Balipustakanews.com, Buleleng – Sebuah rumah warga di kawasan Turyapada Tower, Desa Adat Amerta Sari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, tertimbun longsor usai hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam.
Peristiwa longsor itu terjadi pada Minggu (11/1). Akibat kejadian tersebut, satu unit rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan parah. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfos) Provinsi Bali, Gede Pramana, menjelaskan kawasan Turyapada Tower saat ini masih dalam tahap pembaruan dan pekerjaan lanjutan, termasuk pekerjaan konduksi yang masuk dalam tahap kedua pembangunan.
“Kawasan ini masih pekerjaan lanjutan. Kita tahu wilayah tersebut merupakan daerah kritis,” kata Pramana, Selasa (13/1).
Ia menambahkan, dengan kondisi geografis yang rawan, hujan berintensitas tinggi memang berpotensi besar memicu terjadinya longsor. Menurutnya, longsor terjadi di badan jalan dengan lebar sekitar tiga meter.
“Material longsoran menutup akses jalan dan berdampak langsung pada satu unit rumah warga yang berada tepat di bawah jalan tersebut,” ujarnya.
Pramana menilai, secara teknis lokasi rumah tersebut memang tidak layak untuk pembangunan hunian karena berada di area rawan longsor. “Posisi rumah berada di bawah jalan. Secara teknis, lokasi itu sebenarnya tidak layak untuk pembangunan rumah karena sangat rawan,” jelasnya.
Rumah tersebut diketahui dihuni oleh I Kadek Ribek bersama istri dan satu orang anaknya. Ketiganya berhasil dievakuasi dengan cepat saat kejadian berlangsung, lantaran alat berat sudah berada di lokasi.
“Syukurnya tidak ada korban jiwa. Evakuasi bisa dilakukan cepat karena alat berat sudah ada di sana,” katanya.
Rumah yang terdampak merupakan bangunan nonpermanen dengan struktur bambu dan atap seng. Meski mengalami kerusakan, kerugian materi yang ditimbulkan dinilai tidak signifikan.
Pasca-longsor, akses jalan di kawasan tersebut sempat tidak bisa dilalui akibat tertutup lumpur dan material longsoran. Proses pembersihan baru rampung keesokan harinya sekitar pukul 14.00 Wita.
“Saat ini jalan sudah bisa dilalui kendaraan. Kondisi sudah aman dan terkendali,” ungkap Pramana.
Sementara itu, keluarga terdampak sempat dievakuasi ke kawasan Turyapada Tower sebelum akhirnya kembali ke rumah orang tua mereka di Desa Lemukih, karena kondisi rumah yang tertimbun longsor belum layak huni.
Pramana menyebutkan, Pemerintah Provinsi Bali kini tengah menyiapkan langkah pemulihan lahan serta melakukan kajian kemungkinan relokasi warga, mengingat kontur tanah di lokasi tersebut tergolong lemah dan berisiko tinggi.
“Kami sudah turun bersama tim appraisal untuk menilai kondisi lahan. Opsi relokasi akan dipertimbangkan karena kawasan tersebut memang rawan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa longsor tersebut tidak berasal dari bangunan tower. “Jarak lokasi longsor dari batas tanah sekitar tiga meter, dan dari bangunan utama tower sekitar 50 meter. Ini bukan longsor dari tower,” tegasnya.
Pramana mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama saat hujan deras, serta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi di media sosial. Ia menambahkan, kawasan Turyapada Tower telah ditutup sejak proses lelang terakhir demi alasan keselamatan.
Pemerintah Provinsi Bali memastikan akan terus melakukan penanganan lanjutan serta mempercepat penataan kawasan Turyapada Tower tahap II (red).







