Balipustakanews.com, Jakarta – Fenomena supermoon terbesar tahun ini akan terjadi pada 7 Oktober 2025. Bulan akan tampak lebih besar dan lebih terang dari biasanya, menjadikannya puncak penampakan bulan paling spektakuler sepanjang tahun.
Menurut laporan BBC, “Supermoon bisa tampak hingga 14% lebih besar dan 30% lebih terang dibanding Bulan purnama biasa.” Fenomena ini dikenal juga sebagai Harvest Moon karena bertepatan dengan musim panen di beberapa negara.
Supermoon terjadi ketika bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi atau perigee, sehingga tampak lebih besar walau ukurannya sebenarnya tidak berubah. NASA menjelaskan, saat itu orbit bulan berada dalam posisi paling dekat sehingga cahayanya tampak lebih terang dari biasanya.
Istilah supermoon pertama kali diperkenalkan oleh astrolog Richard Nolle pada 1979. Tahun ini, fenomena serupa juga akan muncul dua kali lagi, yakni pada 5 November dan 4 Desember 2025.
Warga dapat menyaksikan keindahan supermoon tanpa alat bantu apa pun karena cahayanya sangat jelas di langit malam. Tidak semua purnama bisa disebut supermoon, sebab hanya terjadi ketika posisi bulan sejajar dengan titik perigee.
Secara ilmiah, supermoon tidak menimbulkan dampak besar terhadap Bumi. Namun, gravitasi bulan dapat memperkuat pasang surut laut sehingga memunculkan apa yang disebut pasang surut raja atau perigean spring tide.
Ahli astronomi Fred Espenak mencatat, tarikan gravitasi supermoon hanya sekitar empat persen lebih kuat dari biasanya. Kondisi pasang tinggi ini biasanya terjadi sehari setelah fase purnama dan juga dipengaruhi faktor cuaca serta bentuk garis pantai di setiap wilayah. (pr)







Discussion about this post