๐๐ฎ๐น๐ถ๐ฝ๐๐๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฒ๐๐.๐ฐ๐ผ๐บ, ๐๐ฒ๐ป๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ – Malam di Bali, jelang pergantian tahun Saka, selalu diwarnai oleh denting gamelan dan peluh para pemuda di balai banjar. Di tengah hiruk-pikuk penciptaan karya seni ogoh-ogoh itulah, I Gede Andika Paramartha, S.E., atau yang akrab disapa Go Andik, hadir merawat sebuah tradisi perjumpaan. Melalui inisiatif bernama “Grebek Banjar”, ia merajut simpul-simpul kreativitas pemuda dari satu banjar ke banjar lainnya.
Tahun ini, Grebek Banjar resmi mamasuki tahun keempat. Bukan sekadar ajang kumpul-kumpul, kegiatan ini digagas Go Andik sebagai bentuk persembahan tulus dari denyut nadi Kota Denpasar untuk seluruh penjuru Bali. Di balik gerakan komunal ini, mengalir deras falsafah dan semangat bapak bangsa, Sukarno.

๐ ๐ฒ๐ป๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ฒ๐บ๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐๐๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ฟ๐ป๐ผ ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ท๐ฎ๐ฟ
Bagi Go Andik, balai banjar bukan sekadar ruang fisik, melainkan kawah candradimuka bagi para pemuda (Sekaa Truna) untuk mengejawantahkan gagasan Bung Karno. Ia kerap meresapi pidato monumental Sang Proklamator tentang pemuda: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Di mata Go Andik, para pemuda Bali yang bergadang berminggu-minggu demi seutas anyaman bambu adalah agen-agen penguncang dunia dalam ranah pelestarian budaya.
Grebek Banjar lahir dari rahim pemikiran Sukarno tentang gotong royong. Seperti yang pernah dipekikkan Bung Karno pada 1 Juni 1945: “Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.” Pesan inilah yang dibawa oleh Tim Grebek Banjar dalam setiap aktivitas sosialnya.
Mereka tidak sekadar datang mengamati, tetapi hadir membawa dukungan moril dan material, memastikan bahwa napas kebudayaan Bali tetap menyala melalui aksi nyata “Local Support Local”.
๐ ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ป๐ด๐ผ๐ธ ๐๐ฒ๐ป๐๐๐ ๐ก๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ท๐ฎ๐ฟ ๐๐๐ฎ๐น๐
Semangat pantang menyerah itu terekam jelas saat Tim Grebek Banjar menyambangi Sekaa Truna Truni (STT) Yowana Pratyaksa di Banjar Bualu, Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Kunjungan di hari keenam rangkaian Grebek Banjar ini menjadi momentum krusial bagi para anggota sekaa truna yang tengah berpacu dengan waktu merampungkan ogoh-ogoh mereka.
Ketua STT Yowana Pratyaksa, Putu Indra Pratnya Septiana, memaparkan bahwa karya tahun ini mengusung tema Roga Sanghara Bumi. Proses pengerjaannya bukanlah lari sprint, melainkan maraton panjang yang memakan waktu tiga bulanโdimulai sejak November tahun lalu dan baru menemui rupa sempurnanya pada Februari ini.
Keringat pemuda Banjar Bualu terbayar lunas. Ogoh-ogoh tersebut berhasil menembus nominasi tujuh besar dan tengah melewati fase penilaian lomba bergengsi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Badung. Ambisi besar ini tentu dibarengi dengan kapital yang tidak main-main. Total anggaran pembuatan ditaksir menyentuh angka Rp175 juta, dengan serapan dana yang telah tercatat mencapai Rp130 juta.
Daya tarik Roga Sanghara Bumi tidak hanya terletak pada skala dan detail visualnya, tetapi juga pada inovasi mekanis yang disematkan. Tim penggarap, I Made Adi Swardika dan I Made Aldi Kumaryasa, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh ini merupakan narasi visual tentang proses peleburan penyakit di muka bumi.
Karya ini menjadi istimewa berkat kelihaian mereka memanipulasi teknologi mekanis dari mesin wiper mobil. Melalui rekayasa mesin tersebut, Roga Sanghara Bumi seolah bernapas. Beberapa elemen tubuhnya mampu bergerak dinamis, mulai dari ekspresi wajah, tiga kepala di bagian bawah, putaran cakra, hingga pergerakan patung utama di posisi puncak.
Melihat inovasi kelas wahid tersebut, Go Andik, selaku representasi dari Official Sing Main-Main Grebek Banjar, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Kehadiran timnya di Nusa Dua disambut meriah, mengukuhkan kembali komitmen mereka untuk berada di garis terdepan dalam mendukung kreativitas sekaa truna.
Malam kunjungan itu ditutup dengan kehangatan apresiasi. Penyanyi pop Bali kenamaan, Jun Bintang, hadir memecah ketegangan sisa-sisa tenaga para pemuda. Tembang-tembangnya menjadi pelipur lara sekaligus pemantik semangat. Jun Bintang sendiri mengaku selalu menyempatkan diri terlibat dalam agenda tahunan ini. Baginya, Grebek Banjar adalah vitamin yang terbukti mangkus membangkitkan spirit dan daya juang sekaa truna se-Bali yang sedang bertapa melahirkan karya.
Dari Denpasar, melalui Grebek Banjar, Go Andik membuktikan bahwa semangat gotong royong warisan Sukarno belum mati; ia terus hidup, berevolusi, dan digerakkan oleh mesin dan tangan-tangan pemuda Bali (aa).





