Canang sari merupakan upakāra (perlengkapan) keagamaan umat Hindu di Bali untuk persembahan tiap harinya.Persembahan ini dapat kita temui di berbagai Pura, tempat sembahyang kecil di rumah-rumah, dan di jalan-jalan sebagai bagian dari sebuah persembahan yang lebih besar lagi.
Canang sendiri merupakan salah satu bentuk banten atau “persembahan”. Dari segi penggunaan, bentuk, dan perlengkapannya, canang dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain Canang Genten, Canang Burat Wangi, Lenge Wangi, Canang Sari, dan Canang Meraka. Frasa “canang sari” diperoleh dari kata sari (“inti, esensi”) dan canang (wadah anyaman daun kelapa). Menurut kamus bahasa Bali, canang merupakan sebuah kata benda yang dengan tingkatan bahasa halus yang memiliki arti “sirih”.Buku “Sembahyang menurut Hindu” menyebutkan bahwa pada zaman dulu sirih bernilai sangat bernilai tinggi dan menjadi lambang penghormatan. Sirih disuguhkan kepada tamu yang sangat dihormati.
Menurut Ida Pedanda Gede Made Gunung, seorang pedanda Bali , kata “canang” terdiri atas dua suku kata bahasa Kawi , “ca” (“indah”) dan “nang” (“tujuan”). Dengan demikian, pengertian canang dapat djabarkan menjadi sebuah sarana yang bertujuan untuk memohon keindahan (sundharam) ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Simbolisme dari bagian-bagian penyusun canang adalah sebagai berikut:
- Ceper

Ceper adalah alas dari sebuah canang yang memiliki bentuk segi empat dan melambangkan angga-sarira (badan). Keempat sisi ceper melambangkan pembentuk angga-sarira, yaitu Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, dan Panca Karmendriya. Canang yang dialasi ceper merupakan simbol Ardha Candra, sedangkan yang dialasi oleh tamas kecil merupakan simbol dari Windhu.
- Beras

Beras atau wija melambangkan Sang Hyang Ātma atau yang membuat badan menjadi hidup, melambangkan benih di awal kehidupan yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Ātma.
- Porosan

Porosan atau peporosan terbuat dari daun sirih, kapur, dan jambe (gambir) yang melambangkan Tri-Premana, yaitu Bayu (“pikiran”), Sabda (“perkataan”), dan Idep (“perbuatan”). Ketiganya membuat tubuh yang bernyawa dapat melakukan aktivitas. Porosan juga melambangkan Trimurti, yaitu Siwa (kapur), Wisnu (sirih), dan Brahma (gambir). Porosan mempunyai makna bahwa setiap umat harus mempunyai hati (poros) penuh cinta dan welas asih serta rasa syukur yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
- Jajan, tebu, dan pisang

Jajan, tebu, dan pisang menjadi simbol dari Tedong Ongkara yang melambangkan kekuatan Upetti, Stiti, dan Pralinan dalam kehidupan di alam semesta.
- Sampian Uras

Sampian uras atau juga disebut Duras dibuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar yang biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai yang melambangkan roda kehidupan dengan astaa iswaryanya (“delapan karakteristik’) yang menyertai setiap kehidupan umat manusia.






Discussion about this post