BALIPUSTAKANEWS – Suasana Kampung Tugu, Jakarta Utara, terasa gerah pada suatu sore Agustus 2022. Gerungan truk besar sesekali lewat di depan markas Krontjong Toegoe, salah satu kelompok musik keroncong yang masih eksis di kampung tersebut.
Dikenal sebagai salah satu musik hasil akulturasi budaya orang Portugis dengan budaya lokal sejak 1661, keroncong Tugu juga pernah ‘dijajah’ oleh Jepang saat Dai Nippon mulai menduduki wilayah Indonesia 80 tahun lalu.
Raut wajah penuh haru jelas terlihat dari Arthur James Michiels, seorang pemusik senior grup tersebut saat mengisahkan cerita yang diteruskan dari leluhurnya, soal bagaimana keroncong Tugu berjuang untuk tetap bernapas hingga merdeka bersama masyarakat Indonesia.
Krontjong Toegoe dibentuk Arend J. Michiels, ayah Arthur, pada 1988. Arthur juga keturunan kesembilan Titus Michiels, generasi pertama orang Portugis Kampung Tugu.
Sejenak kembali ke masa lalu. Musik keroncong di Tugu lahir dari sekelompok budak koloni Portugis asal Malaka yang dibawa ke Batavia pada 1661, dimerdekakan dan kemudian disebut kaum Madjikers.
Kaum Madjikers membawa serta pengetahuan budaya mereka yang terpengaruh Portugis, termasuk soal musik. Ketika semua alat musik serba terbatas di tanah baru, mereka pun mencoba berkreasi dengan bahan dan situasi di wilayah yang kini dikenal sebagai Tugu.
“Jadi, dalam kesunyian mereka membawakan lagu-lagu dalam bahasa Kreol, bahasa Portugis, bahasa ibu mereka. Menciptakan lagu-lagu, sama mungkin dengan kisahnya kaum budak menciptakan lagu blues,” cerita Arthur.
Berawal dari kesunyian,musik hasil kreasi para Madjikers itu kemudian mendapatkan perhatian luas, baik dari masyarakat lokal maupun kalangan borjuis yang didominasi keturunan Eropa di Batavia.
Bahkan lebih dari itu, para Madjikers pemusik khas Tugu yang kemudian dikenal sebagai keroncong itu jadi salah satu kelompok hiburan kelas atas, keluar dari batas wilayah Kampung Tugu.
Arthur menyebutkan pemusik keroncong dari Kampung Tugu pada 1820-an tampil di Weltevreden, daerah tempat tinggal utama orang-orang Eropa di pinggiran Batavia, Hindia Belanda. Kini, kawasan itu terbentang di sekitar RSPAD Gatot Subroto hingga Museum Gajah, Jakarta Pusat.
“Ini kan berarti menunjukkan bahwa pemusik-pemusik dari Tugu ini andal. Dan memiliki musik mereka sendiri dan belum pernah didengarkan oleh mereka (orang-orang Belanda). Berangkat dari situ, akhirnya dikenal masyarakat dan terbawa ke seluruh Nusantara,” lanjutnya.
Larangan Jepang
Namun, popularitas keroncong Tugu pun mulai surut saat masa kependudukan Jepang di Hindia Belanda pada 1940-an. Dalam masa pendudukan yang jauh lebih singkat dibandingkan Belanda itu, Jepang sempat melarang alunan musik keroncong, terutama keroncong Tugu.
“Ketika Jepang datang, seluruh kesenian musik keroncong ini terhenti. Karena pada masa kolonial (Belanda), keroncong itu sudah menjadi musik yang sangat digemari masyarakat, bisa buat dansa-dansi,” ungkap Arthur.
“Nah Jepang sendiri melarang. Akhirnya seluruh kegiatan berkesenian di Nusantara, di Maluku, di Batavia, di mana itu, berhenti,” jelasnya.
