Balipustakanews.com, Denpasar – Stand-up comedy spesial bertajuk Mens Rea karya komika Pandji Pragiwaksono resmi tayang di Netflix sejak 27 Desember 2025 lalu.
Pertunjukan berdurasi hampir dua jam ini langsung menduduki posisi nomor satu di kategori TV Shows Indonesia, namun juga memicu perdebatan sengit di kalangan publik.
Mensa Rea, yang berarti “niat jahat” dalam istilah hukum Latin, menjadi spesial komedi ke-10 Pandji. Dalam pertunjukan ini, Pandji menyajikan satire politik tajam tanpa sensor, membahas absurditas budaya hukum, kehidupan sehari-hari, hingga kritik terhadap kondisi demokrasi pasca-Pilpres 2024.
Pandji tidak segan menyebut nama-nama tokoh publik, seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang disindir melalui candaan fisik terkait penampilan mata yang terlihat “ngantuk”. Materi penutupnya yang viral: “Polisi kita membunuh, tentara kita berpolitik, presiden kita mau memaafkan koruptor, wakil presiden kita… Gibran,” disambut standing ovation penonton di Indonesia Arena, Jakarta.
Beberapa materi lain menyentil politisi artis di Jawa Barat, proses kepemimpinan partai seperti Kaesang Pangarep di PSI, hingga fenomena keadilan yang baru bergerak jika kasus viral di media sosial.
Pertunjukan ini awalnya digelar dalam tur nasional sepanjang 2025 di 10 kota, sebelum direkam dan dirilis global via Netflix — menjadikan Pandji sebagai komika Indonesia pertama dengan spesial di platform tersebut.
Respons Publik Terbelah
Mensa Rea menuai pujian dari sebagian netizen yang menganggapnya sebagai kritik sosial cerdas dan edukatif. “Pandji berhasil membuat politik mudah dipahami lewat komedi,” kata salah satu penonton di media sosial.
Namun, tidak sedikit yang mengkritik, terutama soal candaan fisik terhadap Gibran. Dokter bedah plastik sekaligus musisi Tompi menilai materi tersebut melampaui batas. “Itu ptosis, kondisi medis, bukan bahan lelucon. Kritisi kebijakan, bukan fisik,” ujar Tompi.
Praktisi hukum Deolipa Yumara menyebut Pandji berpotensi dipidana berdasarkan pasal penghinaan terhadap presiden/wakil presiden di KUHP baru, jika ada laporan dari Gibran. Sementara mantan Menko Polhukam Mahfud MD membela Pandji: “Tidak bisa dihukum, karena pertunjukan direkam sebelum KUHP baru berlaku pada 2 Januari 2026.”
Pandji sendiri menegaskan Mens Rea bukan untuk menyerang individu, melainkan mengajak masyarakat sadar demokrasi. “Ini hiburan, tapi juga pengingat bahwa kita semua punya tanggung jawab,” katanya.
Hingga kini, Mens Rea terus trending dan menjadi bahan diskusi hangat, mencerminkan polarisasi opini di tengah iklim politik Indonesia saat ini (red).





