Balipustakanews.com, Denpasar – ๐๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ซ๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ซ๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข. ๐๐ช ๐๐ข๐ต๐ช๐ญ๐ถ๐ธ๐ช๐ฉ, ๐๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ 2025 ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ, ๐ฌ๐ฆ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ญ ๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ด.
Barisan logam itu dipasang oleh para petani sebagai tanda protesโsebuah teriakan bisu menentang kebijakan pemerintah yang dianggap abai pada nasib mereka. Aksi ini mengguncang citra Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, sekaligus menyurutkan arus wisatawan yang biasanya membanjiri kawasan Tabanan tersebut.
Realitas retak inilah yang ditangkap oleh Putu โPWโ Winata. Di tengah gemuruh pariwisata Bali yang kerap hanya menjual eksotisme, PW memilih jalan sunyi: merekam kecemasan. Lewat pameran tunggal bertajuk Jatiluwih, A Beauty Interrupted yang digelar di Deus Ex Machina Bali, Canggu, Badung, PW tidak sedang menawarkan kartu pos pemandangan. Ia menyuguhkan sebuah interupsi.
๐๐ถ ๐๐ฎ๐น๐ถ๐ธ ๐๐๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ “๐ ๐ผ๐ผ๐ถ ๐๐ป๐ฑ๐ถรซ”
Berlangsung sejak 24 Januari hingga 22 Februari 2026, pameran ini menampilkan 42 karya yang mayoritas adalah lukisan. Namun, jangan harap menemukan lukisan Mooi Indiรซ yang serba molek dan tenteram. PW menampik realisme yang memanjakan mata.
Alih-alih melukis sawah yang hijau ranau, PW memilih pendekatan abstrak. Kanvasnya dipenuhi komposisi warna berlapis, dengan garis-garis mengalir yang menyerupai jalur irigasi subak. Teksturnya tebal, seolah menyimpan jejak kerja keras, keringat, dan daki para petani. Bidang-bidang warna yang bertumpuk mengingatkan pada undakan terasering, namun permukaannya merekam endapan waktu dan emosi yang kompleks: tenaga, harapan, hingga doa yang tak kunjung terjawab.
Kurator pameran, Arif Bagus Prasetyo, membaca karya-karya PW sebagai respons atas ketegangan yang kian meruncing di Jatiluwih.
“Peristiwa protes petani Desember lalu menyingkap konflik tersembunyi antara regulasi, industri pariwisata, dan hak hidup petani di kawasan Warisan Budaya Dunia. Ketegangan antara nilai spiritual-ekologis sistem subak dan tuntutan kapitalistik pariwisata modern menjadi dilema utama hari ini,” ujar Arif.
๐ฆ๐ฒ๐ป๐ด ๐ฆ๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐ ๐ฒ๐๐ฎ๐ณ๐ผ๐ฟ๐ฎ ๐๐๐ธ๐ฎ
Puncak dari kritik visual PW hadir dalam bentuk instalasi seng di ruang pamer. Material ini bukan sekadar elemen artistik, melainkan rujukan langsung pada peristiwa protes petani subak akhir tahun lalu. Seng, yang dingin dan industrial, menjadi simbol kontras yang menyakitkan di tengah lanskap agraris yang sakral.
โSaya memasukkan instalasi seng karena kejadian saat para petani memprotes kebijakan pemerintah yang mereka anggap kurang berpihak,โ kata PW. Bagi sang seniman, seng itu adalah luka. Ia adalah retakan yang menganga di balik kemilau pariwisata yang selama ini diagung-agungkan.
Karya-karya PW tidak hadir dalam keutuhan yang nyaman. Ada kepadatan visual yang meriah di satu sisi, namun di sisi lain, ia membiarkan ruang-ruang kosong mendominasi kanvas. Kontras ini adalah strategi visual untuk menghadirkan jedaโsebuah “interupsi” yang merepresentasikan keheningan sarat kecemasan dan kehampaan ekonomi yang dirasakan masyarakat lokal.
๐๐ฟ๐๐ถ๐ฝ ๐๐บ๐ผ๐๐ถ๐ผ๐ป๐ฎ๐น ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐บ๐ฝ๐๐ป๐ด ๐๐ธ๐๐ฝ๐ฎ๐๐ฟ๐ถ๐ฎ๐
Pemilihan lokasi di Deus Ex Machina, Cangguโjantung gaya hidup ekspatriat dan wisatawan mancanegaraโbukan tanpa alasan. PW sadar betul akan siapa yang perlu mendengar “teriakan” Jatiluwih ini.
“Deus punya pasar dan peminat dari luar negeri. Saya ingin memperkenalkan isu Jatiluwih kepada ekspat dan wisatawan. Itu tantangan, tapi penting,” tegas PW. Ia ingin narasi tentang Jatiluwih tidak hanya berhenti sebagai kekaguman visual, tetapi meluas menjadi kesadaran akan sistem hidup yang rapuh.
Proses kreatif ini telah dijalani PW sejak 2024. Melalui riset lapangan dan keterlibatan emosional yang intens dengan masyarakat subak, ia melahirkan lebih dari seratus karya. Pameran ini menjadi fase akhir dari eksplorasi artistiknya, sebuah konklusi bahwa warisan budaya tak cukup hanya diberi label UNESCO.
“Kita tahu bersama Jatiluwih adalah warisan budaya. Tapi saya melihat masih banyak hal yang perlu diperbaiki, terutama soal sistem irigasi dan bagaimana warisan ini dijaga bersama,” pungkas PW.
Melalui Jatiluwih, A Beauty Interrupted, Putu Winata tidak menyodorkan solusi instan. Ia hanya menyusun arsip emosional dan ruang perenungan.
Di kanvas-kanvasnya, Jatiluwih hadir sebagai pengingat: di balik panorama yang memukau, ada manusia yang menuntut keadilan, keberpihakan, dan tanggung jawab yang tak boleh lagi sunyi (red).





