BALIPUSTAKANEWS- Tren yang sedang dibicarakan belakangan ini adalah memiliki spirit doll atau boneka arwah. Bahkan kalangan selebriti pun banyak yang mengikuti tren tersebut. Mereka merawat dan memperlakukan boneka tersebut seperti anaknya sendiri. Mereka juga sering memamerkannya ke publik, salah satunya melalui media sosial.
Lalu apakah ada bahaya di samping tren tersebut?
Ketua Program Studi Terapan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Rose Mini Agoes Salim mengatakan dalam ilmu medis, boneka yang serupa juga sering digunakan, tetapi fungsinya hanya untuk latihan. Misalnya untuk orang hamil belajar merawat bayi, dari memakaikan popok sampai memandikannya.
Ia juga mengatakan tidak ada salahnya seseorang memainkan atau merawat spirit doll ini. Namun, ini bisa menjadi bahaya saat seseorang sudah terjerumus dalam ruang halusinasi. Artinya, orang tersebut tidak bisa membedakan antara realitas dan halusinasi.
Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Koentjoro juga mengatakan saat orang merawat boneka arwah dan bersikap seolah boneka itu adalah anaknya sendiri, itu sudah tergolong masalah. Terlebih, jika orang tersebut sampai memarahi orang lain yang menyebut boneka itu benda mati.
Perilaku seperti itu bisa dikaitkan dengan gangguan psikologis displacement, yaitu sikap atau gangguan dalam diri yang ditunjukkan melalui emosi yang disalurkan ke orang atau benda lain yang tidak akan melawan balik.
Meski begitu, psikolog klinis Nuzulia Rahma Tristinarum dari Pro Help Center mengatakan efek psikologis dari kepemilikan boneka arwah ini bisa sangat tergantung dari seberapa jauh emosi yang terikat, antara si pemilik dengan bonekanya.
Sebenarnya, apa sih yang membuat orang tertarik untuk memiliki spirit doll atau boneka arwah ini?








Discussion about this post