• Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Profile
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Sunday, February 1, 2026
Balipustakanews
  • Home
  • News
  • Bali
  • Teknologi
  • Ekbis
  • Health
  • Hiburan
  • Seni & Budaya
  • Lifestyle
  • Seksologi
  • Zodiak
  • Opini
  • Review
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Bali
  • Teknologi
  • Ekbis
  • Health
  • Hiburan
  • Seni & Budaya
  • Lifestyle
  • Seksologi
  • Zodiak
  • Opini
  • Review
No Result
View All Result
Balipustakanews
Home Opini

Lip Service Nasionalisme: Merdeka di Kata, Terjajah di Jiwa

Membaca Ulang Pesan 3 Stanza yang Menampar Realitas Bangsa Kita Hari Ini

reda/cy by reda/cy
January 28, 2026
in Opini
Lip Service Nasionalisme: Merdeka di Kata, Terjajah di Jiwa
Share Share Share

Balipustakanews.com, Denpasar – Bukan lagi sekadar ritual upacara Senin pagi. Kini, di lorong-lorong kantor BUMN, di balik meja pelayanan instansi pemerintah, hingga di berbagai sudut kantor daerah, tepat pukul 10.00 pagi, aktivitas dipaksa berhenti sejenak. Melalui pengeras suara, lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang.

Karyawan berdiri tegak di samping kubikel, pejabat menghentikan rapat penting, dan petugas loket menunda pelayanan sejenak.

Secara visual, ini adalah pemandangan yang menggetarkan: sebuah “jeda nasionalisme” di tengah hiruk-pikuk mengejar target kinerja dan birokrasi.

ArtikelTerhubung

Pemprov Bali Suntik Modal Lahan Rp145 Miliar untuk Gedung Baru BPD

Logika Sinterklas vs Neraca Bank

January 24, 2026
Ketika Bali Terpilih Sebagai World’s Best Destination 2026: Kemenangan yang Tak Datang Tiba-Tiba

Ketika Bali Terpilih Sebagai World’s Best Destination 2026: Kemenangan yang Tak Datang Tiba-Tiba

January 17, 2026

Namun, sadarkah kita? Di balik kekhidmatan itu, lagu yang kita nyanyikan—atau yang kita dengarkan—selama ini hanyalah sepertiga dari total doa dan sumpah yang dirakit oleh W.R. Supratman. Kita sering berhenti di Stanza I, seolah tugas kebangsaan kita selesai hanya dengan “bangun” dan “bersatu”. Padahal, jika kita berani menengok sisa lirik yang “hilang” di Stanza II dan III, kita akan menemukan cermin besar yang menampar wajah realitas kita hari ini.

Seringkali, saat musik itu mengalun setiap hari, pikiran kita tidak sedang meresapi utuhnya sumpah tersebut. Kita terjebak dalam formalitas pukul 10.00. Kita sukses mempraktikkan baris “Bangunlah badannya”, tapi masih terseok-seok dalam “Bangunlah jiwanya”.

Pertanyaan besarnya: Sudahkah kita benar-benar mewujudkan Indonesia yang “Raya”?

Paradoks “Bangunlah Jiwanya”: KKN yang Menjadi Budaya

Di Stanza I, W.R. Supratman meletakkan “jiwa” sebelum “badan”. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Ini adalah fondasi mentalitas bangsa.

Namun, lihatlah Indonesia hari ini. “Badan” kita memang makin gagah dengan infrastruktur yang meliuk membelah pulau. Tapi, “jiwa” bangsa ini sedang sakit parah. Kita dihadapkan pada praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang kian merajalela dan telanjang di depan mata.

Yang paling mengerikan bukan jumlah uang yang dikorup, melainkan bagaimana praktik lancung itu kini dianggap biasa. KKN seolah telah bertransformasi dari kejahatan luar biasa menjadi “budaya” dan standar operasional yang dimaklumi demi kelancaran urusan. Jabatan publik dibagi-bagi bak kue tart di pesta keluarga, sementara kompetensi dikesampingkan.

Saat pukul 10.00 pagi kita bernyanyi “Indonesia Bersatu”, di saat yang sama para elit justru bersatu untuk mengamankan kepentingan kelompoknya sendiri. Tanpa jiwa yang bersih dari mentalitas maling, pembangunan fisik hanyalah kosmetik yang menutupi kebobrokan moral.

