๐๐ฎ๐น๐ถ๐ฝ๐๐๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฒ๐๐.๐ฐ๐ผ๐บ, ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐๐ฒ๐บ – Gubernur Bali Wayan Koster resmi memulai babak baru pemugaran pusat spiritual umat Hindu Bali. Restorasi Kawasan Parahyangan di Pura Agung Besakih, yang menjadi titik kosmologi Pulau Dewata, akhirnya dimulai.
Momentum sakral ini ditandai dengan upacara Ngeruak/Mulang Dasar dan peletakan batu pertama Tahap II Paket Pekerjaan Penataan Area Parahyangan di Pura Banua, Besakih, Rendang, Karangasem, Jumat (1/5/2026). Pelaksanaannya bertepatan dengan Rahina Purnama.
Di hadapan para undangan di Wantilan Kesari Warmadewa, Gubernur Koster menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik biasa. Proyek ini adalah restorasi menyeluruh untuk mengembalikan bentuk, struktur, dan nilai asli kawasan suci sesuai pakem arsitektur Bali.
“Ini bukan pembangunan baru, bukan juga rehab biasa. Ini restorasi, membangun kembali dengan tetap mempertahankan keaslian,” tegas Gubernur Koster.
Dari Ketidakteraturan Menuju Harmoni Suci
Restorasi ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi lapangan yang selama puluhan tahun menunjukkan ketidakteraturan. Mulai dari Kori Candi Bentar, penyengker, hingga palinggih, ditemukan perbedaan mencolok dalam hal material, warna, motif, serta ukuran.
Material bangunan sangat bervariasi, mulai dari batu padas, bata merah, hingga beton campuran semen dan pasir dengan kualitas yang tidak seragam. Sebagian bangunan bahkan sudah rusak, berlumut, dan tidak terawat.
โSecara keseluruhan tidak harmonis dan tidak mencerminkan keagungan kawasan suci dengan latar Gunung Agung,โ ungkap Gubernur Koster.
Ia menyebut, ketimpangan ini terjadi karena sebelumnya tidak ada standar baku. Penataan hanya bergantung pada kemampuan masing-masing daerah atau partisipasi umat. Melalui restorasi ini, sebanyak 30 titik suci akan ditata ulang. Rinciannya, 26 titik merupakan areal unsur utama Pura Agung Besakih dan 4 lainnya adalah pura pasemetonan. Prinsip utamanya adalah mengembalikan arsitektur ke pakem Bali asli, menggunakan material seragam berkualitas, serta menyeragamkan ornamen sesuai karakter asli demi mengembalikan harmoni sekala dan niskala.
Proyek Rp1 Triliun Lebih: Dari Parkir hingga Parahyangan
Restorasi Parahyangan ini merupakan tahap kedua dari penataan besar kawasan Besakih. Pada tahap pertama, pemerintah telah menata palemahan melalui pembangunan gedung parkir, fasilitas umat, hingga kios pedagang.
Total anggaran yang digelontorkan untuk keseluruhan penataan lebih dari Rp 1 triliun. Penataan tahap pertama menelan biaya sekitar Rp 911 miliar, yang berasal dari sharing APBN sekitar Rp 430 miliar dan APBD Provinsi Bali sekitar Rp 480 miliar. Pembangunan tahap awal itu tetap berjalan meski di bawah tekanan pandemi Covid-19.
Untuk tahap kedua yang sudah dimulai tahun 2025 dengan biaya Rp 66 miliar, akan dituntaskan pada tahun 2026 dengan tambahan anggaran Rp 203 miliar yang merupakan sharing bersama Pemerintah Kabupaten Badung.
Gubernur Koster menyoroti bahwa perubahan paling nyata dirasakan pada aspek akses dan parkir, yang dulu menjadi sumber persoalan klasik. โDulu krodit sekali. Kendaraan menumpuk, umat tidak bisa masuk, bahkan ada yang sembahyang dari jalan lalu pulang,โ kenangnya.
Kini, dengan sistem parkir terpusat dan pengaturan berbasis kebijakan gubernur, kemacetan yang dulu kerap terjadi saat upacara besar nyaris tidak ditemukan lagi.
Restorasi Bukan Sekadar Proyek, Tapi Laku Spiritual
Lebih jauh, Gubernur Koster mengingatkan bahwa proyek ini tidak boleh dipandang sebagai pekerjaan konstruksi biasa. Ia menekankan bahwa ini adalah linggih stana Ida Bhatara yang harus dikerjakan dengan rasa dan doa, tidak bisa dikerjakan asal-asalan.
โIni linggih stana Ida Bhatara. Harus dikerjakan dengan rasa, dengan doa, tidak bisa asal bangun. Jangan hanya mikir untung. Kalau kualitas dikurangi, hasilnya tidak baik. Ini tempat suci, bukan proyek biasa,โ tegasnya.
Pernyataan itu menjadi pesan keras agar tidak ada kompromi terhadap kualitas dalam pengerjaan kawasan suci tersebut.
Dari Warisan Leluhur Menuju Masa Depan Bali
Di balik megaproyek ini, tersimpan refleksi mendalam tentang Bali sebagai ruang sakral warisan leluhur. Gubernur Koster mengingatkan bahwa Besakih bukan sekadar kawasan religius, melainkan bagian dari sistem kosmologi Bali, Madya Ning Bhuwana, yang terhubung dengan tatanan Padma Bhuwana, Catur Loka Pala, hingga Kahyangan Jagat.
โBali ini bukan tanah biasa. Ini tanah yang disucikan oleh para leluhur. Kita hanya melanjutkan apa yang telah mereka rintis,โ ujarnya.
Ia menegaskan, generasi saat ini memikul tanggung jawab untuk menjaga dan menyempurnakan warisan tersebut agar kualitasnya semakin baik saat diwariskan ke generasi berikutnya.
Tahap Lanjutan: Integrasi Infrastruktur Jalan
Tak berhenti pada Parahyangan, pemerintah telah menyiapkan tahap ketiga, yakni penataan akses menuju Besakih dari arah Bangli, Singaraja, Karangasem, dan Klungkung. Tahap perencanaan dan DED dijadwalkan pada 2027, pembangunan pada 2028, dan penyelesaian pada 2029. Dengan sistem ini, perjalanan umat dari rumah hingga ke pura diharapkan menjadi satu pengalaman spiritual yang utuh, aman, dan nyaman.
Menutup sambutannya, Gubernur Koster menegaskan bahwa restorasi Besakih bukan hanya untuk Bali semata. Dengan target penyelesaian tahap kedua pada November 2026, proyek ini menjadi tonggak penting mengembalikan keagungan Pura Agung Besakih sebagai jantung spiritual yang hidup, baik secara fisik maupun niskala.
โIni bukan hanya untuk Bali, tetapi untuk Indonesia dan dunia,โ pungkasnya. (AA)





