pengaruh tentara. Posisi mereka terjepit: menolak perintah Presiden berarti pembangkangan, melaksanakannya sepenuh hati berarti memberi angin pada komunis.

Maka, strategi “main mata” pun digelar. Operasi militer tetap dijalankanโ€”pasukan elit RPKAD (kini Kopassus) dan KKO (Marinir) dikirim menyusup ke Semenanjung dan Borneoโ€”namun dengan instruksi setengah hati. Di belakang layar, operasi intelijen digelar untuk membuka jalur rahasia dengan Kuala Lumpur, memastikan eskalasi tidak sampai memicu perang terbuka yang merugikan posisi militer di Jakarta.

๐—•๐—ผ๐—บ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ข๐—ฟ๐—ฐ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ฑ ๐—ฅ๐—ผ๐—ฎ๐—ฑ

Meski para jenderal ragu, para prajurit di lapangan bergerak tanpa keraguan. Puncaknya adalah insiden 10 Maret 1965. Dua anggota KKO, Usman dan Harun, berhasil menyusup ke jantung Singapura. Sasaran mereka berubah dari instalasi listrik ke Gedung MacDonald House di Orchard Road.

Blaarr! Ledakan dahsyat itu merenggut tiga nyawa warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Singapura panik. Lee Kuan Yew meradang. Aksi sabotase ini, ironisnya, justru mempercepat retaknya hubungan Singapura dengan Kuala Lumpur, yang berujung pada keluarnya Singapura dari Federasi Malaysia pada Agustus 1965. Satu tujuan Soekarno tercapai: Malaysia “pecah”, meski bukan hancur lebur seperti yang ia inginkan.

๐—”๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐—ง๐—ฟ๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐˜€ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฆ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ป

Namun, sejarah berbelok tajam pada malam jahanam 30 September 1965 di Jakarta. Peristiwa G30S membalikkan papan catur politik. Soekarno tergerus, Soeharto naik panggung. Prioritas berubah drastis. Konfrontasi yang menguras ekonomi negara itu harus dihentikan.

Di bawah rezim Orde Baru yang baru seumur jagung, Menteri Luar Negeri Adam Malik dikirim untuk berjabat tangan dengan Tunku Abdul Razak. Pada 11 Agustus 1966, Jakarta Accord ditandatangani. Konfrontasi resmi berakhir. Hubungan diplomatik yang putus, disambung kembali.

Lantas, bagaimana nasib para sukarelawan di garis depan? Inilah epilog yang paling getir.

Pasukan PGRS dan Paraku di Kalimantan, yang sebelumnya dilatih dan dipersenjatai oleh Indonesia untuk mengganyang Malaysia, tiba-tiba mendapati diri mereka berstatus “musuh”. Cap komunis disematkan. Mereka yang dulu dipuja sebagai patriot Dwikora, kemudian diburu dan ditumpas oleh tentara Indonesia sendiriโ€”tentara yang dulu mengirim mereka ke sana.

Sementara di Singapura, Usman dan Harun menanti ajal. Meski hubungan diplomatik telah pulih, Singapura menolak grasi. Pada pagi buta Oktober 1968, tiang gantungan mengakhiri hidup dua prajurit itu.

Ambisi “Indonesia Raya” atau “Melayu Raya” yang sempat didimpikan para pendiri bangsa sejak 1945, pada akhirnya harus terkubur di bawah realitas politik Perang Dingin dan kepentingan kekuasaan. Sejarah mencatat, Ganyang Malaysia adalah sebuah perang yang dimulai dengan pekik kemarahan, namun diakhiri dengan jabat tangan para elit, menyisakan nisan-nisan tak bernama di belantara Borneo (red/aa).

Tags: Ganyang MalaysiaHubungan Indonesia MalaysiaJakarta Accord 1966KKO MarinirKonfrontasi Indonesia MalaysiaMapilindoNekolimOperasi DwikoraPasukan Elite TNIPengeboman MacDonald HousePGRS ParakuPolitik Luar Negeri IndonesiaPresiden SoekarnoSejarah IndonesiaSejarah Kemerdekaan MalaysiaSejarah Militer IndonesiaSejarah Orde LamaSejarah Perang Dingin Asia TenggaraSengketa Sabah SarawakSoeharto dan KonfrontasiTunku Abdul RahmanUsman dan Harun
ShareSendTweet
Next Post
Soroti Fenomena “Nas Berit” di Bali, Nyoman Parta: Stop Istilah Rasis, Itu Tidak Produktif

Soroti Fenomena "Nas Berit" di Bali, Nyoman Parta: Stop Istilah Rasis, Itu Tidak Produktif

Gubernur Koster: โ€œTidak Ada Lagi Ketegangan, Yang Ada Jabat Tangan dan Kebahagiaanโ€
Bali

Gubernur Koster: โ€œTidak Ada Lagi Ketegangan, Yang Ada Jabat Tangan dan Kebahagiaanโ€

by red/aa
May 1, 2026
0

๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฒ๐˜„๐˜€.๐—ฐ๐—ผ๐—บ, ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ - Suasana sejuk dan penuh keakraban mewarnai peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Bali. Berbeda dari...

