Balipustakanews.com, Denpasar – Pemilik usaha kerajinan Gerabah Merta Sari di Denpasar, Nyoman Sulasmi, mengungkapkan harapannya agar generasi muda Bali tertarik menekuni dunia kerajinan gerabah sebagai pewaris budaya sekaligus pelaku ekonomi kreatif masa depan.
Menurut Sulasmi, kerajinan gerabah sering kali dianggap pekerjaan yang kotor dan kurang menarik, sehingga anak-anak muda cenderung menghindarinya, padahal profesi ini memiliki potensi penghasilan yang menjanjikan.
Saat ini, dari sekitar 20 perajin yang aktif di bawah bimbingannya, mayoritas adalah ibu rumah tangga berusia di atas 55 tahun, dan hampir tidak ada laki-laki yang terlibat.
Ia menambahkan, banyak generasi muda lebih memilih bekerja di sektor formal atau merantau ke luar negeri, sehingga profesi sebagai perajin tradisional mulai ditinggalkan.
Namun Sulasmi menegaskan bahwa jika ditekuni dengan serius, kerajinan gerabah tetap memiliki prospek cerah dan bisa bersaing dengan profesi lainnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Made Meni Artini, pengelola Gerabah Merta Sari, yang menyatakan bahwa Banjar Binoh Kaja sebagai salah satu sentra produksi gerabah di Bali perlu dijaga kelestariannya agar tidak punah.
Sebagai generasi penerus, ia berkomitmen mempertahankan eksistensi usaha ini dengan terus melakukan inovasi pada produk, serta mengajak kaum muda agar tertarik menjadi perajin gerabah.
Produk-produk gerabah Merta Sari selama ini dikenal stabil permintaannya. Barang-barang seperti cobek, gentong, pot bunga, paso, ketipluk, hingga perlengkapan upacara keagamaan masih sangat diminati karena harganya terjangkau dan fungsional.
Artini menekankan bahwa inovasi adalah kunci untuk menjaga keunikan dan daya saing produk mereka di pasar, sekaligus membuka peluang usaha baru.
Sulasmi juga menyampaikan bahwa jangkauan pemasaran Gerabah Merta Sari telah meluas, tidak hanya di Bali, tetapi juga ke berbagai daerah lain seperti Lampung, Sulawesi, dan Kalimantan. (ant/pr)






Discussion about this post