Balipustakanews.com, Buleleng – Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Buleleng, Bali meningkat sejak awal tahun 2024. Ironisnya, sebagian besar pelakunya adalah orang-orang dekat korban.
“Orang terdekat itu orang tua, kakak, paman, kakek, tetangga. Ini sudah kita pelajari. Kalau remaja kadang berteman,” kata Direktur Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bulelengi. (DP2KBP3A) Pelayanan I Nyoman Riang Pustaka, Selasa (4/6).
DP2KBP3A melaporkan terdapat 20 kasus kekerasan seksual di wilayah tersebut sejak awal tahun. Kekerasan yang dialami korban berkisar dari pelecehan hingga pemerkosaan. Indikator ini cukup mengkhawatirkan.
Anda juga harus memberikan privasi agar tidak menjadi korban. Sebab meski masih saudara, orang tua dan keluarga juga berpeluang melakukan pelecehan seksual terhadap anak. Oleh karena itu, orang tua wajib melindungi privasi anak-anaknya.
“Itu menumbuhkan ketidakpedulian. Orang terdekat yang kita kenal pun tetap harus waspada,” imbuhnya.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya angka kekerasan seksual terhadap anak. Beberapa faktor tersebut antara lain gaya pengasuhan, konflik dalam rumah tangga, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak, dan representasi negatif yang semakin banyak tersedia melalui Internet.
Karena itulah pihaknya meningkatkan upaya pencegahan melalui pendidikan pemerkosaan. Pihaknya berencana bekerja sama dengan sekolah untuk mengedukasi siswa mengenai kekerasan seksual.
Karena itulah pihaknya meningkatkan upaya pencegahan melalui edukasi tentang kekerasan seksual. Pihaknya berencana bekerja sama dengan sekolah untuk mengedukasi siswa mengenai kekerasan seksual.
โKami tetapkan untuk hari Jumat, disepakati dengan Disdikpora, disepakati dengan para guru. Sebab banyak dari korban tersebut adalah anak-anak. Dari PAUD, SD, SMP menjadi bagian dari Disdikpora. โKami menekankan pelatihan guruโ, dia menekankan situasi Mรคntyankeron (17), yang diperkosa oleh ayah kandungnya, seorang dokter. Korban saat ini masih ditahan di rumah sakit jiwa dengan dibantu DP2KBP3A dengan didampingi psikolog.
“Korban kita tinggalkan di rumah persembunyian. Korban kita bawa ke sana bekerjasama dengan dinas sosial. Kita berikan bantuan psikologis,” ujarnya. (PR/DTK)






Discussion about this post