APA yang lebih menakutkan daripada ombak pasang di Pantai Kuta? Jawabannya: ๐ฃ๐ฟ๐ฎ๐ฏ๐ผ๐๐ผ ๐ฆ๐๐ฏ๐ถ๐ฎ๐ป๐๐ผ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐น๐ฎ๐ด๐ถ ๐บ๐ผ๐ฑ๐ฒ “๐ ๐ฎ๐ฐ๐ฎ๐ป ๐๐๐ถ๐ฎ” ๐๐ฎ๐ฎ๐ ๐ฅ๐ฎ๐ธ๐ผ๐ฟ๐ป๐ฎ๐.
Senin lalu, suasana Rakornas Kemendagri 2026 mendadak berubah jadi ajang “uji nyali” bagi para kepala daerah di Bali. Pasalnya, Presiden kita yang satu ini meluapkan kekesalannya melihat tumpukan sampah yang merusak pemandangan pantai di Pulau Dewata. “Wisatawan kabur kalau lihat sampah!” kira-kira begitu inti amarah beliau.
Ya wajar sih Pak Presiden marah. Siapa sih yang nggak keki jauh-jauh mau healing malah lihat botol plastik partying di atas pasir? Tapi, mari kita tarik napas sejenak, seruput kopi, dan dengarkan suara akal sehat dari Bli Nyoman Parta.
๐ฃ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ถ ๐๐๐ ๐๐ผ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ป, ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐น๐ฎ๐ธ๐
Menanggapi kemarahan Pak Presiden, Anggota Komisi III DPR RI, I Nyoman Parta, melempar sebuah logic bomb yang sederhana tapi menohok: Pantai itu bersih, karena pantai nggak pernah memproduksi sampah.
Benar juga. Pasir pantai nggak pernah beli kopi saset, ombak nggak pernah makan mie instan cup, dan karang laut nggak pernah belanja online yang paketnya dibungkus bubble wrap berlapis-lapis.
Partaโdengan gaya khas politisi PDI Perjuangan yang to the pointโmengingatkan kita pada siklus hidrologi sampah. Sampah di pantai itu cuma ujung dari rantai makanan yang kacau balau.
“Tidak akan pernah ada pantai yang bersih jika sungainya kotor. Tidak akan ada sungai yang bersih kalau got dan paritnya jorok.”
Ini tamparan keras buat kita semua. Kita sibuk menyapu bibir pantai demi konten Instagram atau demi menyenangkan Pak Presiden, padahal di hulu, di got depan rumah, di pasar, sampai di warung kaki lima, kita masih memperlakukan selokan sebagai tong sampah umum. Membersihkan pantai tanpa membereskan hulu itu ibarat ngepel lantai saat genteng bocor deras. Capek, basah, dan sia-sia, Lur.
๐ ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐๐ ๐๐ฟ๐ฎ๐๐ถ๐, ๐๐ป๐ณ๐ฟ๐ฎ๐๐๐ฟ๐๐ธ๐๐๐ฟ ๐๐๐ ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ
Nah, bagian ini yang paling asyik. Nyoman Parta bilang, kalau Pak Presiden sudah marah, jangan berhenti di situ. “Kalau sudah marah, jangan berhenti di situ. Bali juga perlu dibantu dengan fasilitas pengolahan sampah yang memadai,” katanya.
Ini kode keras, Pak.
Marah-marah itu gratis dan gampang. Tapi membangun TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) yang canggih, ramah lingkungan, dan nggak bau busuk itu butuh duit, butuh teknologi, dan butuh dukungan pusat. Jangan sampai pemerintah pusat cuma jago sentil kuping pemerintah daerah, tapi dompet anggarannya dijahit rapat.
Pak Prabowo kan Presiden, pemegang kunci brankas negara. Kalau cinta sama Bali, mbok ya cintanya diwujudkan dalam bentuk insinerator modern atau sistem manajemen limbah kelas dunia, bukan sekadar tensi darah yang naik. Ingat kata orang bijak: Talk is cheap, infrastructure is expensive.
๐ฆ๐ฎ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ฟ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป: ๐ข๐น๐ฒ๐ต-๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐ฎ๐ธ ๐๐ถ๐ต๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ฝ๐ธ๐ฎ๐ป
Satu lagi poin penting dari Parta: Sampah di Bali itu nggak semuanya KTP Bali. Ada yang namanya “sampah kiriman”. Sampah yang terbawa arus laut dari pulau seberang, mampir ke Bali tanpa permisi.
Ini membuktikan kalau urusan sampah itu nggak bisa diselesaikan sendirian oleh Gubernur Bali, mau dimarahi sampai kupingnya panas sekalipun. Ini butuh koordinasi lintas wilayah, lintas kementerian, dan lintas ego sektoral. Di sinilah peran “bapak” bernama Pemerintah Pusat dibutuhkan untuk mendamaikan pulau-pulau yang saling kirim sampah ini.
๐ก๐ด๐ฎ๐ป๐, ๐๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ?
Intinya, teguran Pak Prabowo di Rakornas 2026 ini harus jadi momentum. Tapi momentum apa dulu nih? Kalau cuma momentum buat kepala daerah bikin acara bersih-bersih pantai seremonial sehari terus besoknya kotor lagi, ya podo wae, Mas.
Kita butuh konsistensiโkata Parta, jangan anget-anget tahi ayam. Dan yang paling penting, kita butuh sinergi. Rakyat berhenti buang sampah di got, Pemda bangun sistem angkut yang benar, dan Pemerintah Pusat transfer dana buat infrastruktur.
Jadi, Pak Presiden, terima kasih sudah marah demi kebaikan. Tapi tolong, marahnya dibungkus rapi bareng anggaran bantuan infrastruktur ya, Pak. Biar sampahnya benar-benar hilang, bukan cuma pindah tempat.







