BALIPUSTAKANEWS – Ngaben merupakan tradisi agama Hindu yang dilakukan secara turun temurun. Tradisi ini sangat mudah ditemukan di Pulau Bali. Dalam upacara ngaben ini banyak sarana dan prasarana yang digunakan. Salah satunya “Lembu” atau “Petualangan”.
Fungsi petulangan dalam upacara ngaben sangat erat kaitannya dengan kepercayaan nenek moyang terhadap binatang-binatang yang dianggap suci, keramat, memiliki kekuatan dan dijadikan lambang-lambang tertentu.
Di Bali kepercayaan terhadap binatang lembu sebagai binatang yang disucikan. Lembu dipercaya sebagai wahananya Dewa Siwa. Dewa Brahma dipandang sebagai dewa pencipta segala yang ada, wahananya binatang singa. Sedangkan Dewa Wisnu ber-fungsi sebagai pemelihara, wahananya naga. Binatang-binatang tersebut disucikan, dihormati, sebagaimana menghormati dewa-dewa dengan manifestasinya masing-masing.
Petulangan dengan motif binatang, mengandung arti sebagai petunjuk jalan ke sorga bagi roh orang yang telah meninggal. Binatang nama lainnya sattwa terdiri dari kata sat dan twa. Sat berarti inti (esensiil); twa berarti sifat. Jadi sattwa berarti bersifat esensiil dalam agama ialah Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).
Dengan menggunakan petulangan berbentuk binatang, mengandung maksud agar roh secepatnya menuju Siwa Loka (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Sedangkan binatang tersebut sebagai perwujudan petu-langan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan umat terhadap kesucian dari binatang tersebut.
- Dalam pengertian umum petulangan berfungsi sebagai tempat membakar jenasah dan secara spiritual, berfungsi sebagai pengantar roh ke alam roh (sorga atau neraka) sesuai dengan hasil perbuatan di dunia.
- Menunjukkan jenis sekte seseorang yang dianut leluhurnya.
- Menunjukkan watak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat.
- Menunjukkan rasa bakti dan penghormatan terhadap para dewa, karena dengan meniru wahananya sebagai sarana upacara. Maka seolah-olah lebih dekat dengan Ida Sang Hyang Widhi.
- Sebagai pernyataan rasa seni yang menimbulkan kepuasan batin bagi yang diupacarai, orang yang menyelenggarakan upacara, seniman (sangging) yang mengerjakannya, dan masyarakat luas yang menikmatinya.
(Sy/Google)
Discussion about this post