𝗕𝗮𝗹𝗶𝗽𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻𝗲𝘄𝘀.𝗰𝗼𝗺, 𝗗𝗲𝗻𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿 – Bali kembali menunjukkan kepada etalase bangsa bagaimana kearifan lokal mampu bersinergi dalam harmoni yang utuh dengan sistem pengamanan negara. Gelar Agung Pacalang Bali Tahun 2026 yang dihelat di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, pada akhir pekan lalu, bukan sekadar parade budaya. Kegiatan ini adalah proklamasi kesiapan desa adat dalam mengawal ketertiban sosial, khususnya menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Keberadaan pecalang kini tidak boleh lagi dipandang sebelah mata hanya sebagai ornamen tradisi pengawal upacara. Seperti yang ditegaskan oleh Gubernur Koster, peran pecalang saat ini berada di posisi yang sangat strategis. Mereka adalah garda terdepan pelindung tatanan masyarakat Bali, baik secara niskala maupun sakala.
Melalui payung kebijakan Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat (Sipandu Beradat), langkah kultural pecalang kini terintegrasi secara cerdas dengan instrumen keamanan negara, yakni TNI dan Polri. Sinergi ini adalah pengejawantahan nyata dari visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, sebuah ikhtiar merawat kesucian alam dan budaya dewata di tengah gempuran zaman.
Ujian sesungguhnya dari soliditas sistem keamanan terpadu ini ada di depan mata. Tahun ini, pelaksanaan Nyepi Saka 1948 berhimpitan dengan momen malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah. Sebuah kebetulan kalender yang menuntut tidak hanya kesiapsiagaan fisik aparatur dan pecalang, tetapi juga kedewasaan toleransi seluruh warga.
Di titik inilah peran pecalang menjadi amat krusial. Mereka diharapkan mampu menjadi penengah sekaligus pengayom, memastikan kedua perayaan keagamaan besar tersebut dapat berjalan dengan khidmat, aman, dan tanpa gesekan. Penggunaan teknologi digital secara real-time oleh pecalang untuk respons darurat, sebagaimana didorong oleh Gubernur Koster, merupakan langkah adaptif yang sangat patut diapresiasi demi menjawab tantangan pengamanan modern.
Lebih jauh, tantangan Bali saat ini bukan sekadar urusan ketertiban hari raya. Pulau Dewata terus didera oleh ancaman kompleks mulai dari masifnya alih fungsi lahan, darurat sampah, peredaran narkotika, hingga infiltrasi ideologi radikal yang berpotensi menggerus akar budaya. Menghadapi ancaman multidimensi ini, pecalang berfungsi sebagai benteng pertahanan sosial pertama di tingkat akar rumput.
Kita berharap penuh, soliditas antara pecalang, aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat tidak berhenti pada ranah seremonial di lapangan. Keteladanan toleransi dan keamanan berbasis adat dari Bali sejatinya adalah cerminan kebhinekaan Indonesia. Merawat harmoni di Pulau Dewata, pada hakikatnya, adalah merawat salah satu tiang penyangga utama tegaknya persatuan di Nusantara (aa).





