• Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Profile
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Saturday, January 17, 2026
Balipustakanews
  • Home
  • News
  • Bali
  • Teknologi
  • Ekbis
  • Health
  • Hiburan
  • Seni & Budaya
  • Lifestyle
  • Seksologi
  • Zodiak
  • Opini
  • Review
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Bali
  • Teknologi
  • Ekbis
  • Health
  • Hiburan
  • Seni & Budaya
  • Lifestyle
  • Seksologi
  • Zodiak
  • Opini
  • Review
No Result
View All Result
Balipustakanews
Home Opini

Dari “Oposisi” ke “Penyeimbang”: Ada Apa dengan PDIP Hari Ini?

Membaca ulang posisi PDIP di luar pemerintahan

reda/cy by reda/cy
January 11, 2026
in Opini, Politik
Dari “Oposisi” ke “Penyeimbang”: Ada Apa dengan PDIP Hari Ini?
Share Share Share

Balipustakanews.com, Jakarta – Ada satu hal yang belakangan ini terasa ganjil dalam peta politik nasional: PDI Perjuangan seolah bukan lagi PDI Perjuangan yang dulu.

Bagi sebagian orang yang mengikuti politik sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), PDIP dikenal sebagai partai yang tegas mengambil posisi. Saat itu, PDIP tidak ragu menyebut dirinya oposisi. Di luar pemerintahan, berdiri berhadap-hadapan, mengkritik kebijakan, menyuarakan perlawanan, dan memainkan peran check and balance secara terbuka.

Waktu itu, publik paham betul: PDIP tidak berada di lingkar kekuasaan, maka tugasnya mengawasi kekuasaan.

ArtikelTerhubung

Ketika Bali Terpilih Sebagai World’s Best Destination 2026: Kemenangan yang Tak Datang Tiba-Tiba

Ketika Bali Terpilih Sebagai World’s Best Destination 2026: Kemenangan yang Tak Datang Tiba-Tiba

January 17, 2026
PDIP Umumkan 21 Sikap Politik Usai Rakernas I 2026

PDIP Umumkan 21 Sikap Politik Usai Rakernas I 2026

January 13, 2026

Tapi suasana terasa berbeda hari ini.

Di era pemerintahan Prabowo Subianto, PDIP memang berada di luar kabinet. Namun, alih-alih menyebut diri sebagai oposisi, PDIP memilih istilah “Partai Penyeimbang” Alasan yang kerap disampaikan: dalam sistem Demokrasi Pancasila, Indonesia tidak mengenal oposisi.

Kalimat itu terdengar halus. Bahkan terkesan bijak. Tapi di situlah persoalannya.

Kalau Bukan Oposisi, Lalu Siapa yang Menghadang Kekuasaan?

Dalam praktik demokrasi modern, oposisi bukan sekadar soal istilah. Ia adalah fungsi. Fungsi untuk berbeda, mengoreksi, menolak, bahkan melawan ketika kebijakan dinilai keliru atau merugikan rakyat.

Ketika sebuah partai besar seperti PDIP enggan menyebut dirinya oposisi, publik wajar bertanya:

Apakah ini sekadar soal bahasa, atau ada perubahan sikap yang lebih dalam?

Sebab “penyeimbang” terdengar lebih lunak dibanding “oposisi.”

Penyeimbang bisa berarti mengkritik, tapi juga bisa berarti ikut arus sambil sesekali menegur.

Penyeimbang bisa berada di luar, tapi juga bisa dekat.

Di sinilah kegelisahan banyak orang muncul. Karena demokrasi tidak hanya butuh yang menyeimbangkan, tapi juga yang berani menabrak arus ketika arus itu menuju jurang.

Demokrasi Pancasila, Tapi Kekuasaan Tetap Harus Diawasi

Argumen bahwa Demokrasi Pancasila tidak mengenal oposisi sebenarnya bukan barang baru. Sejak Orde Baru, frasa semacam ini kerap digunakan untuk meredam perbedaan. Padahal, esensi Pancasila justru menekankan musyawarah, keadilan, dan kedaulatan rakyat.

Dan kedaulatan rakyat mustahil hidup tanpa kritik yang tegas.

Tidak ada demokrasi sehat tanpa pihak yang secara jelas berdiri di luar kekuasaan dan berkata:

“Yang ini salah.”

“Yang itu harus dihentikan.”

“Yang ini merugikan rakyat.”

Jika semua partai berbicara tentang persatuan, kesejukan, dan stabilitas, lalu siapa yang akan menjadi suara gaduh ketika negara mulai abai?

Kerinduan pada PDIP yang Dulu

Sebagian publik mungkin sedang merindukan PDIP yang dulu

PDIP yang lantang

PDIP yang keras

PDIP yang tidak sungkan berseberangan

Bukan karena rakyat suka keributan, tapi karena kekuasaan, betapapun sahnya, tidak pernah boleh merasa terlalu nyaman.

Ketika oposisi berubah menjadi penyeimbang, ketika kritik dibungkus terlalu rapi, ketika perlawanan diganti dengan bahasa normatif, di situlah demokrasi pelan-pelan kehilangan daya gigitnya.

