Balipustakanews.com, Denpasar – Prosesi Nyenuk yang menjadi bagian dari rangkaian Karya Padudusan Agung Mamungkah Ngenteg Linggih Tawur Balik Sumpah Makrama di Puri Agung Jro Kuta, Denpasar, berlangsung semarak namun tetap khidmat. Upacara sakral ini terakhir kali dilaksanakan sekitar 62 tahun lalu, sehingga menjadi momen bersejarah bagi masyarakat setempat.
Ketua Panitia, I Gusti Ngurah Bagus Manu Raditya, menjelaskan bahwa prosesi Nyenuk merupakan salah satu tahapan penting dalam keseluruhan rangkaian Karya Padudusan Agung, yang akan mencapai puncaknya dalam tiga hari ke depan saat prosesi penutupan atau penyineban.
Manu menyebutkan bahwa prosesi ini melibatkan partisipasi warga dari tiga banjar, yakni Banjar Balun, Banjar Panti Gede, dan Banjar Belong Gede. Dalam tradisi Hindu Bali, Nyenuk merupakan ungkapan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan upacara besar. Wujud rasa syukur itu disampaikan melalui banten atau sesajen, hasil bumi, serta berbagai kesenian tradisional seperti tari, tembang, dan gamelan.
Ribuan warga tampak mengikuti iring-iringan sejauh 1 kilometer, membawa sesaji dari Puri Agung Jro Kuta melintasi Jalan Sutomo, Jalan Gambuh, Jalan Setiabudi, Jalan Sri Rama, lalu kembali ke puri. Peserta mengenakan busana adat Bali dengan warna berbeda merah, putih, hitam, kuning, dan loreng yang melambangkan arah mata angin dalam filosofi Hindu.
Menurut Manu, warna-warna tersebut menggambarkan para tamu dari berbagai penjuru: hitam dari utara, merah dari selatan, putih dari timur, dan kuning dari barat. “Iring-iringan ini merupakan simbol sapaan dari Sang Hyang Ida Bathara yang menyapa wilayahnya,” jelasnya.
Setibanya di puri, peserta disambut penampilan penari Dalem Sidakarya yang menjadi simbol kesucian dan keberkahan. Diiringi gamelan bernada riang, para peserta berdialog dengan penari topeng sebelum menutup prosesi dengan sembahyang bersama, sebagai ungkapan syukur atas selesainya upacara besar tersebut.
“Upacara Yadnya ini menjadi bentuk ketulusan dan rasa terima kasih kami karena seluruh rangkaian Padudusan Agung dapat berjalan lancar. Apalagi beberapa hari lalu Denpasar sempat dilanda banjir besar, sehingga kami juga melakukan upacara besar sebagai ungkapan syukur,” tutur Manu. (pr)






Discussion about this post