๐๐ฎ๐ฑ๐๐ป๐ด – Kelompok Nelayan Kedonganan mengundang Direktur Mahardhika Institute, I Putu Eka Mahardhika, untuk berdiskusi mengenai penguatan upaya konservasi hutan mangrove di wilayah pesisir Jimbaran, Badung. Pertemuan yang berlangsung di Eco Mangrove Ulam Sari, Kedonganan, pada Minggu (24/5/2026) siang tersebut difokuskan pada strategi pelestarian ekosistem dan pemberdayaan masyarakat adat melalui pendekatan kearifan lokal.
Dalam dialog santai tersebut, Eka Mahardhika, yang akrab disapa Jro Eka, menekankan pentingnya peran serta aktif masyarakat lokal sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian alam. Ia menyatakan bahwa kehadiran Mahardhika Institute bertujuan untuk mendampingi kelompok nelayan dalam mengelola wilayah pesisir secara berkelanjutan, tanpa menggeser posisi masyarakat adat sebagai pemilik sah dan penjaga utama wilayah tersebut.
“Visi kami adalah memastikan masyarakat adat bisa menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Bapak-bapaklah yang selama ini ngempu karang (menjaga wilayah) di sini. Kami hadir untuk berbagi pengetahuan dan mendukung upaya yang sudah berjalan,” ujar Jro Eka.
Jro Eka menjelaskan bahwa Mahardhika Institute akan berperan sebagai fasilitator dalam penyediaan sumber daya manusia dan teknis konservasi. Lembaga ini berkomitmen untuk mencetak tenaga lapangan bersertifikat dari kalangan anggota kelompok nelayan itu sendiri. Program pendampingan meliputi pelatihan teknik penanaman mangrove yang tepat, manajemen kebersihan kawasan, hingga optimalisasi potensi ekosistem yang ramah lingkungan, seperti budidaya lebah madu di area penyangga.
“Kami akan menyiapkan tutor dan berbagi ilmu. Tujuannya agar bapak-bapak sekalian memiliki kapasitas lebih dalam merawat ekosistem ini.
Sebagai Tim Kelompok Kerja Gubernur Bali di bidang penanganan kerusakan ekosistem, Eka menyatakan ini menjadi tanggung jawab moral sebagai perpanjangan tim kerja pemerintah untukย memilih pendekatan bottom-up atau dari akar rumput karena ia percaya bahwa keberhasilan konservasi sangat bergantung pada keterlibatan emosional dan fisik masyarakat setempat.
“Karena bagi saya, yang paling paham kondisi lapangan adalah bapak-bapak semua,” jelasnya.
Pertemuan ini juga menyepakati rencana tindak lanjut berupa pemetaan kondisi ekosistem secara detail. Tim ahli dari Mahardhika Institute dijadwalkan akan turun ke lapangan pada awal Juni 2026 untuk melakukan asesmen awal. Sebelum pertemuan teknis tersebut, Jro Eka mengajak seluruh anggota kelompok nelayan untuk berkumpul kembali pada bulan Juni guna membahas langkah-langkah konkret konservasi secara transparan.
Ketua Kelompok Nelayan Ersanya Gaing-Gaingan, I Nyoman Tekat, S.H., yang turut hadir menyambut baik inisiatif kolaborasi ini. Mereka menilai bahwa dukungan teknis dan pendampingan dari lembaga seperti Mahardhika Institute dapat memperkuat upaya mereka dalam menjaga keasrian mangrove Ulam Sari yang selama ini menjadi habitat penting bagi biota laut dan pelindung alami dari abrasi.
“Kami senang ada pihak yang mau mendampingi dengan tulus. Kami tidak butuh janji muluk-muluk, tapi aksi nyata untuk menjaga alam kita tetap lestari,” ujarnya.
Menutup diskusi, Jro Eka mengingatkan kembali filosofi Ngempu Bali (Merangkul Bali) yang diusung institusinya. Ia berharap kolaborasi ini dapat menjadi contoh bagaimana masyarakat adat dan lembaga pendamping dapat bekerja sama saling menjaga, tanpa dominasi satu pihak atas pihak lain.
“Mari kita rawat alam ini bersama-sama. Saya yakin, niat baik untuk memberdayakan masyarakat dan melestarikan alam akan membawa berkah (mesari) bagi kita semua,” pungkas Jro Eka. (AA)





