๐๐ฎ๐ป๐ด๐น๐ถ โ Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa kawasan Batur, Kintamani, Bangli, merupakan salah satu sumber peradaban tertua sekaligus sumber kesucian Bali yang harus dijaga dari pembangunan tidak terkendali.
Hal itu disampaikan Koster saat mengikuti persembahyangan dalam upacara Melaspas Purwa Mandala Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur di Titik Nol Desa Adat Batur Kuno, Rabu (29/7/2026).
Upacara yang bertepatan dengan Purnama Karo tersebut merupakan rangkaian Paiketan Karya 100 Tahun Rarud Desa Adat Batur periode 1926โ2026.
โBatur ini adalah salah satu sumber peradaban tertua di Bali. Karena itu, orang Bali, apalagi pemimpin Bali, wajib hukumnya mengetahui tentang peradaban Bali dengan wilayah Batur di dalamnya,โ kata Koster.
Menurut Koster, pemahaman mengenai sejarah dan kedudukan spiritual Batur diperlukan agar kebijakan pembangunan tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan ekonomi. Pemerintah dan masyarakat harus mampu melindungi, memuliakan, serta merawat warisan leluhur di kawasan tersebut.
Ia meminta masyarakat tidak sekadar memandang Batur sebagai tempat suci, tetapi sebagai sumber kesucian yang memancarkan nilai spiritual sekaligus menjadi sumber kehidupan.
Kawasan Batur, lanjutnya, tetap dapat dimanfaatkan untuk menunjang penghidupan masyarakat. Namun, aktivitas ekonomi harus ditata dengan menjaga jarak dari kawasan suci serta tidak merusak keseimbangan alam.
โKalau sumber peradaban di Gunung Batur ini kita rusak, auranya akan terganggu dan tidak akan lagi memancarkan kesucian,โ ujarnya.
Panitia Karya, Nengah Santika, mengatakan, Melaspas Pelinggih Padmasana dan Pelinggih Pertiwi menjadi bagian dari peringatan satu abad perpindahan masyarakat Batur akibat letusan Gunung Batur.
Rangkaian peringatan akan dilanjutkan dengan napak tilas pada 3 Agustus 2026 menuju Desa Bayung Gede. Lokasi itu menjadi tempat masyarakat Batur bermukim selama sekitar 20 tahun sebelum menempati Desa Batur saat ini.
Jro Penyarikan Duuran Ketut Eriadi Ariana menjelaskan, Purwa Mandala merupakan lokasi permukiman lama masyarakat sekaligus tempat berdirinya Pura Ulun Danu Batur terdahulu. Keberadaan lokasi tersebut ditelusuri selama sekitar 12 tahun dengan dukungan bukti autentik, termasuk dokumentasi masa kolonial Belanda.
Situs itu tidak akan dibangun kembali menjadi pura seperti sebelumnya, tetapi dipertahankan sebagai ruang edukasi sejarah.
Koster juga meminta BKSDA Bali bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bangli dan prajuru adat dalam menata kawasan Batur. Setiap program pembangunan diminta terlebih dahulu dikoordinasikan dengan tetua adat agar sejalan dengan tradisi dan nilai spiritual masyarakat setempat.
Peringatan tersebut turut dirangkai dengan Batur Village Festival pada 2โ8 Agustus 2026. (AA)





