𝗗𝗲𝗻𝗽𝗮𝘀𝗮𝗿, 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗽𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻𝗲𝘄𝘀.𝗰𝗼𝗺 — Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa sektor pariwisata masih menjadi penopang utama perekonomian Bali. Karena itu, perkembangan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi dan pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menghadiri Temu Wirasa Stakeholders 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Jumat (23/10/2026).
“Secara umum, melihat ekonomi Bali bagus atau tidak itu sederhana, dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali, baik wisatawan asing maupun domestik, apakah naik atau turun,” ujar Koster.
Menurut beliau, pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor perekonomian masyarakat, mulai dari perhotelan, vila, restoran, transportasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga pertanian dan penyediaan bahan pangan.
Dengan karakteristik tersebut, meningkatnya kunjungan wisatawan tidak hanya menguntungkan pelaku usaha pariwisata, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat di berbagai wilayah Bali.
Koster mengungkapkan bahwa kontribusi sektor pariwisata beserta aktivitas ekonomi yang berkaitan dengannya terhadap perekonomian Bali pada 2025 mencapai sekitar 66 persen.
Besarnya kontribusi tersebut, menurut beliau, menunjukkan betapa pentingnya menjaga keberlanjutan pariwisata untuk mempertahankan stabilitas ekonomi daerah.
“Bedanya ekonomi berbasis sumber daya alam dengan ekonomi pariwisata sangat jauh. Kalau ekonomi berbasis sumber daya alam, seperti tambang, minyak, gas, dan emas, hanya terkonsentrasi di satu tempat. Namun, kalau ekonomi berbasis pariwisata, dampaknya menyebar ke seluruh kabupaten/kota di Bali,” jelasnya.
Beliau mengatakan, meskipun aktivitas pariwisata lebih banyak terkonsentrasi di Denpasar, Badung, dan Gianyar, manfaat ekonominya turut dirasakan masyarakat di kabupaten lainnya.
Hal itu terjadi karena industri pariwisata membutuhkan pasokan hasil pertanian, produk kerajinan, bahan pangan, transportasi, serta berbagai jasa pendukung dari daerah lain.
𝗞𝘂𝗻𝗷𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗪𝗶𝘀𝗮𝘁𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁, 𝗘𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗧𝘂𝗺𝗯𝘂𝗵 𝗣𝗼𝘀𝗶𝘁𝗶𝗳
Dalam kesempatan tersebut, Koster memaparkan perkembangan kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 yang menurut data beliau mencapai sekitar 7,05 juta kunjungan.
Capaian tersebut disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah pariwisata Bali, bahkan melampaui kunjungan wisatawan sebelum pandemi COVID-19 pada 2019.
Memasuki 2026, kunjungan wisatawan mancanegara sempat mengalami penurunan pada Februari hingga April akibat dinamika geopolitik global. Namun, kondisi tersebut berangsur pulih dan kembali menunjukkan perkembangan positif hingga September 2026.
Sejalan dengan perkembangan pariwisata, perekonomian Bali sepanjang 2025 tercatat tumbuh sebesar 5,82 persen.
Koster menilai capaian pertumbuhan tersebut memiliki arti penting mengingat struktur ekonomi Bali tidak bergantung pada eksploitasi sumber daya alam, melainkan pada pariwisata serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Perkembangan ekonomi Bali juga tercermin dari sejumlah indikator sosial yang dipaparkan beliau, yakni tingkat kemiskinan sebesar 3,42 persen, tingkat pengangguran terbuka 1,45 persen, serta rasio Gini sebesar 0,333.
Dengan memperhatikan perkembangan kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi masyarakat, Koster optimistis pertumbuhan ekonomi Bali pada 2026 dapat lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jadi, kalau dibandingkan pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2026 dengan tahun 2025, pasti jauh lebih bagus,” tegasnya.
Meski demikian, beliau mengingatkan adanya sejumlah tantangan, terutama penurunan kunjungan wisatawan domestik yang antara lain dipengaruhi kenaikan harga tiket pesawat.
Menurut Koster, wisatawan domestik mempunyai peranan penting dalam menjaga pergerakan industri pariwisata sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat Bali.
“Sekarang, pariwisata menjadi tumpuan ekonomi Bali. Artinya, hidup kita di Bali bergantung pada pariwisata. Kalau ini terganggu, dampaknya tidak hanya ke ekonomi, tetapi juga ke bidang sosial dan lain sebagainya,” ungkapnya.
𝗕𝗮𝗻𝗸 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗣𝗿𝗼𝘆𝗲𝗸𝘀𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗘𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗧𝘂𝗺𝗯𝘂𝗵 𝟱,𝟰–𝟱,𝟵 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗲𝗻
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menyampaikan pentingnya ketersediaan data dan informasi ekonomi yang akurat dalam mendukung penyusunan kebijakan.
Menurut Achris, informasi dari responden survei Bank Indonesia menjadi salah satu sinyal awal untuk memahami perkembangan dunia usaha, perilaku konsumen, serta pergerakan harga sebelum data makroekonomi resmi dirilis.
Informasi tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan penyusunan proyeksi pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan rekomendasi kebijakan.
Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Bali sepanjang 2026 tetap tumbuh positif pada kisaran 5,4–5,9 persen. Sementara itu, inflasi diharapkan terjaga dalam rentang sasaran 2,5 persen dengan toleransi satu poin persentase.
Temu Wirasa Stakeholders 2026 mengusung tema “Data Pramana, Bali Rahayu: Bersinergi Mendorong Pertumbuhan Bali yang Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”.
Melalui kegiatan tersebut, Bank Indonesia mendorong penguatan sinergi antara pemerintah daerah, responden survei, dan para pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas data ekonomi.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi Bali menghadapi dinamika global sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.
Editor: Anugrah Arifanto