Hilangnya “Sadar Budi”: Jeritan Hutan Sumatera

Jika kita menengok Stanza II yang jarang dinyanyikan itu, ada baris yang menusuk: “Sadarlah hatinya, sadarlah budinya.”

Stanza ini bicara tentang kekayaan alam dan tujuannya: “Indonesia Bahagia”. Namun, realitas hari ini menunjukkan krisis “sadar budi” dalam mengelola alam. Tengoklah apa yang terjadi pada hutan-hutan di Sumatera.

Demi angka pertumbuhan ekonomi dan komoditas sawit atau tambang, paru-paru dunia itu dibabat habis. Kita mengeksploitasi “Tanah yang Kaya” tanpa etika, tanpa “sadar budi”. Akibatnya, alam membalas dengan brutal. Bencana banjir bandang dan longsor yang menyapu pemukiman rakyat bukan lagi takdir Tuhan semata, melainkan buah dari keserakahan manusia yang gagal memaknai lirik lagu kebangsaannya sendiri. Kita mengeruk kekayaan, tapi mewariskan bencana.

Laut yang Belum Selamat: Ironi Pagar Laut

Sampai di Stanza III, Supratman menulis doa spesifik: “S’lamatlah rakyatnya… pulaunya, lautnya, semuanya.”

Hari ini, laut dan pesisir kita sedang tidak selamat. Jakarta dan pesisir utara Jawa perlahan tenggelam. Solusi yang ditawarkan? Membangun tanggul raksasa atau pagar laut (Giant Sea Wall).

Sepintas ini terlihat sebagai solusi teknik sipil yang hebat (“Bangunlah badannya”). Namun, jika direnungkan dengan Stanza III, ini adalah monumen kegagalan kita menjaga lingkungan (“Majulah negerinya”). Kita terpaksa memagari laut karena kita gagal menghentikan penyedotan air tanah yang berlebihan dan gagal merawat ekosistem mangrove yang menjadi benteng alami.

Kita memunggungi laut, merusak pesisir, lalu mencoba “menambalnya” dengan beton. Itu bukan wujud “Indonesia Raya” yang menjaga kesucian alamnya, melainkan wujud kepanikan ekologis.

Epilog: Sebuah PR yang Belum Selesai

Jadi, kebijakan memutar lagu Indonesia Raya setiap pukul 10.00 pagi adalah langkah awal yang baik untuk “mengingatkan”. Namun, nasionalisme simbolik ini akan sia-sia jika tidak bertransformasi menjadi nasionalisme substantif.

Lagu 3 Stanza itu bukan sekadar lirik puitis atau pengisi jeda kerja. Ia adalah blueprint yang menuntut kita untuk menolak normalisasi korupsi, menghentikan perkosaan terhadap hutan, dan memuliakan laut kita.

Mungkin besok, saat pukul 10.00 pagi tiba dan lagu itu kembali berkumandang, cobalah untuk tidak sekadar berdiri tegak. Cobalah untuk meresapi kegelisahan ini. Agar kita ingat, bahwa tugas kita bukan hanya berteriak “Merdeka!“, tetapi bekerja keras membebaskan bangsa ini dari belenggu korupsi dan bencana ekologi.

Untuk Indonesia Raya, mari kita bangun jiwanya, sadarkan budinya, dan selamatkan lautnya—secara utuh, bukan sepertiga-sepertiga.

Penulis : Anugrah Arifanto 

Tags: ASNBirokrasiBUMNHutan SumateraIndonesia Emas 2045.Indonesia RayaIndonesia Raya 3 StanzaKerusakan AlamKKNKorupsiKritik SosialLingkungan HidupNasionalismeOpiniPagar LautRefleksi KebangsaanRevolusi MentalWR Supratman
ShareSendTweet
Next Post
DPRD Bali Telusuri Dugaan 82 Hektare Mangrove Tahura Dikuasai KEK Kura-Kura Bali

DPRD Bali Telusuri Dugaan 82 Hektare Mangrove Tahura Dikuasai KEK Kura-Kura Bali

Gubernur Koster: Produk Lokal Tanpa Aksara Bali, Tak Usah Dipasarkan
Bali

Gubernur Koster: Produk Lokal Tanpa Aksara Bali, Tak Usah Dipasarkan

by reda/cy
February 1, 2026
0

Balipustakanews.com, Denpasar - Gubernur Bali Wayan Koster resmi membuka perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman...