Read more
Gubernur Koster Puji Aksi Panggung ASN, Tekankan Kebanggaan Produk Lokal di Dekranasda Fashion Day
Bali

Gubernur Koster Puji Aksi Panggung ASN, Tekankan Kebanggaan Produk Lokal di Dekranasda Fashion Day

May 1, 2026
Ketua Forum PUSPA Bali: Remaja Harus Fokus Belajar, Jauhi Bullying dan Pernikahan Dini
Badung

Ketua Forum PUSPA Bali: Remaja Harus Fokus Belajar, Jauhi Bullying dan Pernikahan Dini

April 30, 2026
Balipustakanews

Berita Online Bali Terkini & Terpercaya Berita Ekonomi, Bisnis, Wisata, Budaya Bali, Politik, Teknologi, Hukum, Kriminal, Pendidikan di Bali, Nasional & Dunia

Follow Us

Kategori Berita

  • Apps
  • Arak Bali
  • Automotive
  • Badung
  • Bahan Pokok
  • Bali
  • Bangli
  • Bawaslu badung
  • Bisnis
  • Buleleng
  • COK ACE
  • Covid 19
  • Denpasar
  • Edukasi
  • Ekbis
  • Fashion
  • FIFA-U20
  • Film
  • Gadget
  • Gaming
  • Gianyar
  • Gubernur Bali
  • Hari Pahlawan
  • Health
  • Health
  • Hiburan
  • Hukrim
  • I Gusti Ngurah Rai
  • Investasi dan Perekonomian Bali
  • Jakarta
  • Jembrana
  • Jepang
  • Karangasem
  • Kawasan Pura Besakih
  • KBLBB
  • KDRT
  • Kebakaran TPA
  • Kios Pedagang
  • Klungkung
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Liga Kampung
  • Mangupura
  • Margarana
  • Medan
  • Musik
  • Nasional
  • News
  • Ngayah
  • Ny putri koster
  • Opini
  • Pahlawan
  • Paritrana Award 2023
  • Pemilu
  • Pemilu 2024
  • Pemprov Bali
  • Penanganan Sampah
  • Pendidikan
  • Pengolahan Sampah
  • Perda Provinsi Bali
  • Perkemahan Pramuka
  • Perlindungan Anak
  • Pilpres 2024
  • Pj Gubernur Bali
  • Politik
  • Posyandu
  • Pramuka
  • Presiden RI
  • Program Pengelolaan sampah berbasis sumber
  • Pulau Samosir
  • Pura Agung Besakih
  • Review
  • Seksologi
  • Seni & Budaya
  • senimam
  • SP4M-LAPOR
  • Sports
  • Startup
  • Stunting
  • Tabanan
  • Teknologi
  • TP PKK
  • Travel
  • U – 20
  • UMKM
  • Warisan Leluhur
  • World
  • Zodiak

Berita Terbaru

Gubernur Koster: โ€œTidak Ada Lagi Ketegangan, Yang Ada Jabat Tangan dan Kebahagiaanโ€

Gubernur Koster: โ€œTidak Ada Lagi Ketegangan, Yang Ada Jabat Tangan dan Kebahagiaanโ€

May 1, 2026
Gubernur Koster Puji Aksi Panggung ASN, Tekankan Kebanggaan Produk Lokal di Dekranasda Fashion Day

Gubernur Koster Puji Aksi Panggung ASN, Tekankan Kebanggaan Produk Lokal di Dekranasda Fashion Day

May 1, 2026
Ketua Forum PUSPA Bali: Remaja Harus Fokus Belajar, Jauhi Bullying dan Pernikahan Dini

Ketua Forum PUSPA Bali: Remaja Harus Fokus Belajar, Jauhi Bullying dan Pernikahan Dini

April 30, 2026
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Profile
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Kontak

ยฉ 2020 Balipustakanews - Berita Bali Terkini & Terpercaya

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Bali
  • Teknologi
  • Ekbis
  • Health
  • Hiburan
  • Seni & Budaya
  • Lifestyle
  • Seksologi
  • Zodiak
  • Opini
  • Review

ยฉ 2020 Balipustakanews - Berita Bali Terkini & Terpercaya