Cerita dari moyang yang diturunkan kepada Arthur diperkuat dengan sejumlah penelitian, salah satunya oleh pakar musikologi Victor Ganap dalam buku Krontjong Toegoe in Tugu Village: Generic Form of Indonesian Keroncong Music dalam Harmonia Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni (2007).
Dalam penelitian itu, Victor Ganap menuliskan musik keroncong benar-benar dilarang oleh Keimin Bunka Shidoso atau Badan Kebudayaan milik Jepang di Indonesia.
Sementara dalam penelitian FIB UI yang ditulis Agus Syamsudin & Rokhmani Santoso pada 1994, Keimin Bunka Shidosho bertujuan menghapus kebudayaan Barat.
“Dalam rangka membantu kebudayaan Timur dan menghimpun para seniman agar mau membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya,” tulis penelitian itu.
Dalam Perkembangan Musik Keroncong di Surakarta pada 1960-1990 yang ditulis Dani Ratna Sari, mengutip penelitian Chysanti Arumsari secara jelas mengungkapkan alasan Jepang melarang pertunjukan keroncong Tugu.
Jepang disebut melarang pertunjukan keroncong Tugu karena dinilai bisa membangkitkan semangat pemuda hingga memicu terjadinya pemberontakan.
Keroncong Tugu memang memiliki irama yang berbeda dari beberapa yang berkembang di kawasan lain di Pulau Jawa, seperti Surakarta. Irama keroncong Tugu lebih rancak, cepat, dan bersemangat.
Sedangkan keroncong di Surakarta disebut lebih lembut dan mendayu-dayu. Sehingga, Jepang menilai musik keroncong di Surakarta tidak membahayakan.
Kondisi tersebut, kata Arthur, membuat keroncong di Jawa Tengah semakin berkembang bahkan dijadikan alat propaganda, sedangkan keroncong Tugu harus kembali ‘pulang’ dan hanya dinikmati kelompok sendiri.
“Ketika ’42 Jepang datang, mau enggak mau orang Tugu hanya main di kalangan dia sendiri kayak di gereja, atau di rumah habis makan malam. Biasanya di dalam rumah, enggak lagi terang-terangan seperti dulu. Karena Jepang kan melarang pesta-pesta,” cerita Arthur.
Kemerdekaan Indonesia, Kemerdekaan Keroncong Tugu
Menyerahnya Jepang kepada Amerika dan sekutunya pada 1945 dalam Perang Dunia II tak hanya membuat Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya. Hal itu juga membuat keroncong Tugu mendapatkan kemerdekaan untuk kembali bermusik.
Nada dan irama yang selama ini disembunyikan bahkan dikubur bisa dibangkitkan kembali oleh orang-orang Tugu kala itu.
“Ya kemudian pascakemerdekaan, tahun-tahun ’47 baru mulai lagi. Karena Belanda sudah datang lagi kan? Jadi kami sudah enggak terlalu dibatasi,” tutur Arthur.
“Dan dulu juga masyarakat umum, mau pro-Belanda mau anti-Belanda juga menikmati, jadi enggak ada masalah,” lengkap Arthur menjelaskan popularitas jangka panjang dari keroncong Tugu.
Kini, ia masih yakin untuk meneruskan warisan tersebut kepada generasi-generasi baru. Ia juga berpesan agar generasi muda tak lengah menjaga warisan budaya di Indonesia.
Pesan ini disampaikan dengan emosional oleh Arthur, karena ia tak ingin para anak muda kembali menghadapi pengalaman buruk para moyangnya di masa lalu, pengalaman berdendang dalam kesunyian.
“Ya saya sih berharap bahwa pertama keroncong Tugu ini akan tetap ada. Regenerasi tetap terjadi. Tongkat estafet akan terus diberikan dari generasi ke generasi,” lengkap Arthur.
“Terus untuk masyarakat, terutama anak muda, silakan kalian bermain musik atau berbudaya apapun, tapi jangan lupakan budaya bangsa sendiri. Karena pertahanan terakhir kalian adalah mempertahankan budaya.” pungkas Arthur menahan haru.
(Lp/Google)
Discussion about this post