๐๐ฒ๐ป๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya membangun sumber daya manusia (SDM) Bali yang unggul, berkarakter, dan berintegritas sebagai fondasi menjaga keberlanjutan peradaban Bali.
Hal itu disampaikan Koster saat membuka Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Jumat (11/9/2026).
UDG Bali XXXIII berlangsung selama enam hari, 11-16 September 2026, dengan mengusung tema โDharmagita Atmanam Dharmaโ.
Menurut Koster, Utsawa Dharma Gita tidak boleh dipandang hanya sebagai ajang perlombaan seni dan sastra keagamaan Hindu. Kegiatan tersebut dinilai memiliki posisi strategis dalam memperkuat karakter masyarakat serta membentuk SDM Bali yang unggul.
โKenapa saya mengangkat SDM Bali unggul? Karena saya membaca berbagai dokumen hasil riset dan buku-buku tentang peradaban Bali, mulai dari Bali Kuno hingga perkembangan Bali sampai sekarang,โ kata Koster.
Ia mengatakan, pembangunan SDM menjadi salah satu pijakan penting dalam arah pembangunan Bali jangka panjang, termasuk dalam kerangka Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.
Koster menilai, perjalanan peradaban Bali menyimpan berbagai nilai luhur yang membentuk karakter masyarakat. Nilai tersebut antara lain tercermin dalam sikap jemet atau rajin, tekun, ulet, jujur, berpegang pada satya, serta mendahulukan kewajiban dibandingkan hak.
โOrang Bali itu jemet, tekun, ulet, rajin, jujur, berpegang pada satya, dan lebih mendahulukan kewajiban daripada hak,โ ujarnya.
Namun, Koster mengakui perkembangan zaman juga membawa tantangan terhadap nilai-nilai tersebut. Menurut dia, mulai muncul berbagai perilaku sosial yang tidak sejalan dengan karakter luhur masyarakat Bali, mulai dari ketidakjujuran hingga tindakan koruptif.
Meski demikian, ia menekankan bahwa perilaku tersebut tidak mencerminkan mayoritas masyarakat Bali.
โMemang ada penurunan dari kesunatian orang Bali. Mulai ada korupsi, ada yang nakal, ada yang jahat. Tetapi yang begitu tidak banyak. Yang masih banyak adalah orang-orang yang baik,โ kata Koster.
Karena itu, ia mendorong masyarakat kembali memperkuat integritas sekaligus menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan lintas generasi.
Menurut Koster, upaya tersebut berkaitan erat dengan pelestarian bahasa Bali, aksara Bali, dan sastra Bali. Ketiganya tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga menyimpan pengetahuan dan nilai yang membentuk kehidupan masyarakat Bali.
โBahasa Bali dan aksara Bali itu adalah ekosistem kehidupan orang Bali,โ ujarnya.
Pada UDG XXXIII, terdapat 11 bidang lomba dengan total 37 kategori. Bidang yang dipertandingkan meliputi membaca Sloka, Palawakya, Kakawin, Kidung, Nyanyian Keagamaan Hindu, Gaguritan, Dharmawacana Bahasa Bali, Dharmawacana Bahasa Inggris, Menghafal Sloka, Dharmawiwada, dan Dharmacarita.
Koster berharap UDG tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial maupun kompetisi. Nilai-nilai yang terkandung dalam sastra, bahasa, dan budaya Bali diharapkan dapat dipahami serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
UDG juga diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperdalam sastra dan seni keagamaan Hindu, meningkatkan kecintaan terhadap bahasa serta aksara Bali, sekaligus membangun karakter yang kuat.
Melalui pelestarian dharmagita, bahasa, aksara, dan sastra Bali, Koster berharap pembangunan SDM dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas dan keberlanjutan peradaban Bali.
Reporter: ๐๐ป๐๐ด๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐ฟ๐ถ๐ณ๐ฎ๐ป๐๐ผ





