๐๐ฎ๐น๐ถ๐ฝ๐๐๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฒ๐๐.๐ฐ๐ผ๐บ, ๐๐ฒ๐ป๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ – Rencana besar Pemerintah Provinsi Bali untuk menghadirkan sistem transportasi modern melalui proyek “Bali Subway” kini menuai sorotan tajam. Proyek yang digadang-gadang sebagai solusi pamungkas atas kemacetan kronis di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan) ini dinilai jalan di tempat, bahkan terancam mangkrak.
Kritik pedas datang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pengemudi transportasi lokal hingga pengamat kebijakan publik. Mereka menilai progres pembangunan tidak berjalan sesuai janji, sementara kemacetan di jalur vital seperti Bandara Ngurah Rai โ Kuta โ Seminyak semakin parah tanpa penanganan konkret.
๐๐ผ๐ธ๐ฎ๐๐ถ “๐๐ฟ๐ผ๐๐ป๐ฑ๐ฏ๐ฟ๐ฒ๐ฎ๐ธ๐ถ๐ป๐ด” ๐๐ถ๐๐๐บ๐ฏ๐๐ต๐ถ ๐ฅ๐๐บ๐ฝ๐๐
Kekecewaan publik bukan tanpa dasar. Sebelumnya, pada 24 September 2024, seremonial peletakan batu pertama (groundbreaking) telah dilakukan secara meriah di kawasan Transit-Oriented Development (TOD) Central Parkir Kuta. Acara tersebut melibatkan Pemerintah Provinsi Bali, PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) selaku pelaksana proyek, dan PT Bumi Indah Prima (BIP) sebagai pemimpin investor.
Namun, lebih dari satu tahun berselang, lokasi tersebut justru menunjukkan pemandangan kontras. Pantauan di lapangan menunjukkan area yang seharusnya menjadi titik awal pembangunan kini tak terurus dan ditumbuhi rumput tinggi. Hingga kini, belum terlihat aktivitas fisik yang signifikan dari PT BIP yang disebut-sebut bertanggung jawab atas kelanjutan proyek ini.
Kondisi ini memicu anggapan di masyarakat bahwa rencana transportasi bawah tanah tersebut hanyalah wacana politik semata atau sekadar “pemberi harapan palsu” di tengah situasi macet yang kian mencekik.
๐ช๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฎ ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ต ๐ฆ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐บ๐ผ๐ป๐ถ
Gede Widnyana, salah seorang pengemudi transportasi lokal di Kecamatan Kuta, Badung, mengungkapkan kekecewaannya. Ia merasa lelah dengan janji-janji manis tanpa bukti fisik.
“Kami lelah hanya melihat seremoni peletakan batu pertama atau pengumuman kerja sama di berita. Mana fisiknya? Setiap hari kami terjebak macet berjam-jam, padahal katanya subway ini solusinya,” ujar Gede.
Keluhan serupa juga dirasakan para pelaku pariwisata. Kemacetan yang kerap dikeluhkan wisatawan domestik maupun mancanegara dikhawatirkan akan memperburuk citra Bali di mata dunia, mengingat persaingan destinasi wisata global yang kian ketat.
๐๐ฒ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ง๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ฝ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐๐ถ
Menanggapi ketidakjelasan ini, aktivis lingkungan sekaligus pengamat kebijakan publik di Bali, Putu Mardika, mendesak pemerintah untuk bersikap jujur dan transparan kepada publik.
Menurut Putu, jika memang terdapat kendalaโbaik itu pembebasan lahan, regulasi pusat, atau masalah pendanaanโmasyarakat berhak mengetahuinya. Hal ini penting untuk mencegah spekulasi liar mengenai adanya ketidakberesan dalam proses tender maupun kapabilitas investor.
“Sebenarnya apa sih yang terjadi? Kalau memang pemerintah dan investor serius merealisasikan, apa tidak malu kepada publik sudah dilakukan upacara permulaan, kok malah terkesan main-main,” tegas Putu.
Ia juga mempertanyakan keseriusan investor yang digandeng pemerintah. “Memang tidak ada investor lain yang serius dan bermodal?” sentilnya.
Kini, publik menanti langkah nyata dari PT SBDJ dan PT BIP untuk melanjutkan proyek Bali Subway, demi menjawab kebutuhan mendesak akan infrastruktur transportasi yang memadai di Pulau Dewata (red).





