Balipustakanews.com, Jakarta – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan seluruh kader PDIP harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi, yakni penunjuk jalan yang menjaga arah perjuangan, melindungi rakyat, serta berpihak pada kelestarian alam.
Penegasan itu disampaikan Megawati dalam pidato politik peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan sekaligus pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2026 di Jakarta, Sabtu (10/1).
“Pandu adalah penunjuk jalan, penjaga arah, dan pelindung rakyat. Kader tidak boleh menjadi bagian dari kerusakan alam dan penderitaan rakyat,” kata Megawati.
Megawati menekankan legitimasi partai politik tidak ditentukan oleh usia organisasi maupun jumlah kursi kekuasaan, melainkan oleh keberpihakan nyata kepada rakyat dan kebenaran sejarah. Menurutnya, HUT partai harus menjadi momentum refleksi ideologis, termasuk kritik dan otokritik atas kerja-kerja kepartaian.
Dalam pidatonya, Megawati juga menyoroti krisis global yang meliputi ketegangan geopolitik, kemunduran demokrasi, ketimpangan sosial, serta krisis ekologis yang mengancam keselamatan rakyat. Ia menegaskan sikap PDIP menolak segala bentuk intervensi militer terhadap negara berdaulat.
“Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata. Keadilan tidak tumbuh dari agresi,” ujarnya, seraya menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog, diplomasi, dan hukum internasional.
Megawati turut menyinggung bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat hujan ekstrem pada akhir 2025. Ia menilai bencana tersebut bukan semata peristiwa alam, melainkan akibat kegagalan manusia merawat lingkungan dan menempatkan keselamatan rakyat di atas kepentingan ekonomi yang eksploitatif.
“Kerusakan lingkungan dilembagakan oleh kebijakan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban,” tegasnya.
Mengangkat tema Rakernas Satyam Eva Jayate—kebenaran pasti akan menang—Megawati menekankan pentingnya keberanian politik untuk berdiri di pihak kebenaran ekologis, sosial, dan ideologis. Subtema “Di Sanalah Aku Berdiri, Untuk Selama-Lamanya” disebut sebagai ikrar PDIP untuk setia bersama rakyat dan menjaga bumi.
Megawati juga mengingatkan kader agar tidak takut pada kebenaran, bahkan ketika harus berdiri sendiri. Menurutnya, politik sejati adalah politik moral, gotong royong, dan pengabdian.
“Sejarah tidak akan bertanya berapa jabatan yang pernah kalian duduki. Sejarah akan bertanya, di pihak siapa kalian berdiri ketika kebenaran diuji,” kata Megawati.
Pidato tersebut menutup rangkaian peringatan HUT ke-53 PDIP dengan seruan memperkuat disiplin ideologis, menjaga alam, melindungi rakyat, dan mengembalikan politik sebagai alat pengabdian (red).






