๐๐๐๐จ๐ง belum benar-benar hilang dari hutan perbatasan Kalimantan Utara, medio 1964. Di sela-sela rimbun pepohonan yang lembap, ratusan sukarelawan Indonesia merayap senyap. Mereka bukan tentara reguler, melainkan milisiโsebagian besar etnis Tionghoa yang tergabung dalam Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Paraku. Misi mereka satu: menyusup, mengacau, dan jika perlu, mati demi seruan yang menggema dari Jakarta: “Ganyang Malaysia!”
Di Istana Merdeka, Presiden Soekarno sedang berada di puncak kemarahannya. Bagi Sang Putra Fajar, pembentukan Federasi Malaysia pada 16 September 1963 bukanlah kemerdekaan murni, melainkan sebuah proyek boneka Inggrisโapa yang ia sebut sebagai Nekolim (Neokolonialisme dan Imperialisme)โyang bertujuan mengepung Indonesia. Luka lama akibat bantuan Inggris dan Malaya kepada pemberontak PRRI di Sumatera tahun 1958 kembali berdenyut. Soekarno merasa dikhianati; janji survei PBB diabaikan, dan Tunku Abdul Rahman dianggapnya telah “melangkahi” kesepakatan Manila.
Maka, pada 3 Mei 1964, pekik “Dwikora” (Dwi Komando Rakyat) membahana. Jutaan rakyat mendaftar sukarela. Semangat nasionalisme dibakar hingga titik didih. Namun, di balik heroisme pidato Bung Karno, ada drama lain yang dimainkan dengan senyap oleh para petinggi Angkatan Darat.
๐ฆ๐ถ๐บ๐ฎ๐น๐ฎ๐ธ๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ฃ๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐น
Perang terbuka melawan Inggris dan persemakmurannya (Australia dan Selandia Baru) adalah mimpi buruk logistik bagi militer Indonesia. Namun, bukan hanya soal kalah menang di medan tempur. Para jenderal di Markas Besar Angkatan Darat, termasuk Ahmad Yani dan Soeharto, mencium bahaya politik.
Jika konfrontasi ini meledak menjadi perang total, Indonesia akan semakin bergantung pada pasokan senjata dari Blok Timur. Hal ini otomatis akan menguntungkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sedang mesra-mesranya dengan Soekarno, sekaligus menggerus pengaruh tentara. Posisi mereka terjepit: menolak perintah Presiden berarti pembangkangan, melaksanakannya sepenuh hati berarti memberi angin pada komunis.
Maka, strategi “main mata” pun digelar. Operasi militer tetap dijalankanโpasukan elit RPKAD (kini Kopassus) dan KKO (Marinir) dikirim menyusup ke Semenanjung dan Borneoโnamun dengan instruksi setengah hati. Di belakang layar, operasi intelijen digelar untuk membuka jalur rahasia dengan Kuala Lumpur, memastikan eskalasi tidak sampai memicu perang terbuka yang merugikan posisi militer di Jakarta.
๐๐ผ๐บ ๐ฑ๐ถ ๐ข๐ฟ๐ฐ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ฑ ๐ฅ๐ผ๐ฎ๐ฑ
Meski para jenderal ragu, para prajurit di lapangan bergerak tanpa keraguan. Puncaknya adalah insiden 10 Maret 1965. Dua anggota KKO, Usman dan Harun, berhasil menyusup ke jantung Singapura. Sasaran mereka berubah dari instalasi listrik ke Gedung MacDonald House di Orchard Road.
Blaarr! Ledakan dahsyat itu merenggut tiga nyawa warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Singapura panik. Lee Kuan Yew meradang. Aksi sabotase ini, ironisnya, justru mempercepat retaknya hubungan Singapura dengan Kuala Lumpur, yang berujung pada keluarnya Singapura dari Federasi Malaysia pada Agustus 1965. Satu tujuan Soekarno tercapai: Malaysia “pecah”, meski bukan hancur lebur seperti yang ia inginkan.
๐๐ธ๐ต๐ถ๐ฟ ๐ง๐ฟ๐ฎ๐ด๐ถ๐ ๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฆ๐๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐น๐ฎ๐๐ฎ๐ป
Namun, sejarah berbelok tajam pada malam jahanam 30 September 1965 di Jakarta. Peristiwa G30S membalikkan papan catur politik. Soekarno tergerus, Soeharto naik panggung. Prioritas berubah drastis. Konfrontasi yang menguras ekonomi negara itu harus dihentikan.
Di bawah rezim Orde Baru yang baru seumur jagung, Menteri Luar Negeri Adam Malik dikirim untuk berjabat tangan dengan Tunku Abdul Razak. Pada 11 Agustus 1966, Jakarta Accord ditandatangani. Konfrontasi resmi berakhir. Hubungan diplomatik yang putus, disambung kembali.
Lantas, bagaimana nasib para sukarelawan di garis depan? Inilah epilog yang paling getir.
Pasukan PGRS dan Paraku di Kalimantan, yang sebelumnya dilatih dan dipersenjatai oleh Indonesia untuk mengganyang Malaysia, tiba-tiba mendapati diri mereka berstatus “musuh”. Cap komunis disematkan. Mereka yang dulu dipuja sebagai patriot Dwikora, kemudian diburu dan ditumpas oleh tentara Indonesia sendiriโtentara yang dulu mengirim mereka ke sana.
Sementara di Singapura, Usman dan Harun menanti ajal. Meski hubungan diplomatik telah pulih, Singapura menolak grasi. Pada pagi buta Oktober 1968, tiang gantungan mengakhiri hidup dua prajurit itu.
Ambisi “Indonesia Raya” atau “Melayu Raya” yang sempat didimpikan para pendiri bangsa sejak 1945, pada akhirnya harus terkubur di bawah realitas politik Perang Dingin dan kepentingan kekuasaan. Sejarah mencatat, Ganyang Malaysia adalah sebuah perang yang dimulai dengan pekik kemarahan, namun diakhiri dengan jabat tangan para elit, menyisakan nisan-nisan tak bernama di belantara Borneo (red/aa).







