๐๐ฎ๐น๐ถ๐ฝ๐๐๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฒ๐๐.๐ฐ๐ผ๐บ, ๐๐ฒ๐ป๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ – Di tengah dinamika pembangunan Bali yang terus bergeliat, Gubernur Wayan Koster meluangkan waktu untuk menempuh perjalanan spiritual.
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan sebuah laku hening yang bermula dari pesisir laut hingga ke lereng gunung tertinggi di Bali.
Momen tersebut diawali di Dermaga Pantai Kusamba, Kabupaten Klungkung. Sebelum menyeberang ke Nusa Penida, Gubernur Koster tampak menyempatkan diri berhenti sejenak untuk menyapa warga.
Ia menyalami masyarakat satu per satu dengan hangat. Pemandangan serupa kembali terlihat saat Gubernur Koster tiba di Pelabuhan Sampalan, Nusa Penida. Senyum dan jabat tangan erat mewarnai percakapan singkatnya dengan warga setempat tanpa sekat.
๐ฅ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ต๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ ๐ก๐๐๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ถ๐ฑ๐ฎ
Agenda utama Gubernur Koster di Nusa Penida adalah serangkaian persembahyangan. Ia mengawali perjalanan spiritualnya di Pura Dalem Bungkut, kemudian berlanjut ke Pura Dalem Ped yang selama ini dikenal sebagai pusat spiritual penyangga keyakinan masyarakat Nusa Penida.
Tak berhenti di sana, Gubernur Koster melanjutkan langkahnya menuju Pura Segara Penida. Di tempat ini, laut dimaknai bukan hanya sebagai bentang alam yang indah, tetapi juga ruang sakral yang harus dijaga.
Rute persembahyangan kemudian bergerak ke dataran yang lebih tinggi, yakni Pura Pusering Sahab, hingga mencapai titik tertinggi di Pura Puncak Mundi.
Di puncak tersebut, Gubernur Koster memanjatkan doa dan harapan agar Bali senantiasa ajeg, harmonis, dan sejahtera. Ia berharap pembangunan yang terus berjalan tidak membuat Bali tercerabut dari akar budayanya.
๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ด๐ฎ ๐๐ฒ๐๐ฒ๐ถ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ฒ๐ธ๐ฎ๐น๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ก๐ถ๐๐ธ๐ฎ๐น๐ฎ
Usai dari Nusa Penida, rangkaian perjalanan spiritual Gubernur Koster berlanjut ke Pura Pasar Agung Besakih Giritohlangkir yang terletak di kawasan suci kaki Gunung Agung.
Perjalanan dari laut Nusa Penida hingga ke lereng gunung ini seolah membentuk satu garis pengabdian yang menghubungkan wilayah, sekaligus upaya merawat keseimbangan alam.
Bagi Gubernur Koster, pengabdian di Bali tidak hanya diwujudkan melalui kerja fisik dan kebijakan nyata. Kesetiaan menjaga harmoni antara sekala (nyata) dan niskala (tak kasat mata) menjadi hal yang tak kalah penting.
Langkah menapak pura ini menjadi simbol kembali pada sumber nilai, guna memastikan pembangunan infrastruktur tidak menggerus sisi spiritualitas Pulau Dewata.
Perjalanan sunyi ini membawa pesan terang bahwa pengabdian kepada Bali harus dijalani secara utuhโdengan kaki yang melangkah, tangan yang menyapa, dan hati yang berserah (red/aa).





