๐ฆ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ท๐ฎ โ Penampilan Ibu Putri Suastini Koster, istri Gubernur Bali Wayan Koster, saat membacakan puisi Sumpah Kumbakarna sukses memukau penonton yang memadati Gedung Puri Seni Sasana Budaya, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Sabtu (23/5/2026).
Dengan penghayatan kuat dan teknik vokalisasi yang matang, ia seolah menghadirkan langsung sosok kesatria raksasa Kumbakarna di atas panggung Parade Puisi dan Akustik bertajuk Nuansa Harmoni.
Latar belakangnya sebagai seniman serbabisa membuat pembacaan puisi tersebut terasa hidup, emosional, sekaligus sarat pesan nasionalisme. Di mata Ibu Putri Koster, puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan media untuk menyampaikan jiwa, nilai perjuangan, dan kecintaan terhadap tanah air.
โPuisi Sumpah Kumbakarna memiliki makna mendalam yang mengingatkan siapa saja untuk mencintai dan membela negaranya tanpa syarat. Meski Kumbakarna tidak menyukai tindakan Rahwana, ketika negaranya diserang, ia tetap berdiri sebagai kesatria untuk membela tanah airnya,โ ujarnya.
Ia berharap nilai-nilai nasionalisme dalam karya sastra tetap hidup di tengah generasi muda, sekaligus menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Dalam kesempatan itu, Ibu Putri Koster juga menyampaikan harapannya agar ke depan lahir lebih banyak generasi pembaca puisi yang tidak hanya mampu membaca teks, tetapi benar-benar mampu โmenghidupkanโ karya sastra di atas panggung.
Kemampuan membaca puisi, menurutnya, harus dibangun dari fondasi yang kuat, mulai dari penghayatan, penjiwaan, vokalisasi, hingga kemampuan memberi ruh pada setiap bait. Setelah kemampuan dasar itu matang, seni baca puisi dapat dikembangkan menjadi seni pertunjukan yang lebih besar melalui kolaborasi dengan berbagai unsur seni lainnya.
โIbu berharap seni baca puisi dapat berkembang menjadi seni pertunjukan. Bisa dipadukan dengan gamelan, musik tradisional, maupun seni tari. Namun, yang paling utama tetap kemampuan membaca puisinya harus bagus dan mampu memberi ruh pada karya yang dibawakan,โ katanya.
Ibu Putri Koster menilai kegiatan seperti Parade Puisi dan Akustik menjadi ruang penting untuk mencari sekaligus membina bibit-bibit pembaca puisi muda di Bali. Selain mengasah kreativitas, para peserta juga memperoleh pengalaman berharga dalam membangun karakter, rasa percaya diri, dan keberanian tampil di depan publik.
โSelain membaca puisi, generasi muda juga bisa memperdalam karakternya. Pengalaman berkesenian seperti ini akan menjadi bekal yang bermanfaat bagi mereka di kemudian hari,โ imbuhnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian seni budaya, Ibu Putri Koster turut menyerahkan bantuan sebesar Rp5 juta kepada sekaa gong pengiring yang mendukung jalannya pertunjukan.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Buleleng, Gede Ariadi Pribadi, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menilai Parade Puisi dan Akustik menjadi ruang kreativitas dan pemersatu masyarakat, khususnya generasi muda.
Kegiatan yang disiarkan melalui radio dan layanan streaming tersebut digagas sebagai wadah ekspresi sastra modern bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum di Buleleng. (AA)