Read more
Buka Bulan Bahasa Bali 2026, Gubernur Koster: Aksara Bali Bukan Sekadar Fashion
Bali

Buka Bulan Bahasa Bali 2026, Gubernur Koster: Aksara Bali Bukan Sekadar Fashion

February 1, 2026
Resmi Turun, Harga Pertamax Kini Rp 11.800 per Liter Mulai 1 Februari 2026
Bali

Resmi Turun, Harga Pertamax Kini Rp 11.800 per Liter Mulai 1 Februari 2026

February 1, 2026
Balipustakanews

Berita Online Bali Terkini & Terpercaya Berita Ekonomi, Bisnis, Wisata, Budaya Bali, Politik, Teknologi, Hukum, Kriminal, Pendidikan di Bali, Nasional & Dunia

Follow Us

Kategori Berita

  • Apps
  • Arak Bali
  • Automotive
  • Badung
  • Bahan Pokok
  • Bali
  • Bangli
  • Bawaslu badung
  • Bisnis
  • Buleleng
  • COK ACE
  • Covid 19
  • Denpasar
  • Edukasi
  • Ekbis
  • Fashion
  • FIFA-U20
  • Film
  • Gadget
  • Gaming
  • Gianyar
  • Gubernur Bali
  • Hari Pahlawan
  • Health
  • Health
  • Hiburan
  • Hukrim
  • I Gusti Ngurah Rai
  • Investasi dan Perekonomian Bali
  • Jakarta
  • Jembrana
  • Jepang
  • Karangasem
  • Kawasan Pura Besakih
  • KBLBB
  • KDRT
  • Kebakaran TPA
  • Kios Pedagang
  • Klungkung
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Liga Kampung
  • Mangupura
  • Margarana
  • Medan
  • Musik
  • Nasional
  • News
  • Ngayah
  • Ny putri koster
  • Opini
  • Pahlawan
  • Paritrana Award 2023
  • Pemilu
  • Pemilu 2024
  • Pemprov Bali
  • Penanganan Sampah
  • Pendidikan
  • Pengolahan Sampah
  • Perda Provinsi Bali
  • Perkemahan Pramuka
  • Perlindungan Anak
  • Pilpres 2024
  • Pj Gubernur Bali
  • Politik
  • Posyandu
  • Pramuka
  • Presiden RI
  • Program Pengelolaan sampah berbasis sumber
  • Pulau Samosir
  • Pura Agung Besakih
  • Review
  • Seksologi
  • Seni & Budaya
  • senimam
  • SP4M-LAPOR
  • Sports
  • Startup
  • Stunting
  • Tabanan
  • Teknologi
  • TP PKK
  • Travel
  • U – 20
  • UMKM
  • Warisan Leluhur
  • World
  • Zodiak

Berita Terbaru

Gubernur Koster: Produk Lokal Tanpa Aksara Bali, Tak Usah Dipasarkan

Gubernur Koster: Produk Lokal Tanpa Aksara Bali, Tak Usah Dipasarkan

February 1, 2026
Buka Bulan Bahasa Bali 2026, Gubernur Koster: Aksara Bali Bukan Sekadar Fashion

Buka Bulan Bahasa Bali 2026, Gubernur Koster: Aksara Bali Bukan Sekadar Fashion

February 1, 2026
Resmi Turun, Harga Pertamax Kini Rp 11.800 per Liter Mulai 1 Februari 2026

Resmi Turun, Harga Pertamax Kini Rp 11.800 per Liter Mulai 1 Februari 2026

February 1, 2026
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Profile
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Kontak

© 2020 Balipustakanews - Berita Bali Terkini & Terpercaya

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Bali
  • Teknologi
  • Ekbis
  • Health
  • Hiburan
  • Seni & Budaya
  • Lifestyle
  • Seksologi
  • Zodiak
  • Opini
  • Review

© 2020 Balipustakanews - Berita Bali Terkini & Terpercaya