Balipustakanews.com, Denpasar – Udara pagi di kawasan Niti Mandala Renon, Denpasar, berdenyut lebih kencang dari biasanya pada Ahad, 25 Januari 2026. Di bawah bayang-bayang kokoh Monumen Bajra Sandhi, ribuan warga yang memadati area bebas kendaraan bermotor (Car Free Day) mendapati pemandangan tak biasa.
Di tengah arus manusia yang bergerak mencari keringat, Gubernur Bali Wayan Koster tampak menyeruak, melebur dalam kerumunan tanpa sekat protokoler yang mencolok.
Mengenakan setelan olahraga santai, Gubernur Koster seolah menanggalkan jubah birokrasinya pagi itu. Ia tidak berdiri di podium, melainkan menapakkan kaki di atas aspal yang sama dengan warganya. Langkah Gubernur Koster kerap tersendat, tertahan oleh antusiasme warga yang menyadari kehadirannya.
Dari pesepeda, pelari, hingga kelompok ibu-ibu senam, silih berganti mendekat untuk sekadar bersalaman atau mengabadikan momen melalui layar ponsel.
Suasana di sekeliling Lapangan Renon terasa cair. Interaksi yang terbangun bukan selayaknya pejabat dengan rakyat, melainkan sesama pegiat hidup sehat.
Gubernur Koster tampak meladeni setiap sapaan dengan senyum, membiarkan peluhnya bercucuran sama derasnya dengan warga yang ia temui. Tidak ada agenda politik yang berat, hanya derap langkah kaki dan napas panjang di sela-sela aktivitas fisik.
Pagi itu, di jantung Kota Denpasar, batas antara pendopo kekuasaan dan ruang publik sejenak lenyap. Kehadiran Gubernur Koster di tengah masyarakat menjadi oase tersendiri, menandai sebuah pagi di mana pemimpin dan warga berbagi ruang, waktu, dan semangat yang sama sebelum matahari kian tinggi menyengat Pulau Dewata (red).





