Balipustakanews.com, Buleleng – Ratusan siswa SMP di Kabupaten Buleleng mengalami kesulitan dalam membaca dengan lancar, meskipun kemampuan tersebut seharusnya sudah dikuasai sejak sekolah dasar (SD).
Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, mendorong Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) serta Dewan Pendidikan Buleleng untuk bekerja sama mengatasi masalah ini. Ia juga menyarankan agar penggunaan handphone (HP) di sekolah dibatasi.
“Beberapa anak mungkin tidak bisa menulis, tetapi sangat mahir dalam mengetik di HP atau menggunakan media sosial. Meskipun teknologi penting, langkah ini diperlukan agar siswa dapat lebih fokus pada pendidikan mereka,” ujar Supriatna dalam keterangan tertulisnya.
Supriatna juga mencatat kurangnya motivasi dari siswa serta peran keluarga yang kurang dalam mendukung proses pendidikan. Ia menyatakan bahwa pendidikan seharusnya bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah, tetapi juga orang tua yang harus mendampingi perkembangan anak.
Ketua Dewan Pendidikan Buleleng, I Made Sedana, menjelaskan bahwa fenomena ini menunjukkan rendahnya tingkat literasi siswa. Ia menyarankan Disdikpora untuk melakukan pemetaan kebutuhan masing-masing siswa, termasuk memeriksa apakah ada kebutuhan khusus. Sedana juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap metode pengajaran guru.
Sementara itu, Plt Kepala Disdikpora Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, mengungkapkan bahwa jumlah siswa SMP di Buleleng mencapai 34.062, dengan 155 di antaranya tidak bisa membaca dan 208 lainnya tidak lancar membaca.
Ariadi menyebutkan beberapa penyebab siswa kesulitan membaca, seperti kurangnya motivasi, masalah dalam proses pembelajaran, disleksia, disabilitas, dan kurangnya dukungan keluarga.
Faktor eksternal juga berperan, seperti dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ), kesenjangan literasi dari tingkat SD, serta masalah psikologis siswa akibat trauma keluarga atau perundungan. (DTK/PR)






Discussion about this post