๐๐ฒ๐ป๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, pembangunan sektor pertanian harus berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Menurut Gubernur Koster, integrasi pertanian dan pariwisata menjadi strategi penting agar petani tidak hanya berperan menjaga bentang alam Bali, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
Hal itu disampaikan oleh Gubernur Koster saat menerima audiensi Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Kamis (2/7/2026).
โPertanian harus berjalan sejalan dengan pariwisata. Banyak fasilitas pariwisata yang mengeksploitasi keindahan kawasan pertanian,โ kata Gubernur Koster.
Ia mengatakan, kawasan pertanian di Bali selama ini bukan hanya berfungsi sebagai penyangga ketahanan pangan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata alam.
Karena itu, menurut dia, pengembangan pariwisata berbasis pertanian harus dikemas secara adil agar petani sebagai pemilik lahan ikut merasakan manfaat.
โSelain sebagai penyangga ketahanan pangan, kawasan pertanian juga menjadi objek wisata alam. Karena itu harus dikemas dengan baik agar petani memperoleh manfaat. Kalau hanya dilindungi tanpa peningkatan pendapatan petani, itu tidak adil, apalagi kebutuhan hidup terus meningkat,โ ujarnya.
Gubernur Koster menilai, petani harus ditempatkan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penjaga lanskap persawahan yang dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata.
Dalam audiensi itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, mengundang Koster untuk menjadi keynote speaker dalam Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian pada 23 Juli 2026.
Forum tersebut akan diikuti sekitar 90 dekan fakultas pertanian beserta jajaran dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Indonesia Timur. Total peserta diperkirakan mencapai sekitar 200 orang.
Sudiarta mengatakan, kegiatan itu mengangkat tema integrasi pertanian dan pariwisata berbasis budaya. Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan karakteristik Bali.
โKonsep budaya yang diintegrasikan dengan pertanian dan pariwisata seperti di Bali menjadi sangat penting. Karena itu kami berharap Bapak Gubernur berkenan menjadi keynote speaker,โ kata Sudiarta.
Menanggapi hal itu, Gubernur Koster menyebut Bali memiliki kekuatan khas yang tidak dimiliki daerah lain, yakni sistem pertanian yang menyatu dengan budaya, tradisi, upacara, dan kearifan lokal.
Ia mengatakan, praktik pertanian di Bali tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menanam, tetapi juga mengandung dimensi spiritual, sosial, dan budaya.
โDi Bali, bertani bukan sekadar menanam. Ada upacara dan upakara yang mengiringi mulai dari pembibitan, pengairan hingga panen. Semua itu menjadi satu kesatuan budaya yang hanya dimiliki Bali,โ ujarnya.
Gubernur Koster juga menyinggung konsep pertanian organik di Bali yang telah diperkuat melalui regulasi daerah. Ia menyebut konsep itu pernah dipresentasikan dalam forum internasional di London.
Menurut Gubernur Koster, kekayaan tradisi pertanian Bali perlu terus dihidupkan sebagai identitas sekaligus daya tarik Bali di tingkat dunia.
Ia meyakini Bali berpotensi menjadi rujukan internasional dalam studi kearifan lokal, terutama karena sistem pertanian Bali tidak bisa dilepaskan dari budaya dan kehidupan masyarakatnya.
โKita di Bali tidak perlu lagi mencari jati diri karena sudah memilikinya sejak dahulu. Tinggal digali dan diperkuat kembali. Saya yakin Bali akan menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal karena ilmu seperti ini hanya ada di Bali,โ kata Gubernur Koster. (AA)





