Balipustakanews.com, Tabanan – Tak ada hingar-bingar pesta di Wantilan Desa Adat Bedha, Tabanan, Jumat, 23 Januari 2026 pagi. Angka 79 tahun itu tak dirayakan dengan tiup lilin di ruangan berpendingin udara atau potong tumpeng raksasa di panggung megah. Di Desa Bongan itu, perayaan justru merunduk ke bumi: hening, namun basah oleh keringat dan tanah.
Hari ini, tepat di hari kelahirannya, Megawati Soekarnoputri genap berusia 79 tahun. Di “kandang banteng” Kabupaten Tabanan, para kader PDI Perjuangan memilih merayakannya dengan cara yang tak lazim bagi elit politik kebanyakan. Mereka “pulang” ke alam.
Di bawah naungan atap wantilan, ratusan kader fraksi dan warga desa berbaur. I Made Dirga, Ketua Panitia acara itu, tampak sibuk namun raut wajahnya takzim. Pria yang menjabat Wakil Ketua Bidang Kehormatan Partai ini tak sedang berpidato tentang strategi pemenangan pemilu.
Ia bicara soal tanah, air, dan udara.
“Merawat pertiwi tak cukup dengan wacana,” kata Dirga. Suaranya tegas. Bagi dia, perayaan ulang tahun sang Ketua Umum adalah momentum meneguhkan nilai perjuangan yang berpihak pada rakyat dan lingkungan—sebuah “politik hijau” yang nyata.
Prosesi dimulai. Seekor burung dilepas dari genggaman tangan, mengepak sayap membelah udara pagi. Di sisi lain, benih ikan ditebar ke aliran sungai, memecah ketenangan air, membawa harapan tentang siklus hidup yang terus berputar. Tak ketinggalan, bibit-bibit pohon ditanam ke dalam rahim bumi. Simbolisasinya jelas: kebebasan, keberlanjutan, dan masa depan.
Tidak ada jarak antara pejabat partai dan rakyat jelata hari itu. Mereka sama-sama mengotori tangan dengan tanah. Sebuah pemandangan yang—meminjam istilah Dirga—menunjukkan kuatnya ikatan emosional antara partai dan wong cilik. Semangat gotong royong menjadi energi yang menggerakkan mereka.
Kegiatan di Bedha ini seolah menjadi antitesis dari keriuhan politik praktis. Ia mengirim pesan sunyi namun menohok: bahwa politik bukan sekadar urusan berebut kursi kekuasaan, melainkan juga soal menjaga tanah tempat kursi itu berpijak.
Di usia senjanya, Megawati mungkin tidak hadir secara fisik di tengah sawah Tabanan itu. Namun, di setiap benih ikan yang berenang dan tunas pohon yang mulai mengakar, napas perjuangannya tentang harmoni manusia dan alam seolah mewujud nyata. Di Tabanan, cinta pada Ibu Pertiwi dirayakan dengan cara yang paling purba: merawatnya (red).





