Balipustakanews.com, Denpasar – Monumen Perjuangan Puputan Badung di Denpasar kini tampil lebih megah dan tertata setelah revitalisasinya resmi diselesaikan. Berada di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung yang lebih dikenal sebagai Lapangan Puputan Badung, monumen ini menghadirkan perpaduan unsur sejarah, budaya, dan nilai heroisme yang merujuk pada peristiwa Puputan Badung 1906.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menegaskan bahwa monumen ini memiliki makna lebih dari sekadar simbol perjuangan masa lalu. “Monumen ini bukan hanya simbol kejayaan masa lalu. Tetapi, pusat pembelajaran sejarah dan kebudayaan bagi generasi kini dan mendatang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/11/2025).
Peresmian monumen dilakukan bertepatan dengan Hari Sugihan Bali pada Jumat (4/11). Revitalisasi tersebut meliputi pemugaran patung, pembaruan pedestal, penataan kolam, hingga penghijauan area taman yang mengelilinginya.
Jaya Negara menuturkan bahwa pemilihan Hari Sugihan Bali memiliki makna khusus. “Sugihan Bali adalah hari untuk menyucikan diri dan alam. Kami berharap nilai kesucian ini menjadi landasan masyarakat dalam memaknai perjuangan para pahlawan,” katanya. Ia menekankan bahwa keberanian dan ketulusan para leluhur adalah spirit yang terus menuntun perjalanan Bali.
Monumen ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran sejarah dan destinasi budaya bagi masyarakat. Selain menjadi tempat refleksi, kawasan tersebut juga dimaksudkan sebagai ruang interaksi yang memperkuat kesadaran akan identitas dan semangat perjuangan Bali. “Semoga menjadi inspirasi, memperkuat rasa bangga, serta memupuk semangat persatuan dan gotong royong,” imbuhnya.
Proses revitalisasi turut melibatkan seniman Denpasar, Marmar Herayukti. Dalam pembaruan terbarunya, monumen dirancang lebih ramah bagi penyandang disabilitas, melalui penyediaan ram kursi roda dan guiding block bagi penyandang tunanetra.
“Ram menuju area monumen sudah dapat diakses mandiri oleh penyandang disabilitas. Guiding block juga telah diperbaiki agar memberi isyarat ketika ada hambatan di depan atau samping,” jelas Marmar. Ia juga memastikan bahwa meski monumen dikelilingi kolam, penyandang tunanetra tetap aman saat bergerak karena gemericik air menjadi penanda alami.
Pada bagian pedestal, monumen kini menampilkan relief berbahan kuningan yang menceritakan perjuangan rakyat Badung. Patung utamanya pun kini diarahkan menghadap ke utara, berlawanan dari posisi sebelumnya yang menghadap ke selatan.
Dengan revitalisasi ini, Monumen Perjuangan Puputan Badung diharapkan tidak hanya mempercantik kawasan kota, tetapi juga menguatkan pemahaman masyarakat tentang sejarah lokal serta nilai heroisme yang diwariskan oleh para pejuang Badung. (prn)




