𝗕𝗮𝗹𝗶𝗽𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻𝗲𝘄𝘀.𝗰𝗼𝗺, 𝗗𝗲𝗻𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿 – Manajemen Bali United tengah dibayang-bayangi sanksi berat berupa denda ratusan juta rupiah dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
Ancaman sanksi ini merupakan buntut dari insiden kericuhan suporter yang mewarnai laga kandang melawan Persija Jakarta di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Minggu (15/2/2026) malam.
Kericuhan bermula saat pertandingan memasuki menit ke-85. Sejumlah oknum suporter tuan rumah kedapatan menyalakan suar (flare), kembang api, hingga petasan. Situasi yang semula kondusif mendadak berubah menjadi kalut.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, aksi suporter tidak berhenti pada penyalaan flare. Tindakan anarkistis turut terjadi di tribun sayap timur, di mana sejumlah suporter terlihat melemparkan kursi ke arah petugas keamanan.
Bahkan, salah satu ofisial Bali United yang berupaya menenangkan amarah penonton justru menjadi korban pelemparan kursi. Selain itu, perangkat pertandingan, termasuk wasit, juga menjadi sasaran pelemparan botol minuman hingga sandal.
𝗧𝗲𝗿𝗮𝗻𝗰𝗮𝗺 𝗗𝗲𝗻𝗱𝗮 𝗥𝗮𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗝𝘂𝘁𝗮
Berkaca pada hasil sidang Komdis PSSI sebelumnya, Bali United berpotensi besar dijatuhi denda lebih dari Rp 200 juta akibat rentetan pelanggaran tersebut.
Sanksi serupa pernah dijatuhkan kepada Persis Solo pada 4 Januari 2026 lalu. Saat itu, Persis harus membayar denda sebesar Rp 250 juta akibat penyalaan flare dalam jumlah banyak di beberapa titik stadion saat menjamu Persita Tangerang.
Menanggapi insiden tersebut, Pelatih Bali United, Johnny Jansen, angkat bicara. Ia menyayangkan aksi suporter yang disinyalir dilakukan dalam rangka merayakan ulang tahun klub tersebut.
Menurut juru taktik asal Belanda itu, ekspresi perayaan seharusnya dilakukan pada waktu yang tepat agar tidak merugikan tim.
“Jika maksudnya untuk merayakan ulang tahun klub, saya rasa waktunya kurang tepat saat pertandingan berlangsung. Seharusnya dilakukan setelah laga berakhir,” ujar Johnny Jansen saat dikonfirmasi, Senin (16/2/2026).
Lebih lanjut, Jansen juga menyoroti dampak insiden tersebut terhadap jalannya pertandingan. Laga sempat terhenti cukup lama di pengujung waktu normal. Ia pun mempertanyakan keputusan wasit terkait durasi permainan.
“Tambahan waktunya 12 menit, tapi saya rasa permainan sudah dihentikan kurang dari itu,” pungkas pelatih asal Negeri Kincir Angin tersebut (red/aa).





