๐๐ฒ๐ป๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengingatkan bahwa kemajuan pembangunan dan perkembangan teknologi tidak boleh membuat masyarakat Bali kehilangan akar adat, tradisi, dan budayanya.
Pesan itu disampaikan Giri Prasta saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Forum Gerakan Adat Se-Nusantara (Forgas) Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Rabu (9/9/2026).
โBali boleh maju, tetapi kemajuannya jangan sampai menggerus akar budaya, adat, dan tradisi,โ kata Giri Prasta.
Peringatan HUT ke-3 Forgas Bali mengangkat tema โStrategi Ngemargiang Sad Kerthi Loka Bali, Ngajegang Tradisi, Adat lan Budaya Nusantaraโ.
Menurut Giri Prasta, menjaga adat dan tradisi bukan berarti menutup diri dari kemajuan maupun perkembangan zaman. Masyarakat Bali justru harus mampu beradaptasi dengan perubahan, tetapi tetap memiliki pijakan kuat pada jati diri dan warisan leluhur.
Ia mengatakan, Bali dibangun dan diwariskan oleh para leluhur dengan kekuatan adat, tradisi, agama, seni, serta budaya yang kemudian membentuk taksu Bali. Seluruh unsur tersebut, menurut dia, perlu dirawat secara bersama-sama agar perkembangan Bali tidak berujung pada hilangnya identitas.
Giri Prasta pun mengapresiasi keberadaan Forgas sebagai wadah pemersatu sekaligus bagian dari gerakan menjaga adat dan kebudayaan Nusantara.
Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, ia berharap Forgas tetap konsisten menjaga nilai luhur dan kearifan lokal sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia juga menitipkan pesan agar Forgas terus mengedepankan kerukunan, baik antarumat beragama maupun di dalam masing-masing umat beragama.
Dalam konteks masyarakat Bali, kerukunan tersebut dinilai perlu diperkuat dengan komitmen menjalankan serta melestarikan adat dan dresta Bali.
Giri Prasta turut menyinggung pesan yang dikaitkan dengan Presiden pertama RI Soekarno mengenai pentingnya masyarakat Indonesia tetap mempertahankan identitas Nusantara dalam menjalankan kehidupan beragama dan berbangsa.
Menurut dia, pesan tersebut masih relevan menghadapi perkembangan global saat ini.
Semangat menjaga adat dan budaya itu, kata Giri Prasta, sejalan dengan visi pembangunan Provinsi Bali, yakni โNangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baruโ.
Ia menilai tema Sad Kerthi yang diangkat dalam peringatan HUT Forgas memperlihatkan kesamaan semangat antara organisasi tersebut dan Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga kesucian serta keharmonisan Bali beserta seluruh isinya.
Nilai Sad Kerthi, lanjut dia, perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata. Atma Kerthi dapat diwujudkan melalui pemeliharaan kehidupan spiritual, ritual, dan upacara adat.
Adapun Jana Kerthi diterapkan dengan melibatkan lintas generasi dalam menjaga keberlanjutan adat, tradisi, dan budaya. Sementara Jagat Kerthi diarahkan untuk menciptakan keharmonisan kehidupan di tengah keberagaman masyarakat Nusantara.
Di sisi lain, Giri Prasta juga mendorong pemanfaatan teknologi melalui penerapan desa digital.
Digitalisasi, menurut dia, dapat digunakan untuk memperkuat transparansi berbagai kegiatan di tingkat banjar maupun desa, termasuk pengelolaan dana kegiatan keagamaan sehingga penggunaannya dapat diketahui dan dipantau masyarakat.
Giri Prasta kemudian mengajak jajaran Forgas di kabupaten dan kota untuk terus berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga warisan leluhur.
Ketua DPD Forgas Bali Kadek Arya Bagiastra mengatakan, Forgas berkomitmen berjalan beriringan dengan program dan visi Pemprov Bali, terutama dalam pelestarian serta perlindungan adat dan budaya Bali.
Memasuki usia tiga tahun, Forgas juga akan memperkuat sinergi dengan desa adat serta kaderisasi generasi muda, termasuk mendorong penggunaan dan pelestarian bahasa serta aksara Bali.
Forgas, menurut Kadek Arya, ingin menjadi jembatan antarelemen kebudayaan Nusantara dari Sabang hingga Merauke dengan tetap berpijak pada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Reporter: ๐๐ป๐๐ด๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐ฟ๐ถ๐ณ๐ฎ๐ป๐๐ผ





