๐๐ฎ๐น๐ถ๐ฝ๐๐๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฒ๐๐.๐ฐ๐ผ๐บ, ๐๐๐น๐ฒ๐น๐ฒ๐ป๐ด – Alunan magis gamelan Bali memecah sejuknya malam di Taman Bung Karno, Kabupaten Buleleng, Senin (30/3/2026). Di atas panggung, puluhan anak-anak dengan riasan khas dan balutan busana tari tradisional bergerak lincah nan gemulai. Tatapan mata mereka tajam, senyum mereka tulus, menyiratkan kecintaan yang begitu murni pada warisan leluhur di tengah laju zaman.
Penampilan memukau dari tunas-tunas muda Bali itu tak pelak membuat takjub siapa saja yang hadir pada malam Puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja. Di bangku penonton, salah satu pasang mata yang tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangganya adalah Gubernur Bali, Wayan Koster.
Melihat anak-anak yang masih begitu belia telah mewarisi napas seni Pulau Dewata, Gubernur Koster tergerak. Baginya, pemandangan itu lebih dari sekadar hiburan; itu adalah bukti bahwa roh Bali masih bersemayam kuat di dada generasi penerusnya. Bukan sekadar tepuk tangan, Gubernur Koster malam itu memberikan apresiasi nyata sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi tanpa pamrih para pegiat seni.
Secara pribadi, Gubernur Koster mengucurkan hadiah masing-masing sebesar Rp 50 juta kepada dua sanggar seni yang tampil memukau. Keduanya adalah Sanggar Seni Tari dan Tabuh Pentas Marak Lestari dari Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, serta Sanggar Seni Dharma Shanti dari Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan.
Hadiah ini bukanlah sekadar angka, melainkan wujud terima kasih yang mendalam atas keringat dan kesabaran para pelatih di pedesaan. Di tengah kepungan modernisasi, kedua sanggar tersebut tetap setia menjadi “rahim” budayaโmendidik dan melahirkan seniman-seniman baru tanpa lelah, mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Mereka memastikan panggung-panggung desa tak pernah sepi dari tabuh tari kesenian.
“Inilah regenerasi seniman budaya Bali yang sesungguhnya. Kita lihat anak-anak menari sangat luar biasa. Kita bangga sekali melihatnya, jadi ini harus diapresiasi,” tutur Gubernur Koster, suaranya menyiratkan kebanggaan yang tak dibuat-buat.
Malam itu, di bawah temaram lampu Taman Bung Karnoโyang namanya diambil dari sosok proklamator pencinta seniโGubernur Koster menyempatkan diri merenung dan mengingatkan warga yang hadir akan sebuah filosofi luhur. Menjaga seni, menurutnya, adalah menjaga nyawa sebuah bangsa.
“Bung Karno pernah berkata, kebudayaan adalah jiwa dari bangsa, dan jiwa itu tidak pernah mati,” ucap Gubernur Koster mengutip sang Bapak Bangsa, disambut riuh tepuk tangan warga Singaraja.
Malam di Singaraja pun ditutup dengan senyum mengembang dari para penari cilik dan pelatih mereka. Hadiah malam itu menjadi lebih dari sekadar dukungan materiil; ia adalah simbol pelukan hangat untuk mereka yang terus merawat nyala api tradisi.
Lewat tangan-tangan mungil penari cilik di Buleleng, jiwa Bali terbukti masih menyala dan akan terus abadi (aa).





