𝗕𝗔𝗗𝗨𝗡𝗚 – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menegaskan bahwa Pulau Dewata tidak hanya menjadi pusat pariwisata, tetapi juga digadang-gadang sebagai hub perekonomian utama di wilayah Indonesia Timur. Hal ini ia sampaikan saat mendampingi Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita meresmikan Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kuta, Badung, Jumat (8/5/2026).
Giri Prasta optimistis, pengembangan sektor Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) akan mengukuhkan posisi Bali di mata dunia. “Kami yakin kalau ke depannya industri MICE lebih dikembangkan di Bali, Bali akan menjadi pusat bisnis pariwisata internasional,” ujarnya.
Selain sektor MICE, Giri Prasta menilai kehadiran BPIFK menjadi stimulus vital bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM). Menurutnya, fasilitas tersebut akan merangsang perkembangan IKM dan UMKM fesyen serta kriya, tidak hanya di Bali tetapi juga secara nasional.
“Kami mendukung penuh pembangunan BPIFK di Pulau Dewata. Apalagi dengan adanya fasilitas-fasilitas yang tersedia, kami yakin dapat meningkatkan pertumbuhan IKM fesyen dan kriya di Bali dan Indonesia,” jelasnya.
BPIFK yang berlokasi strategis di jantung pariwisata Bali ini memiliki layanan terintegrasi. Fasilitas yang tersedia meliputi workshop fesyen, workshop kriya logam (perhiasan), workshop kriya keramik, workshop kriya kayu, creative business incubator (CBI), creative hub, serta layanan Klinik SiniBisa.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa Bali diproyeksikan menjadi pusat industri fesyen dan kriya Indonesia. Ia menilai Bali sebagai hub yang paling tepat untuk mendukung pasar domestik dan internasional.
“Di sisi lain, Bali juga memiliki artisan-artisan yang sudah siap. Inovasinya bagus dan kreatif, kualitasnya juga terjaga,” kata Agus.
Menperin memaparkan, Bali memiliki ekosistem industri kreatif yang kuat yang tumbuh dari kekayaan budaya. Data menunjukkan terdapat 25 sentra IKM fesyen serta 197 sentra IKM kriya di Provinsi Bali. Capaian ini menempatkan Bali di peringkat keempat sebagai provinsi dengan sentra IKM kriya terbanyak di Indonesia.
Kualitas produk Bali pun telah diakui secara global. Kabupaten Gianyar bahkan dianugerahi predikat World Craft City oleh World Crafts Council pada tahun 2019. Dengan demikian, Bali tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga terhubung langsung dengan pasar nasional dan internasional.
Kehadiran BPIFK diharapkan menjadi katalis penguatan industri fesyen dan kriya nasional melalui peningkatan kapasitas pelaku industri, inovasi desain, pemanfaatan teknologi, serta merangsang pertumbuhan sentra industri baru demi meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. (AA)





