๐๐ฒ๐ป๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ – DPC PDI Perjuangan dari empat wilayah di Bali, yakni Kota Denpasar, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Buleleng, dan Kabupaten Klungkung, menggelar audisi Lomba Mixologi Arak Bali pada Senin (18/5/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Aula Kantor DPD PDI Perjuangan Bali, Denpasar, itu diikuti 38 generasi muda yang berkompetisi mengolah arak tradisional menjadi minuman bernilai estetika, budaya, dan ekonomi tinggi.
Audisi wilayah Kabupaten Klungkung menampilkan dinamika menarik dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 14 kontestan. Di tengah dominasi peserta laki-laki, satu sosok berhasil mencuri perhatian dewan juri dan penonton, yakni Dewa Ayu Sri Wahyuni. Sebagai satu-satunya perempuan yang mengikuti audisi Klungkung, ia tampil percaya diri dan mampu meracik minuman berbahan dasar arak Bali dengan teknik presisi dan presentasi yang memukau.
Kerja keras dan kreativitasnya membuahkan hasil manis. Dewa Ayu Sri Wahyuni berhasil menyabet juara pertama audisi Kabupaten Klungkung, mengungguli 13 peserta lainnya. Prestasi ini menjadi pembuktian bahwa dunia mixologi terbuka lebar bagi perempuan dan bahwa kemampuan meracik tidak mengenal batasan gender.
Posisi juara kedua diraih I Nyoman Devan Rishikesha Sabha, sedangkan Arya Agung Mahendra Kusuma menempati peringkat ketiga. Ketiganya secara resmi akan mewakili Kabupaten Klungkung pada babak final yang dijadwalkan berlangsung Juni 2026.
Di Kota Denpasar, persaingan berlangsung ketat sejak awal. I Kadek Ryan Budi Ardika keluar sebagai juara pertama dengan racikan yang memadukan arak murni, sari jeruk keprok, dan sentuhan jahe merah yang dinilai paling seimbang. Kadek Dika Sastrawan dan I Wayan Levi Johniawan masing-masing mengamankan posisi kedua dan ketiga.
Kabupaten Karangasem menampilkan dominasi menarik dari peserta yang tergabung di LPK Monarch Bali Candidasa. Ketiga posisi teratas diraih oleh siswa lembaga tersebut: I Kadek Agus Ariya (juara pertama), I Wayan Taman Artha (kedua), dan I Kadek Buda Arnawa (ketiga). Penampilan mereka dinilai menonjolkan profesionalisme hospitality dengan tetap mempertahankan karakter lokal arak.
Sementara itu, perwakilan Kabupaten Buleleng juga tak kalah unjuk gigi. Ketut Rino Suyastrawan berhasil meraih gelar juara pertama dengan inovasi racikan bernuansa rempah khas Buleleng. I Putu Aldy Muliastrawan dan I Komang Tri Widhi Ardika masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga.
Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, Wayan Koster, yang hadir memantau seluruh rangkaian audisi secara langsung, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme dan kualitas penampilan para peserta. Ia menegaskan bahwa arak Bali merupakan warisan kearifan lokal yang perlu diangkat melalui pendekatan kreatif, profesional, dan berkelanjutan.
โArak Bali bukan sekadar minuman tradisional, melainkan identitas budaya yang harus dilestarikan sekaligus dikembangkan. Lewat mixologi, generasi muda Bali membuktikan bahwa tradisi bisa berjalan beriringan dengan inovasi, standarisasi kualitas, dan nilai ekonomi yang inklusif,โ ujar Bapak Wayan Koster di sela acara.
Ia juga menekankan komitmen partai untuk terus mendorong kebijakan yang mendukung legalisasi, sertifikasi keamanan pangan, serta pembinaan industri arak agar semakin kompetitif di pasar domestik maupun internasional.
Dengan lolosnya 12 peserta terbaik dari empat wilayah, babak final Lomba Mixologi Arak Bali kini menanti pada Juni 2026. Panitia rencananya akan menggelar pendampingan teknis, masterclass bersama mixologist profesional, serta sesi presentasi bisnis untuk membekali para finalis sebelum melaju ke panggung utama.
Melalui ajang ini, DPD PDI Perjuangan Bali berharap tercipta ekosistem kreatif yang tidak hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga mendorong transformasi persepsi masyarakat terhadap arak. Dengan pendekatan yang terukur, arak Bali diharapkan dapat bertransformasi dari produk tradisional menjadi komoditas ekonomi kreatif yang berstandar keamanan pangan, ramah pariwisata, dan kebanggaan budaya Bali.
Final mendatang juga diproyeksikan menjadi momentum kolaborasi strategis antara pelaku usaha, lembaga pendidikan kepariwisataan, pemerintah daerah, dan komunitas budaya dalam menyusun peta jalan pengembangan industri arak Bali yang berkelanjutan. (AA)





