Balipustakanews.com, Denpasar – Awal Januari 2026 membawa kabar yang membuat dada saya, dan mungkin jutaan warga Indonesia lainnya, terasa hangat. Bali dinobatkan sebagai World’s Best Destination versi Travelers’ Choice Awards: Best of the Best dari TripAdvisor. Bukan penghargaan sembarangan—gelar ini lahir dari jutaan ulasan wisatawan sungguhan yang jatuh cinta pada pulau kecil di ujung selatan khatulistiwa ini. Bali mengalahkan London, Dubai, bahkan destinasi kelas dunia lain. Sebuah capaian yang membuat kita bertanya: apa sebenarnya rahasia Bali?
Jawabannya tentu tidak tunggal. Bali punya alam yang dramatis, budaya Hindu yang hidup, seni yang berdenyut di setiap desa, serta keramahan warga yang seolah diwariskan turun-temurun. Namun di balik pesona itu, ada peran kebijakan dan kepemimpinan yang tak bisa diabaikan.
Nama Wayan Koster, Gubernur Bali dua periode, kerap disebut sebagai figur yang menaruh fondasi penting bagi arah baru pariwisata Bali.
Sejak awal menjabat, Koster membawa narasi yang agak berbeda: Bali harus mengejar kualitas, bukan sekadar kuantitas wisatawan. Kalimatnya yang terkenal, “Kita butuh wisatawan berkualitas, bukan yang merusak,” terasa relevan hingga hari ini. Di tengah euforia pariwisata massal, ia berani mengeluarkan kebijakan yang tidak selalu populer—pembatasan perilaku wisatawan asing yang tak menghormati adat, larangan plastik sekali pakai, hingga penataan kawasan suci agar tak berubah menjadi taman hiburan.
Pandemi sempat menjatuhkan Bali ke titik nadir. Jalanan lengang, hotel tutup, pekerja pariwisata pulang kampung. Namun dari masa gelap itulah lahir gagasan Bali Bangkit yang menekankan pariwisata hijau.
Restorasi mangrove, pemberdayaan desa adat, promosi ekowisata, hingga larangan kendaraan bermotor di area tertentu menjadi langkah nyata. Hasilnya mulai terlihat pada 2025 ketika tujuh juta wisatawan datang dengan dampak lingkungan yang relatif lebih terkendali.
Tentu Bali bukan surga tanpa cela. Kita semua tahu keluhan klasiknya: kemacetan di Kuta dan Canggu yang menguji kesabaran, sampah plastik yang muncul tiap musim hujan, serta ancaman overtourism. Saya sendiri pernah terjebak dua jam hanya untuk menempuh jarak beberapa kilometer. Realitas ini sering menjadi amunisi kritik media asing yang meramal Bali akan “jatuh kelas”.
Namun anehnya, prediksi itu tak terbukti. Mengapa? Karena inti Bali bukan hanya infrastruktur, melainkan jiwa. Wisatawan mungkin mengeluh soal macet, tetapi mereka pulang dengan kenangan menonton tari kecak di Uluwatu, menyusuri sawah Tegallalang, atau merasakan hening di Pura Besakih. Pengalaman kultural itulah yang tak dimiliki destinasi lain.
Wacana regulasi baru 2026 tentang persyaratan bukti dana bagi wisatawan asing memang memicu pro dan kontra. Sebagian menilai diskriminatif, sebagian lagi melihatnya sebagai filter demi menjaga martabat Bali. Saya cenderung pada pandangan kedua: Bali berhak memilih tamunya, sebagaimana rumah berhak menentukan siapa yang pantas masuk.
Penghargaan dunia ini patut dirayakan, tetapi bukan untuk berpuas diri. Justru inilah alarm agar kita bekerja lebih serius: mengelola sampah secara konsisten, membenahi transportasi publik, dan melindungi ruang hidup masyarakat lokal. Tanpa itu, gelar nomor satu hanya akan menjadi poster indah yang rapuh.
Bali hari ini adalah cermin Indonesia: penuh keindahan sekaligus tantangan. Ia dicintai bukan karena sempurna, melainkan karena mampu memikat hati meski punya luka.
Semoga kebanggaan 2026 menjadi titik awal, bukan garis akhir, untuk menjaga Bali tetap menjadi surga yang manusiawi—bagi tamu, bagi alam, dan terutama bagi warganya sendiri.
Penulis : Anugrah Arifanto






