𝗕𝗮𝗹𝗶𝗽𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻𝗲𝘄𝘀.𝗰𝗼𝗺, 𝗝𝗮𝗸𝗮𝗿𝘁𝗮 – Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri, menyampaikan surat duka cita atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Surat belasungkawa tersebut diantarkan secara langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Hasto Kristiyanto bersama Ketua DPP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah. Surat itu diterima oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Yang Mulia Mohammad Boroujerdi, di Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Jakarta, pada Selasa (3/3/2026) sore.
Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto mengungkapkan, penyampaian surat duka cita ini merupakan perwujudan dari napas ideologi partai dan sikap politik luar negeri Indonesia.
“PDI Perjuangan berpikir, bersikap dan bertindak dengan menjalankan Ideologi Pancasila baik bagi rakyat Indonesia maupun dunia. Sikap itulah yang disampaikan Ibu Megawati Soekarnoputri ketika menyampaikan surat duka cita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei,” ujar Hasto di Kedubes Iran, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Hasto menambahkan, langkah tersebut sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang secara tegas menolak penjajahan dan penindasan di atas dunia karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. “Sikap itulah yang menjadi doktrin Politik Luar Negeri bebas aktif,” tegasnya.

𝗞𝗲𝗰𝗮𝗺 𝗔𝗴𝗿𝗲𝘀𝗶 𝗠𝗶𝗹𝗶𝘁𝗲𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗗𝗶𝗮𝗹𝗼𝗴
Dalam surat bernomor 014/EX/KU/III/2026 yang ditulis pada 2 Maret 2026, Megawati menyampaikan rasa terkejut dan duka yang mendalam. Megawati secara tegas mewakili keluarga besar Soekarno serta rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian, keadilan, dan kedaulatan negara merdeka.
Dalam surat tersebut, Megawati juga menyoroti peristiwa gugurnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan militer mendadak yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
“Pada kesempatan ini, saya perlu menegaskan kembali bahwa bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara dan membahayakan perdamaian kawasan maupun dunia,” tulis Megawati dalam suratnya.
Ia meyakini bahwa penyelesaian konflik internasional harus ditempuh melalui jalur dialog, perundingan yang adil, serta penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekerasan bersenjata.
𝗞𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗲𝗺𝘂𝗮𝗻 𝟮𝟬𝟬𝟰
Lebih lanjut, Megawati mengenang kembali memori kunjungannya ke Teheran pada tahun 2004 saat ia masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Kala itu, ia menghadiri Konferensi D-8 dan berkesempatan bertatap muka langsung dengan Ayatollah Ali Khamenei.
“Saya merasakan sambutan persahabatan yang hangat serta kharisma kepemimpinan yang terpancar dalam diri beliau,” ungkap Megawati.
Bagi Megawati, sosok Khamenei bukan sekadar pemimpin spiritual dan negarawan yang konsisten melawan imperialisme, tetapi juga tokoh yang memiliki kedekatan pemikiran dengan sang ayah, Proklamator RI Soekarno. Ia menyebut, Khamenei sejak muda telah mengagumi pemikiran Bung Karno dan menjadikan Pancasila serta Dasa Sila Bandung sebagai referensi perjuangannya.
“Dalam kepemimpinan beliau kami menangkap gema semangat anti-kolonialisme, solidaritas dunia ketiga, dan tekad untuk menolak segala bentuk dominasi dan ketidakadilan global,” paparnya.
Menutup suratnya, Megawati mendoakan agar Ayatollah Ali Khamenei mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan rakyat Iran diberikan kekuatan serta persatuan untuk melewati masa-masa sulit ini.
“Semoga persahabatan antara bangsa Indonesia dan bangsa Iran tetap terpelihara dan bahkan semakin dipererat di masa yang akan datang,” tutup Megawati (aa).