Penutup

PDIP tentu berhak menentukan sikap politiknya sendiri. Tapi publik juga berhak bertanya dan menilai.

Apakah perubahan istilah dari “oposisi” menjadi “penyeimbang” hanyalah soal semantik?

Ataukah ini cermin dari perubahan watak politik?

Karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan rakyat bukanlah partai yang sekadar menyejukkan suasana, tetapi partai yang berani membuat suasana panas demi kebenaran dan kepentingan publik (red).

Tags: OpiniOposisiPDI Perjuangan
ShareSendTweet
Next Post
Meru Tumpang 9 di Pura Pedharman Besakih Terbakar Tersambar Petir

Meru Tumpang 9 di Pura Pedharman Besakih Terbakar Tersambar Petir

Ketika Bali Terpilih Sebagai World’s Best Destination 2026: Kemenangan yang Tak Datang Tiba-Tiba
Opini

Ketika Bali Terpilih Sebagai World’s Best Destination 2026: Kemenangan yang Tak Datang Tiba-Tiba

by reda/cy
January 17, 2026
0

Balipustakanews.com, Denpasar - Awal Januari 2026 membawa kabar yang membuat dada saya, dan mungkin jutaan warga Indonesia lainnya, terasa hangat....

Read more
Bali Jadi Destinasi Terbaik Dunia 2026 Versi TripAdvisor
Travel

Bali Jadi Destinasi Terbaik Dunia 2026 Versi TripAdvisor

January 17, 2026
Aturan Baru Pemprov NTB: Ojol Wajib Berpelat DR dan EA
Nasional

Aturan Baru Pemprov NTB: Ojol Wajib Berpelat DR dan EA

January 16, 2026
Balipustakanews

Berita Online Bali Terkini & Terpercaya Berita Ekonomi, Bisnis, Wisata, Budaya Bali, Politik, Teknologi, Hukum, Kriminal, Pendidikan di Bali, Nasional & Dunia

Follow Us

Kategori Berita

  • Apps
  • Arak Bali
  • Automotive
  • Badung
  • Bahan Pokok
  • Bali
  • Bangli
  • Bawaslu badung
  • Bisnis
  • Buleleng
  • COK ACE
  • Covid 19
  • Denpasar
  • Edukasi
  • Ekbis
  • Fashion
  • FIFA-U20
  • Film
  • Gadget
  • Gaming
  • Gianyar
  • Gubernur Bali
  • Hari Pahlawan
  • Health
  • Health
  • Hiburan
  • Hukrim
  • I Gusti Ngurah Rai
  • Investasi dan Perekonomian Bali
  • Jakarta
  • Jembrana
  • Jepang
  • Karangasem
  • Kawasan Pura Besakih
  • KBLBB
  • KDRT
  • Kebakaran TPA
  • Kios Pedagang
  • Klungkung
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Liga Kampung
  • Mangupura
  • Margarana
  • Medan
  • Musik
  • Nasional
  • News
  • Ngayah
  • Ny putri koster
  • Opini
  • Pahlawan
  • Paritrana Award 2023
  • Pemilu
  • Pemilu 2024
  • Pemprov Bali
  • Penanganan Sampah
  • Pendidikan
  • Pengolahan Sampah
  • Perda Provinsi Bali
  • Perkemahan Pramuka
  • Perlindungan Anak
  • Pilpres 2024
  • Pj Gubernur Bali
  • Politik
  • Posyandu
  • Pramuka
  • Presiden RI
  • Program Pengelolaan sampah berbasis sumber
  • Pulau Samosir
  • Pura Agung Besakih
  • Review
  • Seksologi
  • Seni & Budaya
  • senimam
  • SP4M-LAPOR
  • Sports
  • Startup
  • Stunting
  • Tabanan
  • Teknologi
  • TP PKK
  • Travel
  • U – 20
  • UMKM
  • Warisan Leluhur
  • World
  • Zodiak

Berita Terbaru

Ketika Bali Terpilih Sebagai World’s Best Destination 2026: Kemenangan yang Tak Datang Tiba-Tiba

Ketika Bali Terpilih Sebagai World’s Best Destination 2026: Kemenangan yang Tak Datang Tiba-Tiba

January 17, 2026
Bali Jadi Destinasi Terbaik Dunia 2026 Versi TripAdvisor

Bali Jadi Destinasi Terbaik Dunia 2026 Versi TripAdvisor

January 17, 2026
Aturan Baru Pemprov NTB: Ojol Wajib Berpelat DR dan EA

Aturan Baru Pemprov NTB: Ojol Wajib Berpelat DR dan EA

January 16, 2026
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Profile
  • Pedoman Siber
  • Redaksi
  • Kontak

© 2020 Balipustakanews - Berita Bali Terkini & Terpercaya

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Bali
  • Teknologi
  • Ekbis
  • Health
  • Hiburan
  • Seni & Budaya
  • Lifestyle
  • Seksologi
  • Zodiak
  • Opini
  • Review

© 2020 Balipustakanews - Berita Bali Terkini & Terpercaya