𝗕𝗮𝗹𝗶𝗽𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻𝗲𝘄𝘀.𝗰𝗼𝗺, 𝗗𝗲𝗻𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿 – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya dalam mencegah tindak kekerasan serta masuknya paham radikal pada anak di lingkungan pendidikan. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah penguatan “segitiga ekosistem” yang mencakup sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat memberikan sambutan dalam acara Talkshow Segitiga Ekosistem Perlindungan Anak di Lingkungan Sekolah yang digelar di Gedung Presisi Polda Bali, Denpasar, Jumat (24/4/2026).
Acara yang diinisiasi oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri ini melibatkan tenaga pendidik dan para siswa. Talkshow tersebut juga diwarnai dengan pembacaan deklarasi menolak Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET).
Gubernur Koster menyoroti bahwa anak-anak saat ini menghadapi beban yang kompleks. Selain tuntutan akademik, mereka rentan terhadap tekanan sosial, dinamika psikologis, hingga arus ideologi yang berpotensi menyimpangkan cara berpikir.
“Ini adalah persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama,” ujar Gubernur Koster.
Ia menambahkan, menurunnya sensitivitas sosial dan lemahnya ketahanan nilai memperbesar risiko penyimpangan perilaku, termasuk bullying dan paparan paham IRET. Ancaman tersebut dinilai sering menyusup secara halus lewat konten digital yang minim pengawasan maupun interaksi sosial sehari-hari.
“Inilah tantangan nyata yang kita hadapi bersama, yang menuntut kewaspadaan, keseriusan, serta langkah yang terarah dan berkelanjutan,” tegas Gubernur Bali dua periode tersebut.
𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗲𝗴𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗼𝗺𝗽𝗿𝗲𝗵𝗲𝗻𝘀𝗶𝗳
Untuk mengatasi masalah ini, Gubernur Koster menilai pendekatan keamanan parsial tidak lagi cukup. Diperlukan kolaborasi berkesinambungan melalui segitiga ekosistem. Keluarga berfungsi sebagai fondasi penanaman nilai kehidupan, sekolah sebagai ruang penguatan karakter, dan masyarakat menjadi lingkungan sosial tempat nilai-nilai tersebut dipraktikkan.
Gubernur Koster juga memberikan apresiasi khusus kepada Densus 88 yang menginisiasi pendekatan berbasis edukasi, literasi, dan wawasan kebangsaan ini.
Kepada para tenaga pendidik, Gubernur Koster menitipkan pesan khusus. “Kepada para guru, khususnya guru BK, perkuat fungsi pendampingan, pembinaan, dan deteksi dini. Kepekaan Saudara adalah kunci dalam mencegah berbagai potensi permasalahan,” ucapnya.
𝗞𝗼𝗹𝗮𝗯𝗼𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗟𝗶𝗻𝘁𝗮𝘀 𝗦𝗲𝗸𝘁𝗼𝗿
Turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka. Ia menyambut baik inisiatif perlindungan generasi muda dari ancaman kekerasan dan ideologi menyimpang.
“Mari kita lanjutkan dan tingkatkan kolaborasi lintas sektor baik di pusat maupun daerah untuk memastikan deteksi dini, respons cepat, dan pendampingan yang tepat bagi anak-anak,” ujar Isyana.
Sementara itu, Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya memaparkan bahwa pihaknya telah bergerak melalui serangkaian tindakan preventif dan represif. Upaya pencegahan dilakukan lewat program edukasi police goes to school dan literasi digital.
“Langkah preventif ditempuh dengan mengintensifkan patroli siber, komunikasi, koordinasi dan kolaborasi aktif di bidang pendidikan. Kita juga melakukan langkah represif seperti penegakan hukum dan deradikalisasi terhadap mereka yang terpapar radikalisme, intoleransi hingga jaringan terorisme,” tutup Daniel (aa).




