Balipustakanews.com, Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menerima laporan mengejutkan dari pengelola Bank Sampah Sedap Malam, Desa Nyitdah, Kabupaten Tabanan. Alih-alih kewalahan, bank sampah tersebut justru melaporkan kerugian operasional akibat kekurangan pasokan sampah untuk dikelola.
Keluhan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Bank Sampah Sedap Malam, Ketut Nada, saat beraudiensi dengan Gubernur Koster di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Senin (26/1).
Ketut Nada mengungkapkan bahwa minimnya volume sampah non organik yang masuk membuat pihaknya kesulitan menutupi biaya operasional, khususnya tagihan listrik yang mencapai angka cukup tinggi.
“Saat ini sampah yang bisa diselesaikan hanya 2 ton per hari, ini jumlah yang kecil dan kami rugi bayar listrik Rp10 juta per bulan gara-gara tidak ada sampah,” ujar Ketut Nada di hadapan Gubernur Koster.
Menurut Nada, bank sampah yang mempekerjakan 20 orang tenaga kerja tersebut saat ini melayani penanganan sampah non organik di 15 desa se-Kecamatan Kediri. Ia menegaskan kepada Gubernur Koster bahwa model bisnis mereka sangat bergantung pada kuantitas residu non organik yang diterima.
“Semakin banyak kita dikasih sampah, kita semakin kaya dan bisa hidup. Jadi kami butuh sebanyak-banyaknya sampah,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa sampah non organik yang mereka kumpulkan memiliki nilai ekonomis tinggi karena diekspor ke Hong Kong. Sementara itu, untuk sampah organik, penanganannya diselesaikan langsung di sumber atau dikembalikan ke alam.
Dalam laporannya kepada Gubernur Koster, Ketut Nada juga menyebutkan bahwa inisiatif pengelolaan sampah ini bermula dari implementasi Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.
Pihak Bank Sampah Sedap Malam berharap adanya peningkatan suplai sampah non organik agar operasional pengolahan limbah tersebut dapat kembali berjalan stabil dan menguntungkan (red).





