๐๐ฎ๐น๐ถ๐ฝ๐๐๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ฒ๐๐.๐ฐ๐ผ๐บ, ๐๐ฒ๐ป๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Bali, Ibu Putri Suastini Koster, memberikan apresiasi tinggi terhadap pementasan seni teater bertajuk Jaratkaru: Lampan lan Utang Waras Mekutang yang dibawakan oleh Komunitas Wartawan Budaya Bali (Kawiya).
Pertunjukan tersebut dipentaskan dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kota Denpasar, Senin (23/2/2026).
Menariknya, pementasan ini turut menyelipkan kritik sosial terkait persoalan banjir dan kemacetan yang tengah terjadi. Hal tersebut rupanya menyita perhatian Ibu Putri Koster.
๐๐ฟ๐ถ๐๐ถ๐ธ ๐๐ฎ๐ท๐ฎ๐บ ๐๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐ถ๐๐ถ
Ibu Putri Koster menegaskan, seniman tidak perlu takut menyuarakan kritik melalui karya pertunjukan. Ia mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi harus tetap diimbangi dengan etika kesantunan.
โJangan takut menyampaikan kritik. Mau kritik silakan, misalnya tentang kemacetan. Jabarkan saja, ributlah di atas panggung. Tapi, tetap harus mengedepankan etika,โ ucap Ibu Putri, Senin.
Sebagai istri Gubernur Bali sekaligus bagian dari lingkaran pemerintahan, Ibu Putri mengaku tidak alergi terhadap kritik. Menurutnya, parameter aktor yang baik adalah mereka yang sanggup melontarkan kritik setajam silet tanpa membuat pihak yang dikritik merasa disakiti.
โTapi tidak elok kalau anak-anak kita belajar memaki atau melakukan perundungan. Itu tidak bagus,โ ungkapnya.
๐ฃ๐๐ท๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฎ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ธ๐ป๐ถ๐
Melihat performa anak-anak muda di atas panggung, perempuan yang telah melakoni dunia seni pertunjukan sejak tahun 1978 ini merasa bangga. Ia menilai para pemain telah berhasil menerjemahkan teori seni ke dalam praktik panggung yang ciamik.
โKonsepnya bagus, anak-anak ini luar biasa. Konsepnya bisa Ibu lihat dengan jelas, dibarengi dengan kemampuan olah vokal dan olah tubuh yang bagus. Ini yang Ibu suka,โ pujinya.
Ia juga menyoroti kemudahan belajar di era kiwari. Jika dulu seniman harus bertatap muka langsung dengan guru, di era digital saat ini, media pembelajaran seni bisa diakses dari mana saja.
Meski melontarkan banyak pujian, Ibu Putri Koster tetap memberikan catatan evaluasi teknis. Ia meminta para seniman muda agar lebih jeli mengatur harmonisasi antara suara iringan gamelan dengan volume vokal para pemain di atas panggung.
Ia pun mendorong komunitas jurnalis Kawiya agar konsisten berkarya dan tidak sekadar menunggu adanya event tertentu. โIni ada panggung di Taman Budaya, koordinasikan untuk tampil. Buat program rutin,โ pesannya.
๐ง๐ฎ๐ณ๐๐ถ๐ฟ ๐ฏ๐ฎ๐ฟ๐ ๐บ๐ถ๐๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐๐ฎ๐น๐ถ
Sebagai informasi, lakon Jaratkaru diangkat dari kisah legenda yang mengakar di Bali dan Nusantara. Kisah ini menceritakan nasib arwah leluhur yang digantung di tiing petung (bambu petung) lantaran tidak memiliki keturunan.
Sutradara pertunjukan, Agus Wiratama, menjelaskan bahwa garapan teater ini tidak mengekor sepenuhnya pada teks klasik. Pihaknya menghadirkan tafsir baru terhadap mitologi Jaratkaru menggunakan pendekatan realistis khas generasi muda.
Naskah pertunjukan ini merupakan buah pemikiran kolektif yang disusun oleh Ingga Adellia (aktor), Dede Satria (aktor dan penulis), Amrita Darsanam (aktor dan sineas), Mahija Sena (penari dan koreografer), Agus Wiratama (dramaturg), serta Putu Supartika (sastrawan).
Untuk memperkuat estetika pertunjukan, karya ini juga meminjam bait-bait puisi dari dua sastrawan terkemuka, yakni Nyoman Tusthi Eddy dan IDK Raka Kusuma (red/aa).





