𝗗𝗲𝗻𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿, 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗽𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻𝗲𝘄𝘀.𝗰𝗼𝗺 — Gubernur Bali Wayan Koster meluncurkan 11 unit Bus Listrik Trans Sarbagita beserta enam fasilitas pengisian daya (charging station) melalui hibah Proyek Bali E-Mobility di Lapangan Timur Niti Mandala Renon, Denpasar, Kamis (22/10/2026).
Peluncuran tersebut menjadi bagian dari langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dalam mempercepat penggunaan energi bersih, khususnya pada sektor transportasi publik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Koster menyampaikan bahwa pengembangan transportasi listrik merupakan implementasi kebijakan Bali Energi Bersih yang telah dirintis sejak 2019.
Menurut beliau, kebijakan tersebut dijalankan secara menyeluruh, mulai dari pengembangan sumber energi bersih hingga pemanfaatannya dalam kehidupan masyarakat.
“Langkah ini kita percepat karena berdasarkan hasil studi, lebih dari 90 persen polusi udara di Bali bersumber dari pembangkit listrik dan transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil,” ujar Koster.
𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗘𝗻𝗲𝗿𝗴𝗶 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗶𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗛𝘂𝗹𝘂 𝗵𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗛𝗶𝗹𝗶𝗿
Koster menjelaskan, Pemprov Bali telah menetapkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih sebagai landasan pengurangan penggunaan energi fosil dan pengembangan energi baru terbarukan.
Salah satu langkah yang terus didorong adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Koster menyebut pemerintah pusat telah memberikan dukungan alokasi kapasitas sebesar 1.000 megawatt untuk pengembangan PLTS di Bali, termasuk wilayah Jembrana.
Menurut beliau, proses perizinan masih berjalan dan pengembangan proyek tersebut diharapkan dapat dilaksanakan lebih lanjut pada 2027.
Sementara itu, pada sektor hilir, Pemprov Bali mendorong penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019.
Koster mengakui implementasi kebijakan tersebut sempat menghadapi kendala akibat pandemi Covid-19. Namun, pada periode kedua kepemimpinannya, beliau kembali mempercepat penerapannya.
𝗛𝗶𝗯𝗮𝗵 𝟭𝟭 𝗕𝘂𝘀 𝗟𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗞𝗼𝗿𝗲𝗮 𝗦𝗲𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻
Peluncuran Bus Listrik Trans Sarbagita merupakan hasil kerja sama Pemerintah Republik Korea melalui Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas, serta Global Green Growth Institute (GGGI).
Melalui Proyek Bali E-Mobility, Pemprov Bali menerima hibah berupa 11 unit bus listrik dan enam unit perangkat pengisian daya.
Bus tersebut juga telah memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan proses pembuatan bodi kendaraan dilakukan di Indonesia.
Menariknya, Koster turut memberikan arahan mengenai tampilan kendaraan yang mengangkat identitas budaya Bali.
“Desain dan warnanya pun kami yang mengarahkan, kombinasi warna hitam, merah, dan putih sebagai lambang tri datu, sebagai simbol yang lekat dengan nilai budaya Bali,” jelas Koster.
Beliau menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Korea atas dukungan tersebut, sekaligus berterima kasih kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas yang telah menjadikan Bali sebagai lokasi percontohan pengembangan transportasi listrik.
Koster berharap kehadiran armada baru tersebut dapat mendorong masyarakat untuk semakin terbiasa menggunakan transportasi ramah lingkungan.
Beliau juga mengungkapkan bahwa penggunaan mobil listrik di Bali terus menunjukkan perkembangan positif, meskipun pertumbuhan kendaraan listrik roda dua masih perlu ditingkatkan.
“Ayo ramai-ramai kita beralih menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai,” ajak Koster.
Menurut beliau, kendaraan listrik memiliki sejumlah keunggulan, antara lain efisiensi energi, biaya operasional yang lebih hemat, tingkat kebisingan lebih rendah, serta tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung.
𝗕𝗮𝗽𝗽𝗲𝗻𝗮𝘀 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗰𝗼𝗻𝘁𝗼𝗵𝗮𝗻 𝗡𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹
Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai Proyek Bali E-Mobility menjadi bukti nyata pentingnya kolaborasi internasional dalam mempercepat transisi energi.
Menurut beliau, kerja sama Indonesia, Korea Selatan, dan GGGI diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi Bali, tetapi juga menjadi pembelajaran bagi pengembangan transportasi rendah emisi di daerah lain.
Rachmat turut mengapresiasi komitmen Pemprov Bali dalam menjalankan pembangunan berkelanjutan melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Beliau menekankan bahwa menjaga kebersihan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan penanganan sampah, tetapi juga mencakup pengurangan pencemaran dari pembangkit listrik, kendaraan bermotor, dan kegiatan industri.
Dalam kesempatan tersebut, Rachmat mengaku telah lama mengagumi filosofi Tri Hita Karana yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali.
“Saya sejak muda sudah kagum dengan kearifan lokal Tri Hita Karana di Bali, yaitu bagaimana masyarakat membina hubungan yang baik dan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam,” ungkap Rachmat.
Menurut beliau, filosofi tersebut sejalan dengan upaya membangun kehidupan modern yang tetap menjaga keseimbangan lingkungan.
Rachmat berharap Bali mampu menunjukkan bahwa kemajuan teknologi, pengembangan energi bersih, dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan.
Dengan demikian, Bali diharapkan tidak hanya menjadi daerah percontohan transisi energi di Indonesia, tetapi juga menjadi inspirasi pembangunan berkelanjutan bagi dunia.
Editor: Anugrah Arifanto





