Balipustakanews.com, Nusa Dua – Suasana di Mangupura Hall, The Westin Resort Nusa Dua, mencapai puncaknya tepat pukul 20.20 WITA, Kamis, 29 Januari 2026. Di atas panggung, Gubernur Bali Wayan Koster mengangkat gelas sloki berisi cairan bening itu tinggi-tinggi. Di sisinya, sang istri, Ibu Putri Koster, bersama tamu undangan Ibu Connie Rahakundini Bakrie, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya serta jajaran Forkompinda yang hadir turut serta dalam ritual pamungkas malam itu: “Arak Toast”.
Bagi Gubernur Koster, denting gelas malam itu bukan sekadar perayaan seremonial Hari Arak Bali yang keenam. Itu adalah penanda babak baru legalitas penuh industri arak di Pulau Dewata, setelah sebelumnya ia memaparkan pidato panjang lebar sejak pukul 19.50 WITA.
“Arak Bali di laci penuh makna, warisan alami kekuatan rasa,” ujar Gubernur Koster menutup sambutannya dengan sajak, disambut riuh tepuk tangan undangan yang telah memadati aula sejak acara dibuka pukul 17.30 WITA.
๐๐น๐ธ๐ถ๐บ๐ถ๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฃ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฒ๐บ๐ถ
Setengah jam sebelumnya, saat naik ke podium pukul 19.50 WITA, Gubernur Koster tidak sekadar bicara soal gaya hidup. Ia menarik ingatan audiens mundur ke Maret 2020, saat pandemi COVID-19 pertama kali menghantam. Kala dunia medis gagap mencari penawar, Gubernur Koster berpaling pada kearifan lokal: Usada.
Ia menugaskan Profesor Gelgel dari Universitas Udayana untuk “mengulik” arak. Hasilnya bukan untuk pesta, melainkan ekstrak yang dibagikan gratis ke rumah sakit dan puskesmas. “Hasilnya mempercepat pemulihan pasien dari positif menjadi negatif,” kenang Gubernur Koster. Ia mengklaim, berkat intervensi arak inilah Bali bisa menjinakkan pandemi lebih cepat dibanding wilayah lain, tepatnya pada 7 Maret 2022.
Gubernur Koster sendiri adalah testimoni berjalan dari “doktrin” arak ini. Rutinitasnya tak lazim: kopi tanpa gula dicampur setengah sloki arak, ditenggak tiga kali sehariโpagi, siang, dan sore.
“Menurut ahli, Arak Bali punya pH 12 atau basa, sementara virus berkembang di lingkungan asam. Tubuh jadi bugar, tidak mudah lelah meski bekerja hingga malam,” ujarnya meyakinkan hadirin. Ia buru-buru menambahkan sebuah disclaimer: “Ingat, tujuannya kesehatan, bukan untuk mabuk.”
๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐น๐ฎ๐ต๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฅ๐ฒ๐ฑ ๐๐ฎ๐ฏ๐ฒ๐น
Sejak payung hukum Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 dibuka, arak tak lagi dipandang sebelah mata sebagai minuman oplosan. Di tahun 2026 ini, Gubernur Koster memamerkan data yang mengejutkan: di gerai Duty Free Bandara I Gusti Ngurah Rai, arak lokal menjadi primadona.
“Penjualannya ribuan liter per bulan. Mengalahkan merek global seperti Red Label,” kata Gubernur Koster dengan nada bangga.
Namun, ambisi Gubernur Koster tak berhenti di pintu bandara. Ia ingin arak bersanding sejajar dengan enam “dewa” alkohol dunia: Whiskey, Rum, Gin, Vodka, Tequila, dan Brandy. Gubernur Koster membidik posisi “The 7th Global Spirit”.
๐๐ฎ๐บ๐ฝ๐ ๐๐ถ๐ท๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐๐ฎ
Kado termanis di ulang tahun keenam ini datang dari Jakarta. Melobi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sejak September 2025, Pemerintah Provinsi Bali akhirnya mengantongi Izin Usaha Industri (IUI). Dokumen sakti itu diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika di sela acara malam itu. Kehadiran Putu Juli Ardika menjadi sinyal kuat dukungan pemerintah pusat terhadap hilirisasi industri arak lokal.
Dengan IUI di tangan, produksi arak kini tak lagi berjalan liar. Gubernur Koster bergerak taktis dengan menunjuk Perumda Bali, Kerta Bali Saguna, untuk membentuk anak usaha bernama PT Kanti Barak Sejahtera.
Entitas bisnis baru ini bakal menjadi “ibu asuh” bagi 18 koperasi arak dan petani tuak. Tugasnya vital: menstabilkan harga agar petani tidak buntung, sekaligus menjaga standar kualitas dari hulu ke hilir. Tak ingin kehabisan napas di bahan baku, Gubernur Koster juga menginstruksikan penanaman masif Kelapa Genjah yang bisa dipanen dalam empat tahun.
๐ฃ๐ฅ ๐๐ผ๐๐ผ๐น ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐๐ธ๐ฎ๐ถ
Kendati legalitas sudah di tangan, jalan menuju “Spirit Ketujuh Dunia” masih terjal. Gubernur Koster mengakui dua hambatan utama: botol dan cukai. Hingga kini, kemasan arak premium masih bergantung pada botol impor yang menggerus margin keuntungan. “Ke depan, kita harus produksi botol sendiri di Bali,” tegasnya.
Masalah kedua lebih pelik: cukai. Gubernur Koster berjanji akan terus menyurati Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng agar arak Bali mendapat keringanan pita cukai. Tanpa insentif ini, harga arak lokal akan sulit bersaing head-to-head dengan alkohol impor di pasar bebas.
Malam itu di Mangupura Hall, Gubernur Koster menegaskan posisinya. Ia bukan sedang mempromosikan gaya hidup hedonis, melainkan sedang menyelamatkan ekonomi lewat jalur tradisi.
“Saya tidak mengajarkan mabuk,” pungkas Gubernur Koster sebelum turun panggung untuk memimpin toast. “Saya mengajarkan mencintai produk lokal.” (AA).





