๐๐ฒ๐ป๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ – Mahardhika Institute dan Duta Generasi Berencana atau GenRe Bali mendorong penguatan sosialisasi Keluarga Berencana (KB) Bali sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan populasi kultural Bali.
Kesepahaman itu mengemuka dalam kegiatan capacity building Finalis Duta GenRe Provinsi Bali 2026 bertema โNgempu Bali & Bangga Kencanaโ di Kantor BKKBN Provinsi Bali, Kota Denpasar, Minggu (21/6/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 Wita tersebut merupakan bagian dari Pra Karantina 1 ADUJAK GenRe Bali 2026. Pembekalan menghadirkan Founder Mahardhika Institute, I Putu Eka Mahardhika, S.IP, M.AP atau Jro Eka, serta Ketua Tim Kerja Pembangunan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN Bali, Billy Udiang S.
Dalam paparannya, Jro Eka menekankan bahwa gagasan KB Bali tidak dapat dilihat semata-mata sebagai urusan jumlah anak. Menurut dia, dalam konteks Bali, isu keluarga, kependudukan, dan generasi muda juga berkaitan dengan keberlanjutan budaya, identitas, serta posisi masyarakat Bali di tanahnya sendiri.
Jro Eka mengatakan, sosialisasi KB Bali perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni menjaga ketahanan populasi kultural Bali. Artinya, generasi muda perlu memahami bahwa masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi dan pariwisata, tetapi juga oleh keberlanjutan manusia Bali sebagai pewaris sekaligus pelaku kebudayaan.
โNgempu Bali adalah cara untuk memastikan bahwa alam Bali tidak hanya diwarisi, tetapi dirawat. Manusia Bali tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku. Budaya Bali tidak hanya dipajang, tetapi dihidupkan. Dan masa depan Bali tidak hanya dibicarakan, tetapi dikerjakan bersama,โ kata Jro Eka.
Menurut dia, Duta GenRe memiliki posisi strategis sebagai komunikator sebaya untuk menjelaskan isu keluarga, perencanaan masa depan, kesehatan remaja, dan pembangunan kependudukan dengan bahasa yang lebih dekat kepada anak muda.
Karena itu, sosialisasi KB Bali dinilai perlu dilakukan secara kreatif, edukatif, dan kontekstual. Bukan hanya menyampaikan pesan program, tetapi juga menjelaskan mengapa keberlanjutan keluarga Bali penting bagi masa depan adat, budaya, bahasa, pengetahuan lokal, serta ruang hidup masyarakat Bali.
Jro Eka menyebut Bali hari ini menghadapi banyak tantangan, mulai dari alih fungsi lahan, tekanan pariwisata, kesenjangan ekonomi, sampah, kemacetan, hingga terputusnya pengetahuan generasi muda terhadap akar budaya. Dalam situasi itu, generasi muda Bali tidak cukup hanya bangga terhadap identitasnya.
โJangan sampai kita hanya numpang hidup di tanah sendiri,โ ujarnya.
Ia menjelaskan, Ngempu Bali bertumpu pada tiga hal, yakni ngempu alam, ngempu manusia, dan ngempu budaya. Ngempu alam berarti merawat tanah, air, hutan, laut, sungai, dan ekosistem Bali. Ngempu manusia berarti memastikan masyarakat Bali tidak tertinggal dan tidak tersingkir. Sementara ngempu budaya berarti menjaga nilai, tradisi, pengetahuan, dan identitas Bali agar tetap hidup sebagai kekuatan masa depan.
Melalui forum tersebut, Mahardhika Institute dan Duta GenRe Bali diharapkan dapat memperluas kerja edukasi kependudukan yang tidak berhenti pada pendekatan administratif, tetapi menyentuh kesadaran kultural generasi muda.
Jro Eka menegaskan, generasi berencana tidak hanya berbicara tentang masa depan pribadi, pendidikan, karier, dan keluarga. Lebih jauh, generasi berencana juga perlu memahami tanggung jawab sosialnya terhadap masa depan Bali.
โItulah tugas generasi hari ini. Bukan sekadar mencintai Bali, tetapi memastikan Bali tetap memiliki masa depan,โ kata Jro Eka.
Kegiatan ini menjadi ruang pembekalan bagi Finalis Duta GenRe Bali 2026 sebelum memasuki tahapan karantina. Melalui tema โNgempu Bali & Bangga Kencanaโ, para finalis diharapkan mampu mengambil peran dalam menyosialisasikan isu kependudukan, pembangunan keluarga, dan ketahanan budaya Bali kepada generasi muda. (AA)





