Balipustakanews.com, Denpasar – Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa arah pembangunan Bali lima tahun ke depan akan berlandaskan pada nilai-nilai luhur peninggalan leluhur yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Pernyataan ini ia sampaikan dalam pidato perdananya setelah kembali dilantik sebagai Gubernur Bali, bersama Wakil Gubernur I Nyoman Giri Prasta, dalam Rapat Paripurna DPRD Bali pada Selasa, 4 Maret 2025.
Dalam pidatonya di hadapan pejabat daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan anggota legislatif, Koster menyampaikan bahwa keberhasilan dalam Pilkada 2024 mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap visi kepemimpinan yang berakar pada kearifan lokal.
Ia menyebut kemenangan tersebut sebagai berkah dari Tuhan, para leluhur, dan tokoh suci Bali. Oleh karena itu, pembangunan ke depan harus tetap mengikuti pedoman warisan spiritual dan budaya yang telah ditanamkan oleh para pendahulu.
Koster juga menekankan pentingnya filosofi Sad Kerthi sebagai dasar pembangunan. Filosofi ini mencakup enam aspek utama kehidupan: pemuliaan jiwa (Atma Kerthi), laut (Segara Kerthi), air (Danu Kerthi), hutan (Wana Kerthi), manusia (Jana Kerthi), dan alam semesta (Jagat Kerthi).
Ia mengutip ajaran dalam Bhisama Lontar Batur Kelawasan yang mengingatkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Jika prinsip ini diabaikan, Bali dapat menghadapi bencana seperti kerusakan alam, degradasi budaya, krisis air dan pangan, serta konflik sosial.
“Alam tidak boleh dirusak. Jika dilanggar, akan timbul berbagai bencana—mulai dari kelangkaan air, penyakit, hingga perpecahan sosial,” ujarnya.
Beberapa tantangan yang menurutnya perlu segera ditangani antara lain: konversi lahan yang masif, ancaman kekurangan air bersih, meningkatnya penyalahgunaan narkoba dan praktik prostitusi, serta pembelian aset oleh asing atas nama warga lokal.
Ia menekankan bahwa Bali harus dijaga agar tetap menjadi pusat spiritual dunia, bukan sekadar tujuan wisata yang dieksploitasi.
Koster juga melaporkan bahwa pada tahun 2024, perekonomian Bali tumbuh sebesar 5,48%, melampaui rata-rata nasional. Pariwisata masih menjadi tulang punggung utama, dengan 6,4 juta wisatawan asing menyumbang Rp 107 triliun ke devisa negara.
Namun, ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap pariwisata membuat ekonomi Bali rentan. Oleh karena itu, ia mendorong transformasi ekonomi menuju sektor lain seperti pertanian, industri kreatif, dan digital.
“Penting untuk menyeimbangkan peran sektor pariwisata dan non-pariwisata agar ekonomi Bali lebih tangguh,” jelasnya.
Koster juga menyoroti ketimpangan ekonomi antara wilayah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan) dan daerah lainnya di Bali. Sebagian besar pendapatan daerah masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan, sehingga pemerataan pembangunan menjadi fokus ke depan.
Untuk periode 2025–2030, ia menegaskan bahwa pembangunan akan diarahkan berdasarkan prinsip Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya. Ia juga menyampaikan pentingnya regulasi yang melindungi masyarakat Bali, termasuk membatasi kepemilikan properti oleh pihak asing dan menjaga warisan budaya dari eksploitasi.
“Pembangunan Bali harus berakar pada identitas dan nilai-nilai kita. Kita tidak boleh dikendalikan oleh investasi yang hanya menguras tanpa memberi manfaat bagi rakyat,” tegasnya.
Koster menutup pidatonya dengan ajakan kepada seluruh masyarakat Bali untuk bersatu menjaga harmoni dan membangun pulau ini berdasarkan semangat gotong royong dan ajaran leluhur.
“Bali bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan suci yang harus kita rawat bersama. Mari kita bangun Bali dengan hati, kebijaksanaan, dan kesetiaan pada nilai-nilai warisan leluhur,” pungkasnya. (kbs/pr)






Discussion about this post