Balipustakanews.com, Labuan Bajo – Tiga kepala daerah dari Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama Regional di Gedung ITDC Golo Mori, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Rabu (28/1).
Pertemuan strategis ini menyepakati penguatan kawasan yang secara historis dikenal sebagai Sunda Kecil, dengan fokus pada kolaborasi ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa kerja sama ini bertujuan mengubah paradigma wilayah tersebut. Ia menekankan pentingnya ketiga provinsi untuk bergerak bersama sebagai satu kekuatan regional meski memiliki regulasi daerah yang berbeda.
“Kita sekarang berdiri dengan undang-undang masing-masing, tapi spirit historisnya tetap kita bangun. spirit regionalnya, yaitu Bali, NTB, dan NTT,” ujar Gubernur Koster dalam sambutannya.
Gubernur Koster menambahkan bahwa kolaborasi ini krusial agar kawasan tersebut memiliki daya tawar yang lebih kuat di tingkat nasional.
“Supaya kita tidak lagi disebut Sunda Kecil terus. Tapi Sunda dengan spirit besar membawa tujuan yang besar untuk negara Indonesia,” tegas Gubernur Koster.
Senada dengan hal tersebut, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyebut pertemuan di Golo Mori ini sebagai momen untuk menghidupkan kembali komitmen masa lalu. Ia mengistilahkan hubungan ketiga provinsi ini sebagai “kakak beradik”.
“Buat kita di kawasan Sunda Kecil ini, kakak beradik ini: Bali, NTB, NTT. Kemajuan NTB, NTT, dan Bali merupakan suatu kesatuan geokultural yang saling melengkapi dan saling menguatkan,” kata Melki.
𝗞𝗲𝗸𝘂𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗞𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮𝗻
Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyoroti aspek keberagaman sebagai fondasi utama kerja sama yang dinamakan KR-BNN ini. Menurutnya, perbedaan identitas justru menjadi perekat yang kuat bagi ketiga provinsi.
Iqbal menceritakan bagaimana setiap pertemuan regional ini selalu menghormati tradisi agama tuan rumah, mulai dari doa secara Hindu saat di Bali, doa secara Muslim di Lombok, hingga doa secara Katolik di Labuan Bajo.
“Hal menarik dari kerja sama KR-BNN ini adalah tentang keragaman. Kita tidak disatukan karena kita sama. Justru kita bersatu karena kita berbeda,” ujar Iqbal.
Ia meyakini adanya prinsip saling melengkapi (complementarity) di antara ketiga wilayah. Kelebihan yang dimiliki Bali, NTB, dan NTT berbeda satu sama lain, sehingga membuka peluang untuk saling mengisi kekurangan.
“Dan justru karena kita berbeda itu, maka kita punya kesempatan untuk bekerja sama dan saling mengisi kekurangan masing-masing,” pungkasnya.
Acara penandatanganan ini diharapkan menjadi tonggak baru pembangunan kawasan Indonesia bagian tengah dan timur yang lebih terintegrasi (red).





