Balipustakanews.com, Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menjadi sorotan karena sering menjadi target perundungan (bullying) di media sosial, terutama terkait kebijakan-kebijakannya yang tegas dalam melindungi kepentingan dan budaya Bali.
Perundungan tersebut biasanya meningkat ketika Gubernur Koster mengeluarkan keputusan yang memprioritaskan nilai-nilai lokal, seperti penolakan terhadap hal-hal yang dianggap bertentangan dengan budaya dan kemanusiaan—sebagaimana terjadi pada isu Piala Dunia U-20 beberapa tahun lalu—serta upaya pelestarian adat istiadat, perlindungan produk lokal seperti Arak Bali, dan pembangunan infrastruktur di wilayah utara Bali.
Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang diusung Gubernur Koster, yang bertujuan membangun Bali secara seimbang antara aspek sekala (duniawi) dan niskala (spiritual) sesuai prinsip Tri Hita Karana, sering menjadi bahan olok-olok meski telah menghasilkan berbagai pencapaian nyata, termasuk penanganan pandemi Covid-19 yang baik serta pembangunan shortcut dan infrastruktur lainnya.
Menanggapi fenomena ini, Gubernur Koster menunjukkan sikap legowo dan dewasa. Ia tidak pernah membalas hujatan dengan emosi atau terlibat perdebatan di media sosial, melainkan memilih fokus pada tugas kepemimpinannya.
Gubernur Koster pernah menyatakan, “Saya sangat menikmati bully-bully itu. Kalau tidak ada bully dunia sepi. Kita tidak tahu mana baik dan buruk. Kalau dengan membully dia hidupnya bahagia, ya silakan saja. Hidup mulia itu membuat orang bahagia, bukan membuat orang marah.”
Beliau juga menganggap perundungan sebagai risiko seorang pemimpin yang justru menjadi penyemangat. “Terima kasih juga kepada para netizen yang membully-bully karena itu penyemangat. Kalau nggak ada yang marah berarti kita nanti bisa kurang semangat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gubernur Koster menegaskan, “Tugas kita adalah bekerja, bukan bicara di medsos. Di-bully itu risiko seorang pemimpin.”
Sikap bijak ini mencerminkan kematangan Gubernur Koster sebagai pemimpin yang memilih bekerja nyata untuk kemajuan Bali ketimbang terpancing emosi di ruang daring.
Di tengah dinamika opini publik di media sosial, dukungan terhadap kepemimpinan Gubernur Koster tetap mengemuka dari masyarakat Bali yang menghargai ikhlasnya dalam melayani pulau dewata. Ajaran Tat Twam Asi sering dikumandangkan sebagai pengingat untuk saling menghormati, termasuk terhadap pemimpin daerah (red).





