𝗕𝗮𝗹𝗶𝗽𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻𝗲𝘄𝘀.𝗰𝗼𝗺, 𝗗𝗲𝗻𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿 – Gubernur Bali Wayan Koster resmi membuka Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Senin (23/3). Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Koster mendorong olahraga menjadi ikon baru untuk mendatangkan wisatawan berkualitas ke Pulau Dewata.
Hadir didampingi Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta dan Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, Gubernur Koster menegaskan bahwa selain kekayaan budaya dan adat istiadat, sport tourism atau pariwisata olahraga di Bali harus digerakkan secara optimal.
“Dengan pelaksanaan sejumlah event olahraga yang mampu melibatkan atlet luar negeri, tentu saja akan meningkatkan jumlah kunjungan pariwisata ke Bali. Hal ini akan memberi peluang bagi majunya cabang olahraga,” ujar Gubernur Koster dalam sambutannya.
Gubernur Koster juga menginstruksikan agar pengurus KONI Bali memusatkan perhatian pada cabang olahraga (cabor) yang sejalan dengan potensi alamiah dan kearifan lokal Bali. Ia mengingatkan agar Bali tidak memaksakan diri pada cabor yang bukan menjadi keahlian utamanya.
“Jangan bertarung di jenis cabor yang bukan kemampuan kita. Naturalnya Bali kita harus tahu. Fokus bertarung pada cabang olahraga yang menjadi potensi alamiahnya Bali. Bertanding itu ilmunya, menang sebelum tanding,” tegas Gubernur Koster.
𝗙𝗼𝗸𝘂𝘀 𝗣𝗢𝗡 𝟮𝟬𝟮𝟴 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗲𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗦𝗽𝗼𝗿𝘁 𝗦𝗰𝗶𝗲𝗻𝗰𝗲
Dalam Musorprov ini, Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta yang maju sebagai calon tunggal Ketua KONI Bali diharapkan mampu memimpin tanpa ada cabor yang berjalan auto pilot. Terlebih, Bali tengah menyongsong ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 di NTB dan NTT.
Menanggapi amanat tersebut, Giri Prasta menyatakan komitmennya untuk membenahi pendataan atlet dari akar rumput, mulai dari tingkat banjar, desa, kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten/kota.
“Pendataan atlet harus akurat. Sulit memang bicara data, tapi lebih sulit lagi kalau tanpa data,” kata Giri Prasta.
Ia juga menyoroti pentingnya penerapan sains olahraga (sport science) dan pemanfaatan teknologi untuk memetakan potensi atlet, sejalan dengan jargon “kami datang untuk menang”. Terkait persiapan PON 2028 dan Porprov Bali 2027 di Kabupaten Buleleng, ia sepakat dengan Gubernur Koster untuk menerapkan pendekatan realistis.
“Kita harus lihat kearifan lokal dan nature Bali. Tidak semua cabor bisa dipaksakan, terutama yang membutuhkan venue khusus berstandar tinggi,” tuturnya.
𝗦𝗶𝗻𝗲𝗿𝗴𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗮𝗻𝗮𝗮𝗻 𝗟𝗲𝘄𝗮𝘁 “𝗕𝗮𝗽𝗮𝗸 𝗔𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁”
Terkait pengembangan fasilitas dan pembinaan, Giri Prasta membuka ruang kolaborasi pendanaan yang luas. Ia mendorong optimalisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSP/CSR) dari sektor swasta untuk menjadi “bapak angkat” bagi cabang-cabang olahraga di Bali.
“Program tiap cabor harus jelas dulu, baru kita hitung kebutuhan anggarannya. TJSP akan kita dorong jadi bapak angkat olahraga tanpa melanggar regulasi,” ungkapnya. Ia juga memastikan peluang penambahan anggaran KONI melalui APBD Perubahan tetap terbuka jika dibutuhkan.
Sementara itu, Wakil Kepala Bidang Organisasi KONI Pusat, Markus Othniel Mamahit, yang hadir membacakan sambutan Ketua KONI Pusat, turut mengapresiasi capaian Bali pada PON 2024. Bali sukses menduduki peringkat ke-7 dari 39 peserta dengan raihan 36 medali emas, 38 perak, dan 60 perunggu. Ia berharap Musorprov ini menjadi momentum evaluasi kepengurusan agar Bali siap mengejar prestasi yang lebih tinggi di PON 2028 mendatang (aa).





